Peringatan Hari Santri Nasional Bukan Hanya Sebatas Ceremony, Namun Bukti keseriusan Santri Dalam Membangun Negeri.

63

Ahmad Banna
(Ketua PC GP Ansor Kota Cirebon/ Ketua Pelaksana Panitia Hari santri Nasional PCNU Kota Cirebon 2019).

Kehadiran istilah santri sebetulnya lahir sejak zaman wali songo, tepatnya budaya yang awalnya ditancapkan oleh sunan kudus; dimana beliau sebagai publik figur ketika itu, Tokoh yg sangat mumpuni dari aspek intelektual dan spiritual memberikan kontribusi terhadap masyarakat sekitar dengan cara berdakwah dengan memunculkan budaya baru di tengah masyarakat. Dimana Masyarakat ketika pagi dipersilahkan untuk pergi berladang, berdagang, menjadi nelayan dsb ; dan pada malam hari membedah kitab2 klasik, memberikan pemahaman keagamaan kepada masyarakat secara mendalam.

Dari situlah perkembangan tradisi semacam ini lalu munculah istilah pesantren, yakni budaya pagi mencari nafkah malam mengaji. Budaya ini tertancap sangat dalam dilapisan masyarakat ketika itu, dan dan pada akhirnya berkembang pesat ditengah2 masyarakat. Budaya ini berkembang serius seiring dengan zaman yang terus berkembang.

Diera penjajah misalnya; santri bukan hanya sebatas orang yang ta’dzim, ta’lim, khidmah, kepada para kyai semata, namun dibalik kesibukan nya sebagai santri untuk menimba ilmu, masih tetap memikirkan negara yg sedang dijajah oleh penjajah belanda. Mereka berpikir bagaimana mengatur strategi peperangan melawan penjajah. Dan pada puncaknya kebangkitan kyai dan santrinya dikumandangkan oleh Mbah Hasyim Asy’ari sebagai Roisul Akbar PBNU yang terkenal dengan Resolusi Jihad.

Dizaman mileneal sekarang inipun peran para santri dengan ciri khas tradisi yg kental dan tidak pernah lepas dari dalam dirinya, melekat kuat dalam kecintaan didalam imannya kepada negeri senantiasa memberikan kontribusi yg sangat signifikan untuk negeri. Maka pantaslah jika hari santri ditetapkan secara khusus oleh Pemerintah sebagai hari nasional yg memiliki nilai sejarah panjang dan kiprah santri yg jelas dalam catatan sejarah.

Sejarah semacam ini harus sering dibumikan ditengah masyarakat agar mereka memahami tentang santri. Karena tidak sedikit dari pemahaman masyarakat ketika ada orang yang akan mesantren (menggali ilmu di Pesantren), maka ada ketakutan bahwa setelah lulus dari pesantrennya itu seorang santri tidak ada kejelasan dalam urusan keahlian, kemampuan, life skill, kelayakan pekerjaan dan pada akhirnya tidak mempunyai kejelasan dalam memandang masa depan. Pemahaman semacam ini sudah salah kaprah. Maka masyarakat harus bisa membuka mata bahwa dengan mesantren, maka seseorang akan dididik secara intensif dalam pengawasan kyai dan didoakan secara istiqomah oleh kyainya, dan juga diberikan bekal pembelajaran yg kaitanya dengan life skill ; Mereka diajarkan bagaimana mengoperasikan komputer, bermain internet, keterampilan berbahasa asing dunia (selain bahasa arab), menjahit, dan lain sebagainya. Walaupun memang perhatian pemerintah terhadap pesantren dibandingkan perhatian pemerintah terhadap sekolah umum belum seimbang.

Karena sekolah umum diberikan fasilitas yg memadai oleh pemerintah berupa bantuan operasional sekolah (BOS), sedangkan pesantren berdiri tegak dengan hasil jerih payah para kyai dan keseriusan Para wali santri untuk memondokan anaknya. Padahal merekapun memiliki peran yg tidak kalah besar dengan output yang dihasilkan dari pada sekolah umum. Untuk itu dalam moment yang indah ini, yakni peringatan hari santri nasional, dan hampir semua orang membicarakan hari santri nasional ini, maka dengan semangat ini, mari kita bahu membahu, saling bergandengan tangan, bekerjasama, bekerja keras, bagaimana mewujudkan dan memposisikan santri sebagaimana seharusnya, memberikan perhatian yang serius dalam mengembangkan kwalitas santri, pemerintah menyamakan memberlakukan santri sebagaimana perhatianya kepada sekolah umum sebagai generasi yang sama memiliki hak dan dilindungi oleh undang undang dalam melaksanakan tugas untuk menimba ilmu dan mengabdi pada negeri.

#SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL 2019.