Aldy si Pemburu IPK

474
Oleh: Ryan Sepian

Malam itu jam dinding rumah Aldy menunjukan pukul 20.00 WIB. Aldy sudah tertidur pulas, tidak biasanya karena aktifitas kesehariannya yang akhir-akhir ini sering disibukan dengan tugas kuliah akhirnya. Sadar akan kuliah yang hanya tinggal menghitung bulan lagi, maka dari itu banyak tugas akhir kuliah yang harus ia kerjakan. Aldy saat ini menduduki bangku perkuliahan di semester akhir. Adalah skripsi yang sedang dia rintis saat ini. Sadar akan hal itu, Aldy semakin rajin dan giat demi tercapainya cita-cita yang ia harapkan setelah lulus nanti. Aldy bisa dikatakan tergolong dalam tipologi mahasiswa sebagai akademisi yang aktif dalam perkuliahan. Ia tidak pernah pernah absen apalagi bolos, dari semester 1 sampai sekarang semester akhir. Tugas dari setiap dosen pasti ia kerjakan dan iapun tidak pernah membangkang terhadap dosen nya.

Aldy kuliah di salah satu Universitas Negeri Agama-Umum yang ternama di Bandung. Ia tinggal bersama kedua orang tua dan adiknya yang tidak jauh dari kampusnya. Aldy anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya bekerja di salah satu pabrik Daerah Bekasi dan menetap disana. Sementara adiknya baru duduk di Sekolah Dasar. Ayahnya seorang Wiraswasta, dan ibunya seorang buruh cuci baju di kampungnya.

“Belajar yang rajin, Dy. Jangan banyakin maen, cepet lulus, cepet dapat kerjaan biar bisa bantu perekonomian keluarga kita,” ucap ibu Aldy.

Sadar akan ketatnya dunia kerja di luar sana, keluarga Aldy berharap supaya anaknya ketika lulus nanti bisa membantu perekonomian keluarganya, karena dimasukannya Aldy ke Sekolah Tinggi supaya anaknya bisa bekerja di perusahaan yang lumayan bisa membantu perekonomian keluarganya, dan berharap setelah Aldy menjadi sarjana akan lebih mudah mencari dunia kerja. Itu yang membuat tekanan di benak Aldy begitu terasa. “Bagaimana supaya bisa mendapatkan nilai bagus, IPK diatas rata-rata, lulus cepat, dapat ijazah, dan mendapatkan pekerjaan yang saya mau,” tandas Aldy dalam ekspektasinya.

Harapan, cita-cita, dan ekspektasi itu yang membuat dia seakan-akan terhegemoni. Ia menghiraukan apa yang tidak seharusnya ia lakukan. Ia hanya ingin seperti ekspektasinya itu, bagaimana caranya bisa mendapatkan IPK besar dan lulus dengan mudah. Maka ia hanya bergelut dengan akademisinya itu, yang dalam teori typologi mahasiswa ialah concern mengurusi kuliah saja, rajin masuk, dan tidak pernah ketinggalan tugas. Tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan Aldy itu, karena sudah jelas dikemukakan olehnya di atas. Namun sisi kekurangannya jelas menonjol sekali. Aldy yang bergelut dengan keakademisiannya itu kurang progresif dan kurang peka terhadap keadaan sosial yang ada, kurang peduli terhadap yang lain (individualis), dan miskin relasi. Maka tidak jarang Aldy sering mengabaikan sahabat-sahabatnya yang mengajak dia untuk ikut aktif dalam dunia Organisasi Kemahasiswaan baik Intra maupun Ekstra Kampus. Yang notabe nya Organisasi itu untuk menambah relasi ke depannya.

“Dy, mending ikut Organisasi  Ekstra kampus. Lumayan kan supaya kita bisa kenal dengan pejabat-pejabat hehe..” guyon sahabat kelasnya yang bermaksud ingin mengajak Aldy supaya bisa masuk ke Organisasi.

“Tugas saya di kelas numpuk, tidak mungkin saya masuk Organisasi. Itu hanya akan mengganggu perkuliahan dan menghambat tugas dari dosen. Toh sama saja kuliah lebih relatif, ada semua di bangku perkuliahan. Sudah dapat nilai bagus, perusahaan mana sih yang akan menolaknya? Yang penting sekarang mah IPK besar dan lulus cepat aja. Gampanglah urusan sosialisasi mah entar juga bisa pas sudah lulus..”. Jawab aldy.

“Lo yakin dy setelah lulus nanti tanpa dapat pengalaman sekarang, entar lo bisa cari kerjaan yag mudah?” sambung sahabat Aldy yang lain.

