Meriahkan HSN, 200an Kyai Bandung Barat Ikuti Literasi Kitab Kuning

19

Bandung Barat, Sekitar 200-an kyai se Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengikuti kegiatan Literasi Kitab Kuning yang diadakan oleh Kementerian Agama bekerjasama dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) KBB, Sabtu (19/10/2019). Acara yang merupakan rangkaian Hari Santri Nasional 2019 bertempat di Pondok Pesantren Darul Falah, Cihampelas, KBB.

Koordinator acara Kyai Tahqiq Fathoni mengatakan acara ini dikemas dalam bentuk bahtsul masail dengan mengambil beberapa tema aktual yang berkembang di masayarakat saat ini yaitu Hukum ummat Islam masuk tempat ibadah agama lain dan hukum jual beli on line beserta problematikanya.

“Harapannya dengan kegiatan ini masyarakat mendapatkan pegangan hukum berdasarkan dalil-dalil yang ada pada sumber-sumber hukum yang valid dan juga rumusan para ulama sebagaimana termaktub dalam kitab kuning. Dan tema yang cukup aktual dimasyarakat saat ini salahsatunya soal hukum masuk tempat ibadah agama lain dan jual beli on line”, kata Kyai Tahqiq Fathoni yang juga pengasuh Pesantren Faozan Cipongkor ini.

Ketua PCNU KBB H. Agus Mulyadi menyampaikan sejumlah rangkaian kegiatan HSN 2019 tingkat Kabupaten Bandung Barat antara lain ruqyah massal, literasi kitab kuning, lomba hadroh, peresmian tugu santri, khitanan massal dan terakhir ditutup dengan Halaqoh membedah undang-undang pesantren.

Sementara itu, Kepala Seksi Pakis Kemenag KBB dalam Drs. H. Nur Mauludin, M.Pd dalam sambutannya mengatakan bagi kalangan Pesantren literasi bukanlah hal yang baru. Ia berharap, tradisi ini tetap dipertahankan di era digital saat ini. Dan pemerintah melalui Kementerian Agama memberikan perhatian serius dalam hal literasi kitab kuning.

“Budaya literasi khususnya literasi kitab kuning bagi santri dari zaman dulu hingga sekarang masih tetap menjadi kegiatan utama. Karena itu sesuatu hal yang penting, terlebih pada era digital seperti sekarang ini. Orang cenderung lebih suka browsing membuka google dan hanya mengambil potongan-potongan tulisan, sehingga memiliki pemahaman yang cenderung tidak utuh. Disamping itu juga tidak jelas siapa penulisnya”, ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah K.H. Asep Burhanudin yang akrab dipanggil Aa Darul Falah berharap kegiatan kerjasama antara Pemerintah Daerah, Kemenag dan Ormas Islam khususnya NU dapat sesering mungkin dilaksanakan.

“Selain untuk memperkuat hubungan ulama dan umaro, kegiatan ini dapat lebih memperkaya khazanah keilmuan para ajengan dan kyai melalui kajian pendalaman karya para ulama atas masalah-masalah yang dihadapi oleh ummat dan masyarakat pada umumnya,”

Turut hadir dalam acara tersebut Rois Syuriah PCNU KBB K.H. Aa Maulana, Ketua Tanfidziyah PCNU Drs. H. Agus Mulyadi, M.Si, dan Anggota DPRD Jawa Barat Edi Rusyandi.

Sementara itu Edi Rusyandi mendorong agar PCNU KBB juga menggali naskah-naskah atau kitab yang dikarang oleh para Ulama Bandung Barat.

“Naskah dan kitab ini menjadi jembatan pengetahuan para kyai dan para santri masa kini dengan generasi ulama sebelumnya. Tidak sedikit dari para ulama terdahulu di Bandung Barat menelorkan karya-karya diberbagai disiplin keilmuan pesantren,” ujar Edi. (Asep Saepulloh)