Dibalik Muktamar NU di Ponpes Darussa’adah Lampung, Asesten Gus Dur Sampaikan Catatan Kesan Mendalam

Dibalik Muktamar NU di Ponpes Darussa’adah Lampung, Asesten Gus Dur Sampaikan Catatan Kesan Mendalam

LAMPUNG – Muktamar NU ke 34 yang dilaksanakan di Lampung lebih tepatnya
di Pondok Pesantren Darussa’adah yang terletak di Lingkungan III Celikah, Seputih Jaya, Gunung Sugih, Lampung Tengah, yang telah usai dilaksanakan berjalan lancar.

Pesantren Darussa’adah didirikan sejak 22 Rajab 1406 atau tanggal 02 April 1986, oleh KH Muhsin Abdillah yang saat ini menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung.

KH. Muhsin Abdilah yang merupakan sahabat KH. Abdurrahman Wahid Presiden RI ke 4, sebagai pendiri pesantren Darussa’adah KH. MUhsin, mendirikan pesantren diatas tanah seluas 4.000 meter dan memiliki sekitar 750 santri serta ratusan tenaga pendidik yang mengabdi di dalamnya.

Kendati demikian, dalam momen Muktamar NU ke-34 di pesantren Darussa’adah Lampung Tengah ini memiliki cacatan kecil tentunya sangat berkesan yang mendalam.

Pasalnya, pondok pesantren Darussa’adah Lampung Tengah adalah salah satu pondok pesantren yang telah beberapa kali dikunjungi Gus Dur baik sebelum menjadi Presiden RI maupun setelah tidak menjadi Presiden RI.

Selain pesantren Darul Amal, Metro juga pesantren Darusalamah Way Jepara Lampung Timur maupun pesantren Kyai Pardi Batanghari Lampung. Namun, uniknya pesantren Darusa’adah ini telah jauh-jauhari diramal oleh KH. Abdulrahman Wahid atau Gus Dur.

Kala itu, pada tahun 2005 Gus Dur bersama H. Sulaiman selaku asisten pribadi Gus Dur, ketika itu bersilahturahmi ke Pesantren Darusa’adah, Gus Dur berucap kepada KH. Muhsin Abdillah selaku pengasuh pesantren, pondok pesantren ini bakal didatangi banyak orang dari berbagai daerah.

“Bahwa pada suatu saat nanti pondok ini akan didatangi orang banyak” ucap KH. Abdurrahman Wahid, yang juga mantan ketua umum PBNU tahun 1984-1999 tersebut.
Menurutnya, bahwa dahulu pondok itu masih sangat sepi karena di kelilingi kebun dan sangat minim penerangan.

“Di bathin saya, jika pun banyak orang mendatangi pondok itu kemungkinan karena acara Haulan, maulidan, atau pondok menjadi besar karena santrinya semakin banyak,”terangnya.

Tak heran kalau misalnya KH. Muhsin Abdillah menanggapi ucapan Gus Dur sebagai hal yang biasa. Namun, pesantren Darussa’adah kini menjadi arena pembukaan Muktamar yang tentunya semua orang tertuju ke pesantren tersebut.

Sebagai ketua rombongan Muktamar ke 34 dari PWNU DKI Jakarta, H. Sulaiman mendampingi KH. Lukman Hamid katib PWNU DKI dan pengasuh PP Al. Hamid silahturahmi ke pondok Darusa’adah disela-sela acara Muktamar.

“Saat di pesantren Darusa’adah, saya lebih banyak dikamar yang sejatinya kamar tersebut adalah kamar yang selalu disinggahi Gus Dur untuk istirahat sejenak sebelum Gus Dur melanjutkan perjalanan,”tuturnya.

Atas hal itu, H. Sulaiman mengucapkan rasa terima kasih kepada Gus Hisyam putra KH Muhsin Abdilah yang telah membantu mencarikan rumah untuk rombongan PWNU DKI di sekitar area pondok serta salam takzim untuk KH. Muksin Abdilah selaku sahabat Gus Dur.

“Semoga pondok pesantren Darusa’adah akan menjadi besar dan maju seperti pondok pesantren Qomarul Huda Lombok tengah NTB dibawah asuhan Tuan Guru Turmudzi salah satu 9 kyai langitan dijaman Gus Dur,”harapnya.

Ditulis oleh H. Sulaiman SE,
Mantan Ass. KH. Abdurrahman Wahid
dan juga Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta.