Resensi Buku Sejarah Pergerakan Nasional

70

Karya Wahyu Iryana Oleh: M. Ghaizaa (Ketua Umum Fosil Lampung)

Wahyu Iryana Yang saya tahu merupakan Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Intan Lampung. Ia sudah banyak menulis buku-buku sejarah yang feneomenal nah Buku Sejarah Pergerakan Nasional yang diramu dengan apik untuk memaknai setiap hela nafas gerakan kehidupan berbangsa di Indonesia serta mencoba memaknai dan menangkap setiap peristiwa sejarah yang terjadi di setiap jiwa jaman (Zeatgest) adalah upaya melawan lupa bahwa kaum santri telah memberi kontribusi untuk lahirnya NKRI. Tugas berat para sejarawan adalah merokstuksi peristiwa historis dengan tulisan, persis pernyaaan Pramudya Ananta Toer yang mengatakan Orang Boleh Pintar Setinggi Langit, Tapi kalau dia tidak menulis dia akan dilupakan sejarah. Menulis adalah Bekerja untuk Keabadian.Tidak banyak memeng seorang santri yang menulis tentang perjuangan kaum sarungan. Namun pengecualian untuk saudara Wahyu Iryana, beliau sadar akan jati dirinya sebagai seorang santri dia tidak lupa terhadap marwah pesantren dan nubuah doa doa para ulama di Nusantara. Kita semua tahu bahwa Jangan sekali kali melupakan Jasa Ulama (Jas Hijau). Inilah bagi penulis yang membekas sekali dalam catatan buku Sejarah Pergerakan Nasional yang ditulis Wahyu Iryana. Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagun atas dasar semangat cinta tanah air. Seluruh elemen masyarakt telah berkontribusi tegak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indoneisa. Sudah menjadi mafhum bahwa perjuangan seluruh anak bangsa dalam mempertahankan setiap jengkal tanah pertiwi adalah suatu keharusan. Tidak sedikit di negeri ini banyak orang yang mengetahui sejarah bangsa-bangsa Eropa atau Timur Tengah, namun tidak begitu dengan sejarah bangsanya. Buku Sejarah Pergerakan Nasional yang diramu dengan apik untuk memaknai setiap hela nafas gerakan kehidupan berbangsa di Indonesia serta mencoba memaknai dan menangkap setiap peristiwa sejarah yang terjadi di setiap jiwa jaman (Zeatgest).
Perlu diingat bahwa setiap jaring-jaring intelektual berkaitan erat dengan tiga jenis siklus kegiatan yaitu membaca, menulis, dan diskusi. Ketiga siklus kegiatan tersebut menjadi jalan bagi siapapun yang ingin mendapatkan ilmu pengetahuan, mengembangkan pengetahuan tersebut, dan menganalisisnya. Kegiatan membaca adalah kegiatan mencari teori-teori baru dalam pengetahuan. Ketika teori-teori pengetahuan sudah diketahui maka perlu dideskripsikan dan dianalisis dengan berdiskusi, dan hasil dari diskusi itulah yang harus kita tulis untuk kita kembangkan lebih lanjut mengenai teori pengetahuan itu sendiri. Ketiga proses itupun saya kira yang pernah dilakukan oleh pendiri bangsa, HOS Cokroaminoto, Dr. Cipto Mangunkusumo, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari, Soekarno, Muammad Hatta, AA Maramis, KH.Wahid Hasyim, Kasman Singodimejo, Sutomo dan yang lainnya.
Jika kita melihat proses panjang bangsa-bangsa Eropa untuk membangkitkan kembali ilmu pengetahuan dan kiblat peradaban dunia ditandai dengan aufklarung dan Rainansance, kita akan menemukan bahwa kegiatan kaum intelektual Barat tidak bisa lepas dari ketiga hal di atas. Mereka dengan sangat serius mempelajari literatur-literatur yang telah ditulis oleh para filsuf muslim, selanjutnya mereka melakukan dialog dengan beberapa pemikir untuk dianalisis mengenai pemikiran-pemikiran yang ada di dalam literatur-literatur tersebut, dan mereka menuliskannya untuk dijadikan pegangan dalam membentuk sebuah peradaban baru di dunia Barat modern.
