Best Practice Pengembangan Unit Usaha Kampus University Utara Malaysia

31

Kedah, Malaysia (20/11)– Selain sebagai pusat pengkajian dan riset keilmuan, kampus juga dituntut memiliki kemampuan mengembangkan unit usaha untuk mendukung kegiatan pendidikan dan riset. Meskipun kampus telah memperoleh uang sumbangan pendidikan dari mahasiswa seperti Uang Kuliah Tunggal (UKT), namun kebutuhan biaya untuk menjadikan kampus sebagai pusat episentrum peradaban cukup besar yang perlu di-support dari sayap bisnis kampus yang menguntungkan.

Beberapa perguruan tinggi di USA ternama misalnya, seperti Harvard University, MIT, Rochester University, Bufallo University, dan lain-lain telah memiliki sayap bisnis yang sangat mapan. Demikian juga kampus di Jepang, Korea, Australia, maupun di negara-negara Eropa. Unit komersial yang dikembangkan kampus tidak jauh dari penyediaan keperluan masyarakat kampus, khususnya mahasiswa, mulai dari kebutuhan pribadi, sembako, hingga penunjang pendidikan di kelas.

Salah satu kampus yang dapat dijadikan salah satu rujukan “best practice” di wilayah ASEAN dalam pengelolaan unit usaha adalah University Utara Malaysia (UUM), Kedah, Malaysia. Kampus yang dikenal dengan slogan “The University in a Green Forest” memiliki unit usaha kampus yang sangat beragam dan dinamis. Kampus UUM dibangun di atas tanah seluas 1.061 hektar di Sintok (distrik Kubang Pasu), sekitar 48 km di utara Alor Setar dan 10 km sebelah timur Changlun, sebuah kota kecil yang berdekatan dengan perbatasan Malaysia-Thailand.

Beragam unit bisnis yang dapat memberikan sumbangan cash flow kampus diantaranya adalah: pertama hotel dan hostel (asrama mahasiswa) di lingkungan kampus. Meskipun hotel yang dikelola selevel hotel bintang tiga, namun nampak cukup baik jika dilihat dari jumlah tamu yang menginap. Hotel ini dibangun di dalam area kampus yang fully forest (hutan), sekitar 10 menit perjalanan ke main campus, yang menjadi destinasi tamu-tamu kampus, maupun masyarakat umum.

Untuk hostel (asrama mahasiswa) berdiri cukup banyak di beberapa bagian. Rerata bangunan hingga berlantai empat, dengan setiap kamar menyediakan dua bed tidur, ruang tamu, dan dapur. Hostel cukup layak untuk tinggal mahasiswa dengan berbayar yang cukup terjangkau. Selain antara hostel dengan kolej (fakultas) lumayan berjarak, namun dihubungkan dengan bus-bus internal kampus yang siap melayani masyarakat kampus sejak pagi hingga jam 24.00 setiap hari.

Ada satu pusat bisnis kampus UUM yang cukup menyita perhatian, yaitu adanya pusat layanan bisnis terpadu yang berdiri di area kampus. Masyarakat kampus dengan mudah menjangkau menuju mall untuk berbagai kepentingan, mulai belanja kebutuhan sehari-hari, pusat oleh-oleh khas tempatan (lokal), hingga keperluan pendidikan.

Mall terpadu tersebut diberi nama Varsity Mall. Laiknya mall di kota sebagai pusat perdangangan, di dalam Varsity mall terdapat toko-toko yang menjual berbagai macam, seperti kedai-kedai kopi, resto, penjual komputer dan alat elektronik, pakaian, digital printing, mini market, souvenir, hinggal kafe-kafe yang dapat dijadikan tempat-tempat nongkrong mahasiswa. Satu usaha yang menyediakan keperluan mahasiswa yang tinggal di asrama adalah pusat laundry publik, dimana setiap orang dapat mencuci baju secara mandiri dengan sejumlah ringgit yang relatif terjangkau.

Selain pengembangan bisnis Mall, UUM juga menyiapkan pusat-pusat kebugaran, tempat olah raga seperti lapangan golf, futsal, sepak bola, basket, stadion dan lain-lain. Pada setiap asrama yang ditempati mahasiswa asing maupun mahasiswa tempatan (asli Malaysia) yang datang dari jauh terdapat kantin yang bisa diakses oleh siapapun. Dari sisi fasilitas kampus, UUM termasuk yang cukup peduli akan kesejahteraan mahasiswa dan warga kampus lainnya.

Apa yang telah dilakukan oleh UUM dalam pengembangan unit bisnis kampus bisa dicontoh oleh kampus PTKIN, khususnya yang telah menjadi BLU. Selama ini, PTKIN dinilai belum optimal mengembangkan pusat layanan bisnis sebagai pendukung pembiayaan pendidikan, sehingga kampus lebih mandiri dari sisi keuangan yang akan berdampak pada kualitas kampus dan kesejahteraan warganya dengan tidak bergantung pada UKT. Satu peluang besar yang harus menjadi sumber kekuatan PTKIN adalah besarnya jumlah mahasiswa yang bisa menjadi pasar bisnis yang menjanjikan.

Dalam teori ekonomi, bahwa jumlah warga kampus yang besar merupakan kekuatan ekonomi yang dapat mempengaruhi tingkat harga dalam suatu aktifitas bisnis tanpa banyak pengaruh dari luar. Kekuatan pasar yang besar juga akan mampu menimbulkan ketergantugan konsumen terhadap permintaan produk yang tersedia. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah PTKIN bisa memanfaatkan peluang tersebut secara optimal? Semua terpulang kepada pimpinan masing-masing. []

Kontributor: Thobib Al Asyhar