Cerban (1): Yudi Nurcahyadi dari Kernet Angkot Jadi Pengusaha Konstruksi

339

Saat duduk di bangku SMA kelas 3, Yudi Nurcahyadi mulai merambah aktivitas baru, menjadi kernet angkot nomor 10 Leles-Kadungora, sebuah rute di Garut. Jadi kernet Tanpa diminta atau disuruh siapa pun, tapi keinginan sendiri.

Ia anak ke-6 dari 12 bersaudara. Saat itu, pikiran remajanya mulai tergerak untuk meringankan beban orang tua dengan tak meminta uang jajan kepadanya. Jadi kernet adalah pilihan yang tepat. Lagi pula, angkot itu bukan milik siapa-siapa, melainkan ayahnya sendiri, sementara sopirnya juga kakaknya.

Namun ia membatasi diri, jadi kernet akhir pekan saja, Sabtu dan Minggu karena ada tugas pokok yang tak bisa ditawar, yaitu belajar di sekolah dan nyantri kalong di Pesantren Al-Awwabin yang diasuh KH Asep Badruzzaman.

Lagi pula upah kernet Sabtu Minggu cukup untuk uang saku seminggu. Kadang bisa mentraktir teman, sedikit jalan-jalan, dan sebagian ditabung.

“Saya pernah minder jadi kernet karena sering ketemu teman waktu di SMP atau SMA. Apalagi waktu di SMP saya masuk ke sekolah elite di Garut saat itu. Ya, pernah ada yang mengejek. Kesannya buruk jadi kernet itu. Mungkin pernah ada yang nyinyir juga di belakang. Tapi saya buang gengsi, yang nyinyir biarin saja,” katanya kantor Pimpinan Wilayah Ansor Jawa Barat, Jalan Terusan Galunggung, No 9, Kota Bandung, Senin (21/8/2023).

Selulus SMA, ia tak melanjutkan studi ke perguruan tinggi karena merasa belum waktunya. Bukan soal biaya, tapi entah kenapa dirinya merasa belum saatnya. Meski demikian, pada saatnya nanti, ia akan menempuhnya.

Ia tetap menjadi kernet. Semula tiap akhir pekan, kali ini tiap hari. Berangkat pukul 05.00 dan pulang selepas isya. Tahun kedua, tetap bergelantungan di pintu angkot sampai hafal betul belokan, bahkan gang-gang sumber penumpang. Hafal juga bangunan tiap bangunan di pinggir jalan termasuk kantor PCNU Garut. Kantor itu sering mengingatkan pada cerita ayahnya.

Sang ayah, Antara Surahdi, adalah seorang Banser yang aktif tahun 60-an sampai akhir 80-an. Tak heran ia sering bercerita mengawal kiai-kiai NU berkampanye pemilu 1971, 1977, 1982, dan seterusnya. Ia memang simpatisan kiai sedari mudanya.

“Jadi, dari kecil, sejak bisa mengingat, saya sudah mendengar Banser,” kenang pria kelahiran 1981 ini.

Berdasarkan cerita ayahnya, Yudi menyimpulkan, jadi Banser pada masa itu tidak mudah. Banser sering berhadap-hadapan dengan pihak lain, di akhir Orde Lama, dan sepanjang Orde Baru. Kalau menjelang pemilu, rumah aktivis NU, di malam hari kadang dilempari batu orang tak dikenal atau tiba-tiba ditandai cat. Mereka seperti menciptakan teror psikologis.

Namun, sang ayah tetap satu barisan dengan kiai, tak pernah incah sedikit pun. Bahkan di dalam struktur kebanseran, sang ayah pernah jadi sebagai Kepala Satuan Koordinaasi Rayon Kecamatan Banyuresmi.

Di sela ngobrolnya, ayahnya bercerita tentang Muktamar NU Cipasung. Apel Banser. Bahkan di tahun 70-an, saat ibunya hamil tua menjelang kelahiran kakaknya, sang ayah berani pergi untuk pengawalan kiai di sebuah kecamatan di Garut.