Pertanyaannya sekarang bagi kalangan intelektual kampus yakni mahasiswa. Bagaimana jalan pencerahan tersebut bisa masuk dalam dunia mahasiswa? Mahasiswa sebagai subjek sekaligus objek yang memproduksi pengetahuan, seharusnya lebih aktif dan bersemangat dalam memproses pengetahuan dan mengembangkannya dengan tiga jalan tadi. Namun, semangat ilmiah yang kurang tertanam dalam diri mahasiswa seratus persen itulah penyebab kurang produktifnya mahasiswa dalam memproduksi pengetahuan. Gagasan yang dilontarkan para mahasiswa dalam diskusi-diskusi ilmiah sudah memberikan sedikit jalan dalam proses pengembangan ilmu, tetapi taraf produktifitas menulis inilah yang masih belum terbangun sepenuhnya dalam jiwa mahasiswa. Adanya Buku Sejarah Pergerakan Nasional yang ditulis oleh Wahyu Iryana kiranya menjadi obor penerang untuk memberi motivasi agar mahasiswa ikut gandrung membaca, menulis dan berdiskusi. Di sisi lain kapasitas penulisnya yang merupakan seorang santri terah mampu memotren bagaimana perjuangan anak bangsa dalam menegaskan semangat berbangsa yang utuh.
Wahyu Iryana yang mempunyai latar belakang pendidikan di Sejarah Peradaban Islam UIN Bandung (S1,S2) dan Ilmu Sejarah UNPAD (S3) telah meyakinkan bahwa beliau adalah orang yang tepat dan layak menulis Sejarah Pergerakan Nasional dalam melacak akar historis lahirnya negara kesatuan republik Indonesia. Ia sudah menulis banyak buku buku sejarah, dari mulai perlawanan petani Jaman Jepang, Historiografi Islam termasuk, artikel di koran-koran Nasional dan juga Jurnal terindek Sinta. Wahyu Iryana adalah santri yang menulis tentang sejarah Santri.
Kembali pada uraian buku Sejarah Pergerakan Nasioanl sebagai bahan refleksi, Nasionalisme merupakan sikap dan tingkah laku individu atau masyarakat yang merujuk pada loyalitas dan pengabdian terhadap bangsa dan negaranya (Widodo Dwi Putra dalam Kompas Rabu, 11 Juni 2003). Tetapi secara empiris, nasionalisme tidak sesederhana definisi itu, melainkan selalu dialektis dan interpretatif, karena nasionalisme bukan pembawaan manusia sejak lahir, melainkan sebagai hasil peradaban manusia dalam menjawab tantangan hidupnya. Dalam sejarah Indonesia dibuktikan bahwa kebangkitan rasa nasionalisme didaur ulang kembali oleh para generasi muda, karena mereka merasa ada yang menyimpang dari perjalanan nasionalisme bangsanya. Dalam konsepsi ini, paling kurang ada lima fase pertumbuhan nasionalisme di Indonesia yakni sebagai berikut.
Pertama gerakan kebangkitan nasionalisme Indonesia dalam dinamika sejarah diawali oleh Boedi Oetomo di tahun 1908, dengan dimotori oleh para mahasiswa kedokteran Stovia, sekolahan anak para priyayi Jawa, di sekolah yang disediakan Belanda di Jakarta. Mengenai tahun dan nama organisasi sebagai tonggak kebangkitan nasional Indonesia, masih menjadi obyek perdebatan para ahli sejarah, karena Boedi Oetomo, tidaklah menasional organisasinya, tetapi hanya melingkupi Jawa saja. Jadi patut dipertanyakan sebagai tonggak kebangkitan nasional Indonesia (A. Fanar Syukri, dalam http://ppi-jepang.org /article.php?id=1. Diakses tanggal 2 Agustus 2007).
