Kyai Mahbub Djunaidi, Sang Pendekar Pena

437

Oleh Agus Fauzi

Sosok satu ini bisa dibilang ‘langka’. Kemampuan menulisnya berbeda dari rata-rata intelektual publik pada umumnya. Dengan gayanya khasnya yang jenaka, ia cekatan dalam memaparkan persoalan berat menjadi lelucon renyah yang bisa dikonsumsi siapapun. Gaya tulisannya satire, penuh sarkas, membuat pembacanya tertawa terpingkal-pingkal. Padahal, bisa jadi yang membaca adalah sasaran kritiknya. Siapakah ia?

Ia adalah Mahbub Djunaidi, kolumnis yang sanggup menyajikan tulisan ‘pedas’ menjadi lelucon. Kapasitas intelektual dan selera humornya tinggi. Pantas saja ia selalu mampu meramu tulisan berbobot melalui bahasa yang komunikatif. Sindirannya halus. Tidak blak-blakan. Tidak main hantam begitu saja.

Mahbub Djunaidi. Ia lahir pada 1933. Pria Betawi ini lahir dan besar di Jakarta. Namun ia memilih Bandung sebagai tempat untuk menikmati hari tuanya. Pria Betawi itu tinggal dan meninggal di Bandung Jawa barat di kompleks perumahan wartawan. Kita ketahui bahwa Ia salah satu aktifis senior jawa Barat

Mahbub dikenal sebagai wartawan-sastrawan, agamawan, organisatoris, kolumnis, politikus, serta predikat baik lainnya yang disemangatkan di pundaknya. Ini bukan predikat main-main, karena ia memang seorang yang memiliki talenta luar biasa. Kritik-kritik sosial dalam tulisannya begitu tajam, begitu dalam.

Tentu saja dengan ciri khas yang dimilikinya: satire dan humoris. Karena kepiawaiannya dalam menulis, Mahbub Djunaidi dijuluki sebagai Pendekar Pena,

Riwayat pendidikan

Mahbub Djunaidi lahir pada 27 Juli 1933 di Jakarta. Ia merupakan anak dari seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan anggota DPR bernama H. Djunaidi.

Lahir sebagai anak pertama dari 13 bersaudara, sedari kecil ia sudah dibawa oleh keluarganya pindah ke Solo karena kondisi di Jakarta saat itu yang sedang bergejolak.

Selama di Solo, Mahbub Djunaidi sekolah di Madrasah Mambaul Ulum, di mana ia mulai mengenal beragam karya sastra, baik dari dalam maupun luar negeri.

Setelah kondisi di Jakarta lebih kondusif, Mahbub kembali dan berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), tetapi tidak selesai.

Kendati begitu, waktu singkat yang dihabiskan di UI cukup membuatnya tertarik di bidang politik dan keorganisasian.

Saat usianya 19 tahun, Mahbub Djunaidi dipercaya sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) dan anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama.

Kiprah politik

Selama kuliah, Mahbub Djunaidi semakin aktif dalam kegiatan organisasi. Pada 1960, ia terpilih sebagai ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Selama menjadi ketua umum PMII, ia berusaha menjadikan organisasinya wadah bagi pembentukan kader, sebagaimana diamanatkan dalam Musyawarah NU seluruh Indonesia.

Setelah aktif sebagai ketua Umum PMII, Mahbub diminta membantu pengembangan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Ia sempat duduk sebagai seorang ketua pucuk pimpinan organisasi kader NU untuk kalangan pemuda itu. Dan untuk organisasi ini pula Mahbub menulis lirik lagu marsnya yang tetap digunakan hingga sekarang.

Di dalam organisasi NU sendiri, Mahbub pernah duduk sebagai salah seorang wakil ketua PBNU. Ia juga pernah mewakili NU menjadi anggota DPR-GR/MPRS.

Karya-karya

Inilah sedikit dari banyaknya karya-karya H. Mahbub Djunaidi:

  1. Dari Hari Ke Hari (1975)
  2. Lakulah Sebuah Hotel (1978)
  3. Politik Tingkat Tinggi Kampus (1978)
  4. Di Kaki Langit Gunung Sinai (karya Mohamed Heikal, 1979)
  5. Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah (karya Michael H. Hart, 1982)
  6. Binatangisme (karya George Orwell, 1983)
  7. Cakar-Cakar Irving (karya Art Buchwald, 1982)
  8. Lawrence dari Arabia (karya Philiph Knightly, 1982)
  9. Hari Berkeliling Dunia (karya Jules Verne, 1983)
  10. Angin Musim (1985)
  11. Kolom Demi Kolom (1986)
  12. Humor Jurnalistik (1986)
  13. Mahbub Djunaidi Asal Usul (1996) Wafat

H. Mahbub Djunaidi pada tanggal 1 Oktober 1995 di Bandung dan dimakamkan di Jalan Soekarno – Hatta Gang Assalam No.41, Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jawa