Ketika Pemuda Cikuya Berbaris Menghormati Pahlawan NU

143

Pengasuh Pondok Pesantren Wasilatul Huda Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Agus Syarif Hidayatullah mengenang sosok KH Imron Rosyadi, bagi anak-anak muda Cikuya, sebagai pahlawan NU.

“Beliau adalah adalah orang yang fenomenal di zamannya,” katanya saat berpidato di pada ziarah tabaruk Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat di Pondok Pesantren Wasilatul Huda, Jumat, (11/8/2023) lalu.

Ia kemudian mengungkapkan ingatan masa remajanya. Pada tahun 90-an, menurut kakaknya, setiap malam 17 Agustus, pemuda-pemuda di Cikuya dibariskan untuk menghormati pahlawan.

“Dan yang dihormati itu pahlawan mana?” tanyanya, “Pahlawan NU, siapa dia,”tanyanya.

Ia kemudian menjawabnya sendiri, yang dimaksud pahlawan NU yang dihormati pemuda-pemuda Cikuya itu adalah KH Imron Rosyadi, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor ketiga, masa khidmah 1954-1963; yang dimakamkan di Cicalengka.

“Ziarah ini, bagi kami diingatkan kembali tentang peristiwa masa kecil,” tambahnya.

Ia menambahkan, KH Imron Rosyadi harus menjadi inspirasi kader-kader Ansor hari ini yang berperan tidak hanya untuk Ansor, NU, tapi juga bangsa Indonesia.

Kiai Imron itu, lanjutnya, pernah jadi duta besar, sehingga pergaulannya dengan tokoh-tokoh penting Indonesia dan dunia. Kalau dilihat album fotonya, ia pernah bersama Soekarno, Raja Faishal (Arab Saudi), Jawaharlal Nehru (India), dan tokoh-tokoh lain.

“Kolot urang leuwih hebat. Ini harus menjadi inspirasi. Kalau PMII memiliki tokoh seperti Mahbub Djunaidi, sahabat Ansor memiliki KH Imron Rosyadi,” pesannya.

Pada akhir pidatonya, ia merasa terhormat Pondok Pesantren Wasilatul Huda menjadi tempat haul KH Imron Rosyadi.

Untuk diketahui, KH Imron Rosyadi adalah satu-satunya pemuda dari Jawa Barat yang pernah menjadi orang pertama organisi pemuda NU atau Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, yaitu pada periode 1954-1963.

KH Imron Rosyadi lahir di Indramayu pada 12 Januari 1916, wafat di Bandung 1993 dan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Soemadilaga ci Cicalengka. Pada masa mudanya, saat Ansor tengah dirintis dan ditumbuhkembangkan di daerah-daerah Jawa Barat, ia tidak berada di kampung halamannya. Waktunya habis menimba ilmu di berbagai tempat di dalam dan luar negeri.

Saat di Tanah Air, pendidikan formalnya di HIS diselesaikan di Indramayu lulus 1929. Lalu menyelesaikan MULO di Bandung dan Cirebon lulus 1934. Kemudian pendidikan keagamaannya ditempuh di Pondok Pesantren Jamsaren Solo pada 1935, Madrasah Rabithah Alawiyah Solo, dan di Madrasah Unwanul Falah Kwitang, Jakarta pada 1936.

Masih berdasarkan LAPUNU, ia kemudian menimba ilmu di 3 negara. Pertama, di Pondok Langgar, Alor Star Kedah, Malaysia pada 1937. Kedua, di Madrasah Saulatiyah Makkah, Arab Saudi pada 1939. Ketiga, di Public Secondary School Baghdad, Iraq 1942. Di kota dan negara ini pula, ia menempuh pendidikan di Law College pada 1948.

Setelah masa kemerdekaan Indonesia, dia menjadi diplomat Republik Indonesia di Irak (1947-1950) dan Arab Saudi (1950-1952). Sekembalinya bertugas di luar negeri, ia melakukan persamaan ijazah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 1953 dan mendapatkan gelar Mr atau setara dengan SH. Pada masa-masa inilah, ia memulai aktif di Nahdlatul Ulama. Setahun kemudian ia menjadi Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.

Selagi masih ketua umum organisasi pemuda NU tersebut, ia termasuk dalam jajaran pengurus PBNU. Pada 1956-1959 sebagai Ketua II PBNU dan menjadi anggota DPR RI dari Partai NU tahun 1959. Ia kemudian menjadi Ketua IV PBNU hasil muktamar NU di Bandung tahun 1967. Kemudian Rais Syuriyah PBNU hingga wafatnya menjadi salah seorang Mustasyar PBNU.

Penulis: Abdullah Alawi