Kemudian pasca Perang Dunia I, filsafat nasionalisme abad pertengahan mulai merambat ke negara-negara jajahan melalui para mahasiswa negara jajahan yang belajar ke negara penjajah. Filsafat nasionalisme itu banyak memengaruhi kalangan terpelajar Indonesia, misalnya, Soepomo ketika merumuskan konsep negara integralistik banyak menyerap pikiran Hegel. Bahkan, Soepomo terang-terangan mengutip beberapa pemikiran Hegel tentang prinsip persatuan antara pimpinan dan rakyat dan persatuan dalam negara seluruhnya. Begitu pula pada masa kini banyak diciptakan lagu-lagu kebangsaan yang sarat dengan muatan semangat nasionalisme seperti Indonesia Raya, Dari Sabang Sampai Merauke, Padamu Negeri, dan sebagainya (A. Fanar Syukri, dalam http://ppi-jepang.org /article.php?id=1. Diakses tanggal 2 Agustus 2017).
Tokoh nasional lain selain Soepomo, Hatta, Sutan Syahrir pun sudah aktif berdiskusi tentang masa depan negaranya, ketika mereka masih belajar di benua Eropa, atas beasiswa politic-etis balas budi-nya penjajah Belanda. Setelah selesai di PHS selesai 1921, kemudian Hatta meneruskan studi ke Belanda, masuk Handels Hooge School (Sekolah Tinggi Ekonomi) Refterdam. Selama di Belanda inilah Bung Hatta memegang peranan vital dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Masuknya Bung Hatta ke dalam Perhimpunan Indonesia menjadikan organisasi ini semakin kuat pengaruhnya dan semakin radikal. Bung Hatta dan mereka yang menempuh pendidikan Barat inilah di masa pra & pascakemerdekaan yang nantinya banyak aktif berkiprah menentukan arah masa depan Indonesia (Aman, 2006). Sementara Bung Karno sejak remaja, masa mahasiswa bahkan setelah tamat studinya, terus aktif menyerukan tuntutan kemerdekaan Indonesia melalui organisasi-organisasi yang tumbuh pada awal abad ke-20 (Aman, 2006).
Kedua kebangkitan nasionalisme tahun 1928, yakni 20 tahun pasca kebangkitan nasional, di mana kesadaran untuk menyatukan negara, bangsa dan bahasa ke dalam satu negara, bangsa dan bahasa Indonesia, telah disadari oleh para pemuda yang sudah mulai terkotak-kotak dengan organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera dan lain sebagainya, kemudian diwujudkan secara nyata dengan menyelenggarakan Sumpah Pemoeda di tahun 1928.
Ketiga masa revolusi fisik kemerdekaan. Peranan nyata para pemuda pada masa revolusi fisik kemerdekaan, tampak ketika mereka menyandra Soekarno-Hatta ke Rengas-Dengklok agar segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Mereka sangat bersemangat untuk mewujudkan nation state yang berdaulat dalam kerangka kemerdekaan. Hasrat dan cita-cita mengisi kemerdekaan yang sudah banyak didiskusikan oleh Soekarno, Hatta, Soepomo, Syahrir, dan lain sebagainya sejak mereka masih berstatus mahasiswa, harus mengalami pembelokan implementasi di lapangan, karena Soekarno yang semakin otoriter dan keras kepala dengan cita-cita dan cara yang diyakininya. Akhirnya Soekarno banyak ditinggalkan teman-teman seperjuangan yang masih memegang idealismenya, dan mencapai puncaknya ketika Hatta, sebagai salah seorang proklamator, harus mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden, karena tidak kuat menahan diri untuk terus menyetujui sikap dan kebijakan Presiden Soekarno yang semakin otoriter.
