Teladan dari Abah Mustahdi Winong, Kiai Alim yang Sangat Rendah Hati

Almarhum KH Mustahdi Hasbulloh atau yang biasa disapa Abah Mustahdi adalah salah satu Ulama kharismatik di Cirebon pada era 90-an. Beliau bukan hanya dikenal oleh masyarakat Cirebon saja, juga dikenal luas oleh masyarakat Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.

Sehingga tidak sedikit orang tua dari daerah tersebut yang menitipkan anaknya untuk belajar ngaji di pesantren yang beliau asuh.

Disamping beliau sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tahshinul Akhlaq Winong Gempol Cirebon, beliau juga terkenal oleh masyarakat luas karena kealiman dan akhlaqnya yang terpuji, sekalipun dengan santri beliau sendiri yang masih kecil beliau akan berbicara dengan bahasa kromo halus.

Salah satu bukti kealiman Abah Mustahdi, yakni pernah diceritakan oleh orang tua kami Alm. Abah Afandi Abdul Mu’in Kedungwungu Krangkeng Indramayu.

Ketika Abah Afandi menemukan permasalahan hukum agama (musykil) yang tidak mengerti jawabannya dan atau ketika Abah Afandi membaca sebuah kitab tidak faham dengan sebuah keterangan yang ada di dalamnya tidak sungkan-sungkan Abah afandi membawanya langsung kitab tersebut dihadapan Abah Mustahdi untuk minta keterangan dan pemahaman, untuk kemudian dijelaskan oleh Abah Mustahdi maksud dan tujuan isi dari kandungan kitab tersebut dengan sangat terang dan gamblang dengan keterangan yang sangat luas sekali dengan referensi dari berbagai kitab.

Walapupun Abah Mustahdi termasuk salah satu kiai besar di Wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan), beliau tidak pernah membedakan setiap tamu yang sowan (bertamu). Pejabat atau orang biasa ketika datang sowan ke beliau akan mendapat penghormatan yang sama.

Beliau tidak pernah membeda-bedakan setiap tamu yang datang, bahkan tidak jarang untuk urusan hidangan tamu seperti minum, jajanan beliau sendiri yang menghidangkan. Ini adalah sebuah akhlaq yang terpuji yang patut tiru dan diteladani.

Meski beliau tinggal di lingkungan pesantren Tahshinul Akhlaq, namun Abah Mustahdi sangat dekat sekali dengan masyarakat desa Winong dan sekitarnya, dan keikhlasan Abah Mustahdi dalam ngurusi masyarakat sunguh sangat luar biasa, terbukti ketika beliau diundang untuk jadi Imam Tahlil, atau aqdun nikah atau acar lainya oleh masyarakat umum yang ada di wilayah Cirebon dan sekitarnya khususnya para alumni yang pernah mesantren di Pondok Pesantren tahshinul Akhlaq Winong selagi tidak ada udzur Syar’i beliau selalu hadir untuk memenuhi undangan tersebut, sekalipun beliau harus naik kendaraan umum. Hal ini sering diceritakan oleh para santri senior kala itu.

Sifat Tawadlu (rendah hati) Abah Mustahdi sungguh sangat luar biasa sekali, pernah suatu ketika Abah Mustahdi diundang oleh Masyarakat sekitar desa Winong untuk sholat Janazah. Ketika prosesi sholat janazah akan dilaksanakan pihak keluarga/ahli waris sebagai bentuk penghormatan kepada Abah Mustahdi sekaligus untuk memimpin do’a.

Pihak keluarga menyuruh kepada kiai desa setempat (kiai kampung) agar meminta kepada Abah Mustahdi untuk bertindak sebagai Imam Sholat Janazah. Namun apa yang terjadi? Abah Mustahdi menolaknya dengan bahasa yang cukup halus, “Panjenengan saja yang jadi imam shalat jenazah, sebab panjenengan lebih dekat dengan almarhum”.

Begitulah ketawadluan Abah Mustahdi, padahal secara usia ataupun ilmu (maaf bukan maksud membanding-bandingka) Abah Mustahdi lebih sepuh dan lebih segalanya dibanding Kiai kampung tersebut, tetapi Abah Mustahdi dengan Tawadlunya menolak untuk menjadi Imam Sholat Janazah, dan dengan Ikhlas tanpa ada rasa gengsi sedikitpun menjadi makmum kiai kampung tersebut.

Dari kejadian ini ada sebuah pelajaran yang sangat berharga bahwa Abah Mustahdi sedang mendidik santri-santrinya yang saat itu ikut serta sholat janazah, agar bisa menghargai orang yang dituakan disekitar lingkungan kita, walaupun derajat kita jauh lebih tinggi dibanding mereka. Karena akhlaq lebih utama dari pada ilmu.

Semoga kita semua dapat meneladai Abah Mustahdi. Untuk Abah Mustahdi, Al-Fatihah.

H. Abdul Rofi’ Afandi, Alumni Pondok Pesantren Tahshinul Akhlaq Winong Gempol Cirebon 1991