“Yakinlah. Itu mahasiswa yang demo teriak-teriak gak jelas apa maksudnya coba? Cuma mengganggu aktifitas belajar saja. Udahlah gue mah ogah ikut-ikutan yang begituan, gak ada waktunya. Relasi gampang dicari entaran. Intinya sudah gue yakinin ke elo, IPK besar perusahaan mana yang akan menolaknya?” tandas Aldy meyakinkan sahabatnya itu.

Harapan dan harapan tetap berlanjut, hari demi hari ia lewati selama duduk di bangku perkuliahan dengan ketekunannya. Tiba pada waktu itu setelah ia selesai mengerjakan tugas membuat skripsi sebagai syarat lulus atau tidaknya. Waktu yang dinantikanpun tiba, dimana detak jantungnya bergetar tidak karuan saat mengikuti persidangan hasil daripada kajian skripsinya, yang dimana hasil itu akan menjadi awal karir kehidupannya. Setelah menunggu dan akhir nya dia pun maju untuk memulai presentasinya, tidak ada halangan yang berarti karena yang dilakukan Aldy tekstual yang terdapat pada skripsinya. Dosen pengujinya pun mengamininya lulus. Setelah selesai ia langsung pulang ke rumah dan langsung bertemu keluarganya yang kebetulan tidak bisa menemaninya, sembari memberikan informasi karena ia telah selesai mengerjakan tugas akihrnya sebagai Mahasiswa.

“Syukurlah akhirnya selesai juga Aldy jadi Mahasiswa, tinggal nunggu hasil nilai nya, udah itu siap deh cari pekerjaan,” tandas Aldy dengan kegirangan.

Hari itu dimana hari kelulusan dan pemberian predikat sebagai sarjana. Aldy tiba dikampus pukul 08.00 WIB dengan pakaian rapih yang kali ini ditemani beserta keluarganya. Dia pun langsung masuk ke ruangan yang telah dipersiapkan oleh pihak kampus untuk sarjana-sarjana muda ini, dan menunggu panggilan untuk memperoleh gelar itu. Acara-acara demi acara telah lewat dan sekarang giliran Aldy di panggil ke atas panggung bersama dengan sarjana lainnya untuk bisa dikatakan sebagai pemindahan tali toga dari kiri ke kanan dengan simbol yang menyatakan bahwa Mahasiswa telah lulus dan siap terjun ke Masyarakat. Dengan demikian pula dimulailah kehidupan Aldy yang sebenarnya.

Setelah dari acara itu Aldy beserta keluarganya pun langsung pulang ke rumahnya dengan perasaan yang sangat gembira ketika yang diharapkan akhir nya bisa tercapai oleh Aldy, nilai yang ia angan-angani akhirnya ia dapatkan. Dimana ia bisa mendapatkan IPK yang mungkin bisa dikatakan di atas rata-rata dan bisa dikatakan juga Aldy sebagai mahasiswa yang progresif dari segi nilai setiap mata kuliahnya. Tidak aneh dimana dari awal masuk kuliah semester awal sampai semester akhir dia selalu aktif dari absensi dan selalu mengerjakan tugas dari dosennya. Atas dasar itu, ia merasa pede untuk menatap kehidupan ke depannya.

Melihat prestasi itu, orang tuanya merasa yakin anaknya akan mendapatkan pekerjaan mudah dan berharap bisa bekerja di perkantoran supaya dapat membantu perekonomian keluarga. Dan dengan itu orang tua Aldy menghimbau kepada anaknya untuk segera mencari pekerjaan yang diharapkannya.

“Dy, cepat urus lamaran kerja kamu. Nilai kamu kan bagus, masa gak bisa cari pekerjaan yang bagus juga? Kalau mau cari kedaerah ibu kota aja yang banyak gedung-gedung perkantoran itu,” kata ibu Aldy.

“Iya bu entar Aldy mau istirahat nenangin pikiran dulu, beberapa bulan kemarin kan Aldy sibuk ngurusin tugas akhir kuliah,” jawab Aldy.

Malam itu tidak biasanya yang dimana jam 20.00 WIB, Aldy sudah tertembak akibat aktifitas kesehariannya yang padat. Malam yang setelah tidak ada tunggungan belajar akibat tugas itu digunakan Aldy hanya untuk begadang nonton hiburan televisi, sesekali dengan gadgetnya. Itulah keseharian Aldy setelah dinyatakan menjadi sarjana. Ia berpikir sudah cukup belajarnya pas waktu di bangku perkuliahaannya saja dan tidak perlu capek-capek belajar seperti sebelumnya.

“Kan udah lulus, yang penting sekarang mah,nilai sayapun sudah bagus. Sekarang mah bagaimana caranya saya bisa bekerja di perkantoran,” tandas benak Aldy.