“Pernah saya bertanya kenapa jadi Banser. Jawabannya sederhana saja: Banser bentengnya ulama Ahlussunah wal Jama’ah. Ayah tidak nyantri, tapi karena bergaul dengan kiai, itu menjadi keyakinannya. Keyakinan ayah, tertanam ke saya,” tambahnya.

Ikut Jejak Ayah

Meskipun ayahnya Banser, ia tak menyuruh anak-anaknya mengikuti jejaknya. Tidak pula melarang. Di antara 11 saudaranya, hanya Yudi yang mengikuti jejaknya. Itu dimulai tahun 2000.

Ia dan kakaknya memiliki kebiasaan rehat saat waktu shalat. Berbeda dengan kakaknya yang shalat di masjid lain, Yudi di Masjid PCNU Garut. Ia tak mengenal siapa pun di situ. Namun, ia penasaran dari cerita ayahnya tentang Banser dan NU. Sering mampir, perlahan-lahan, ia memberanikan diri bertanya kepada pengurus atau petugas di PCNU. Mulai juga bertanya tentang Banser dan cara jadi anggotanya.

“Dari awal diam-diam sudah ingin bergabung Banser. Cara masuk Banser itu seperti apa. Saya sering main ke PCNU hanya sekadar shalat,” katanya.

Suatu ketika, teman ayahnya sesama Banser, Saep Budianto, memberi tahunya ada penerimaan anggota baru pada tahun 2000. Tempatnya di Pondok Pesantren Nurulhuda, Cibojong, Cisurupan, yang diasuh KH Nuh Addawami (Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat 2016-2021).

Tak dinyana pemuda NU Garut yang mendaftar Banser saat itu 500 orang. Itulah kaderisasai pertama setelah absen bertahun-tahun. Mungkin kran Reformasi yang teruka dan sosok KH Abdurrrahman Wahid (Gus Dur) yang menjadi presden, menambah semangat anak-anak muda NU itu.

“Diklatsar, sudah didambakan. Anak-anak muda NU yang ingin jadi banser sangat antusias.”

Tokoh-tokoh NU Garut seperti KH Nuh Addawami, KH Yusuf Soban, jadi pembicara pada kaderisasi itu. Calon Banser mendapat gemblengan dan wawasan baru tentang kedisiplinan hingga kepemimpinan kepemimpinan. Juga asupan spiritual dengan doa-doa.

“Dari ikut Banser itulah, saya menambah pengalaman, pergaulan; bertemu dengan banyak orang dan tokoh; nambah wawasan. Satu hal yang saya ingat, intinya jadi Banser itu jangan puas sampai di sana, justru harus mengembangkan diri, karena Banser adalah barisan serbaguna, maka harus serbibisa, serba dikerjakan, sampai akhirnya serbaguna,” jelasnya.

Serbabisa, Serbakerja, Serbaguna

Setelah jadi Banser, ia semakin sering mampir ke kantor PCNU untuk mengikuti acara-acaranya. Sementara jadi kernet juga tetap berlanjut. Tidur juga masih di kobong. Pergaulannya bertambah luas, aktivitasnya makin banyak, wawasan makin terbuka.

“Saya melaksanakan petuah ayah saya yang Banser harus serba bisa dan serba dikerjakan agar serbaguna,” katanya.

Pada 2003, ia berubah status, tak lagi sekadar kernet, tapi sopir angkot miliki ayahnya. Setahun kemudian, ia kembali mengalami perubahan status. Pertama, dia dipercaya menjadi Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Kasatkorcab) Banser Garut yang dipimpin Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Dadan Hidayatullah. Kedua, ia melepas lajangnya, menikahi gadis yang kini telah membuahkan 3 putra-putri.

Perubahan-perubahan status itu memompanya agar lebih keras lagi menjalankan prinsip kebanseran, yaitu serbabisa dan serbaguna. Pola hidup dan pikir mulai ditata kembali. Pasalnya, kini tak sekadar anggota, melainkan pemimpin Banser se-Garut. Kedua, ia kepala di keluarga. Ada yang tanggung jawab di pundaknya.

