“Yaumul Ijtima’ Media Penguatan ke-NU an di Era New Normal”

78

“Yaumul Ijtima’ Media Penguatan ke-NU an di Era New Normal”

Beberapa program keummatan yang diselenggarakan pada semester pertama tahun 2020 oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kab. Kuningan ini bisa dibilang padat, bagaimana tidak di masa-masa pandemic covid-19 yang menyerang hampir seluruh negara di dunia termasuk Indonesia, NU tetap eksis dalam rangka menggulirkan program-program keummatan yang sudah barang tentu dalam menjalankan program tersebut tetap berlandaskan pada aturan pemerintah dan protocol/SOP pencegahan covid -19 seperti yang telah dilakukan PCNU pada bulan Ramadhan diantaranya melakukan upaya sosialisasi pencegahan covid-19 bersama LKNU terhadap pesantren dan majelis taklim, juga sebagai bentuk kepedulian NU terhadap Ustadz dan guru ngaji terdampak PCNU membagikan 5.000 paket sembako, pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kapasitas pendidikan di lingkungan PCNU Kab. Kuningan serta masih banyak lagi program keummatan lainnya. Diantara program unggulan PCNU Kab. Kuningan Masa Khidmat 2017-2022 ini adalah membangkitkan ghiroh dan harokah ke-NU-an jama’ah dan jam’iyyah melalui Program Yaumul Ijtima’ (Hari Perkumpulan), seperti yang telah dilakukan di wilayah timur Kuningan, wilayah utara, kota dan selatan, kali ini Yaumul Ijtima’ dilaksanakan di wilayah 3 yang meliputi Kec. Ciawigebang, Cidahu, Kalimanggis, Maleber, Cipicung dan Lebakwangi bertempat di Pondok Pesantren Annur Desa Dukuh Dalem Kec. Ciawigebang pada hari Sabtu (18/07/2020).

Kegiatan dihadiri oleh PCNU Kab. Kuningan, Muspika, MUI, Badan Otonom NU, MWC, Ranting NU se-Dapil 3 yang meliputi Kec. Ciawigebang, Cidahu, Kalimanggis, Maleber, Cipicung dan Lebakwangi.

Sebelumnya Yaumul Ijtima’ diadakan di wilayah 5 meliputi Kecamatan Darma, Kadugede, Nusaherang, Salajambe, Cilebak dan Subang. “ Wilayah I, Wilayah II dan wilayah IV, sudah barang tentu yang banyak permasalahan sosial kemasyarakatan yang harus dijawab oleh kader NU, Yaumul Ijtima’ merupakan wadah sekaligus sebagai media komunikasi tingkat cabang sampai ranting terutama penguatan Ke-aswaja-an dan Ke- NU-an. NU sebagai Ormas Keagamaan terbesar di Indonesia NU harus menjadi solusi atas setiap masalah, disamping itu kita sebagai warga Nahdliyyin harus mampu berjam’iyyah bukan hanya berjama’ah, mampu berbaris dalam satu komando” Ucap KH. Aminudin. SHI. MA yang juga menjabat Kepala Penyelenggara Syariah Kementrian Agama Kab. Kuningan.

Disamping itu Rois Syuriah PCNU Kab. Kuningan yang dikenal dengan sebutan Uwa Kyai Ubaidillah memaparkan dalam tausiyah dan amanahnya beliau mengamanatkan bahwa sebagai warga nahdlyyin harus mampu merangkul masyarakat dengan tutur kata yang sidik, dengan pemikiran yang fatonah, dengan sikap yang tablig, NU harus hadir dalam setiap masalah yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Ketua PCNU yang akrab dipanggil Abah Aam menjelaskan dalam sambutannya bahwa belum 100 persen menjadi NU kalau amaliah, fikroh, harokah dan ukhuwahnya tidak Annahdliyyah, sehingga beliau memberikan penjelasan bahwa ketika amaliahnya sudah nahdliyyah itu baru 25% saja, maka harus juga dibarengi dengan, fikroh Nahdliyyah yang konsep tasammuiyahh (toleran), tawassuthiyah (moderat), Thtatawuriyyah (Dinamis), Manhajiyyah (Referensi) dan islahiyyah (Perbaikan). Itupun baru 50%, maka untuk 100% Nu harus dilengkapi dengan Harokah dan Ukhuwah pergaulan antar bangsa pergaulan antar sesame manusia.