Keempat, perkembangan nasionalisme tahun 1966 yang menandai tatanan baru dalam kepemerintahan Indonesia. Selama 20 tahun pasca kemerdekaan, terjadi huru-hara pemberontakan Gestapu dan eksesnya. Tampaknya tanpa peran besar mahasiswa dan organisasi pemuda serta organisasi sosial kemasyarakatan di tahun 1966, Soeharto dan para tentara sulit bisa memperoleh kekuasaan dari penguasa orde-lama Soekarno.Tetapi sayang, penguasa Orde Baru mencampakan para pemuda dan mahasiswa yang telah menjadi motor utama pendorong terbentuknya NKRI tersebut dideskriditkan, dan bahkan sejak akhir tahun 1970-an para mahasiswa dibatasi geraknya dalam berpolitik dan dikungkung ke dalam ruang-ruang kuliah di kampus. Sementara para tentara diguritakan ke dalam tatatan masyarakat sipil lewat dwifungsi ABRI. Kelima perkembangan nasionalisme masa reformasi. Nasionalisme tidak selesai sebatas masa pemerintahan soeharto, melainkan terus bergulir ketika reformasi menjadi sumber inspirasi perjuangan bangsa meskipun melalui perjalanan sejarah yang cukup panjang.
Beberapa uraian di atas pada gilirannya sampai kepada sebuah kesimpulan bahwa hal yang mendorong Wahyu Iryana untuk menulis Sejarah Pergerakan Nasional merupakan salah satu implikasi lebih lanjut dari tradisi para sejarawan dan para ulama terdahulu yang tidak pernah lupun untuk mengikat ilmu melalui tulisan. Dalam bahasa Lain, Wahyu Iryana merupakan akademisi yang “melebarkan sayap” (yatawassa‘) dengan menulis sejarah. Dalam perbincangan ini, ada sebuah sistem kosmologis yang menjadi keniscayaan. Seorang santri dengan kecenderungan ortodoksi dan asketis pada dasarnya lebih menganut teo-sentris dengan menjadikan keyakinan beragama sebagai “tokoh” utama dalam horizon mereka.
Seberapa besar kesungguhan para pemimpin di Republik ini untuk maju, disitulah 200 juta lebih rakyat Indonesia akan ditentukan. Sebagai bagian dari sistem internasional, Indonesia tidak bisa terhindar dari proses globalisasi, kompleksitas problem dan perkembangan dunia yang tercermin dalam globalisasi, mengharuskan bangsa Indonesia untuk secepatnya menentukan sikap agar mampu berpartisipasi di dalamnya. Demikian konsekwensi logis yang harus diterima oleh bangsa ini, dengan bekerja keras merubah dirinya sendiri melalui usaha memperluas cakrawala dan sudut pandang dunia (word view). Secara geografis, Indonesia sungguh menarik di mata dunia, selain karena luas wilayah dan potensi alamnya juga letaknya yang strategis di kawasan Asia Pasifik. Jumlah penduduk yang lebih dari 200 juta jiwa memudahkan untuk melakukan mobilisasi sumber daya manusia sebagai basis tenaga yang produktif. Karena posisi inilah, tidak mengherankan jika Indonesia dianggap penting oleh hampir semua perusahaan multi-nasional yang nota bene merupakan aktor penting dalam globalisasi. Wahyu juga telah memberi catatan jejak sejarah Indonesia dari awal kelahiran sampai masa reformasi. Sebagai anak negeri yang akan memegang tongkat perjuangan bangsa, dapat merefleksikan sejarah untuk kehidupan bangsa yang lebih maju sesuai dengan semangat zaman adalah kewajiban. Buku Sejarah Pergerakan Nasional yang berada ditangan pembaca yang budiman ini, mencoba memotret perjalanan sejarah dari mulai zaman pra kemerdekaan, perlawanan kolonialisme, jaman pergerakan, orde lama, orde baru sampai reformasi. Semoga lahirnya “buku” ini menjadi pembuka pintu untuk membedah wawasan intelektual dan perjuangan bangsa dari setiap fase demi fasenya. Mudah-mudahan upaya dari Saudara Wahyu Iryana dalam memotret sejarah bangsa Indonesia ini dikatagorikan sebagai sebuah ladang ibadah, dan semoga buku ini bisa menjadi Oase dahaga ilmu pengetahuan bagi penikmat sejarah dan bisa diapresiasi oleh seluruh elemen masyarakat sebagai buku yang prestisisus dan best Seller. Aamiin.
Sekali Lagi saya ucapkan selamat