“Memang jadi sopir itu bukan aib. Tak ada profesi yang jelek. Tergantung orangnya. Tapi citra sopir terlanjur kurang baik di masyarakat. Padahal itu tidak semua sopir. Tergantung orangnya,” jelasnya.

Yudi menyadari itu. Sebagai pimpinan, citranya jangan sampai mengganggu “nama baik” Banser dan anak buahnya. Namun, ia tak bisa lain, selain untuk sementara berdamai dengan keadaan. Ia masih menjadi sopir angkot ayahnya sampai 2005.

Namun, ia berpikir jadi sopir pun harus lebih dari yang lain. Ia harus memiliki angkot sendiri dan lebih dari satu. Setidaknya ia harus berencana agar menjadi juragannya. Selain menabung, ia kemudian mulai aktif di Organisasi Angkutan Darat (Organda) Garut.

Usahanya membuahkan hasil. Pada akhir 2005 ia mampu membeli angkot. Dengan angkot milik sendiri dan mengoperasikannya secara pribadi, ia kembali bisa menabung lebih dari sebelumnya. Pada 2009 ia mampu membeli 2 angkot lagi yang beroperasi di rute yang berbeda yang dioperasikan orang lain.

Di Banser pada 2008, ia kembali dipilih sebagai Kasatkorcab di bawah pimpinan Ketua GP Ansor Aceng Amrullah. Begitu pula pada 2012 ia dipilih untuk jabatan serupa pada masa kepemimpinan Subhan Fahmi. Kemudian dipilih jadi Kepala Satuan Koordinasi Wilayah (Kasatkorwil) Banser Jawa Barat mendampingi Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haedari.

Sementara di Organda, ia yang semula hanya anggota, kemudian jadi Sekretaris DPC pada 2014-2018, kemudian merangkak jadi ketua pada 2018-2023, dan sekarang terpilih lagi memimpin sampai 2028.

berorgansiasi totalitas, dengan cara spori angkut bukan punya orang lain, kita sesuaikan megnatur waktu, mana waktu organisasi, keluarga, mencari nafkah, mereka perlu waktu dengan kita. Dari pengalaman hidup. Baca-baca buku, tokoh nasipna U, Gus DUr, dengan sgudang aktivitasnya ada wakt dengan leluraganya hanya bermain dengan anak-anaknya. Jadi kondektur juga aktif. Izin kaka kakak. Nikah dulu baru punya angkiot.

Pengusaha Konstruksi

Pada 2011, ia menjual 2 angkotnya untuk modal usaha lain, bidang konstruksi. Mulai mengerjakan projek-projok 50 juta. Sambil merintis usaha itu, ia bergabung dengan komunitasnya dengan menjadi anggota dan kemudian jadi pengurus Gabungan Pengusaha Konstruksi Seluruh Indonesia (Gapensi).

“Saya sekarang masih menekuni konstruksi dari projek kecil-kecilan. Ya sekarang sudah ada yang nilainya M dengan puluhan tukang,” katanya.

Ia mengaku, perkembangan dirinya tidak terlepas dari wasilah silaturahmi dengan para anggota Banser dan Ansor serta kiai-kiai NU dan selalu menjalin hubungan baik dengan semua orang. Pada dasarnya semua orang berkembang. Ketua-ketua PC Ansor Garut misalnya sekarang menjadi tokoh-tokoh penting di Garut dan Jawa Barat. Mereka bisa bisa diminta saran dan akses untuk pengembangan diri.

“Ini adalah suatu capaian yang sebelumnya mustahil bagi saya. Ini adalah berkah bagi saya yang tidak pernah diduga. Tapi ketika, mengabdikan diri di Banser berkahnya seperti ini. Jangan pernah puas dengan kemampuan yang ada hari ini,” katanya.

Karena itulah, atas saran dari Deni Ahmad Haedari dan motivasi istrinya, ia mengambil studi strata 1 di di Sekolah Tinggi Hukum Garut (STHG) yang diselesaikan tepat waktu 2017-2021.

Penulis: Abdullah Zuma