Karena sudah merasa cukup dengan peristarahatannya itu pasca menjadi sarjana, Aldy pun segera menyusun surat lamaran kerjanya dan serta tidak lupa dengan bangganya ia menyelipkan ijazah yang dengan nilai bagus itu sebagai tolak ukur penilaian kantor yang akan ia lamar. Aldy berangkat ke ibukota atas saran orang tuanya itu dan melamar ke beberapa peruhaan top di sekitaran ibukota. Ia masukan lamaran itu dengan rasa pedenya. Setelah itu Aldy harus bersabar karena harus menunggu panggilan berikutnya.

Setelah beberapa hari bersabar menunggu panggilan, akhirnya lamaran Aldy pun di respon baik oleh beberapa perusahaan yang dilamarnya. Tidak bisa terbantahkan, pihak kantor pun memang tergiur dengan ijazah Aldy, nilai yang ada di ijazah Aldy bisa berpengaruh atas itu. Namun perusahaan profesional tidak menilai calon karyawannya hanya dari satu titik saja. Ada beberapa tahapan standarisasi yang harus dilewati oleh calon karyawannya. Termasuk nilai ijazah Aldy tidak bisa langsung menjadi rujukan penerimaan siap kerja. Ada beberapa tahapan seperti tes skill, wawancara, dan yang lainnya sesuai kebutuhan kantor.

Aldy pun kaget dan kebingungan lantaran skillnya masih belum pede walaupun selama di bangku perkuliahan ia jarang sekali absen. Dan yang jadi pertanyaannya.”Skill apa yang akan di tes nanti?”gerutukan hati Aldy.

Demi bisa bekerja di kantor yang diharapkannya, Aldy pun mempersiapkan dirinya untuk menghadapi tes. Ia baca-baca lagi buku ataupun pelajaran tambahan, bahkan hingga begadang sekalipun ia lakukan. Supaya dapat memudahkannya dan benar-benar bisa diterima di perusahaan yang ia dambakan itu.

Setelah beberapa hari melakukan persiapan, tiba waktunya hari itu dimana Aldy mulai melakukan tes skill dan wawancara. Dalam tesnya pun langsung oleh diuji oleh seorang manajer dari kantor itu. Dirasakan nya ada perbedaan yang mencolok ketika Aldy mengikuti wawancara,yang dimana Aldy jarang sekali berbicara ketika jam perkuliahan. Sekarang terasa efeknya, Aldy pun selalu kaku dalam perbincangan-perbincangan dengan calon atasannya itu. Banyak kosakata yang bisa dikatakan tidak mencerminkan seorang sarjana.

Tes pun selesai. Tidak lupa ia langsung  diberikan surat pemberitahuan diterima atau tidaknya ia bekerja di kantor tersebut. Dan alhasil karena banyaknya kesalahan, Aldy pun dinyatakan tidak lulus atas tes yang telah ia ikuti itu. Nilai bagus di ijazah tidak dibarengi dengan skill dan keahlian. Dia hanya mempunyai nilai secara kuantitas saja, masalah kualitas dia masih kurang karena minimnya pengalaman. Bahkan tidak hanya satu perusahaan saja, dari beberapa lamaran yang dimasukkan oleh Aldy, semuanya tidak bisa menerimanya lantaran kesalahan yang sama seperti sebelumnya.

Harapan itu seakan-akan musnah seketika Aldy meratapi semuanya. Ternyata nilai yang didamba-dambakan itu tidak bisa menolongnya, yang awalnya ia berkeyakinan bahwasanya nilai bagus akan melancarkan semuanya, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Aldy pun tidak percaya apa yang telah terjadi padanya, kuliah beberapa tahun seakan-akan tiada artinya di mata Aldy saat ini. Ijazah pun hanya jadi pelengkap lukisan di kamarnya saja.

Aldy mencoba berpikir jernih. Ternyata masih ada ilmu pengetahuan penting yang tidak dapat ia dapatkan ketika dia duduk di bangku perkuliahan. Teringat ajakan sahabatnya dulu untuk ikut aktif dalam organisasi kemahasiswaan yang notabenya organisasi itu mengasah skill-skill yang tidak ada dibangku perkuliahan, dan seketika itu juga ia malah menolaknya ajakan itu. Ada sedikit penyesalan ketika sekarang bahwa ilmu itu sangat dibutuhkan olehnya. Aldy hanya mementingkan bagaimana IPK bagus dan bisa lulus cepat saja,s eakan-akan apatis dengan keadaan sosial yang ada.
Begitu mungkin sekiranya aldy seorang mahasiswa yang hanya mengejar IPK saja…

(Cerita diatas di inspirasikan oleh sahabat saya seorang sarjana IPK)

Mungkin tidak beda jauh deskripsi di atas dengan keadaan mahasiswa pada konteks hari ini. Penulis pernah debat ringan dengan salah satu dosen pengajar di kelas. Singkatnya Penulis (P), Dosen (D).

P: “Mengapa harus dibanyakin tugas dan tugas saja? Apalagi tugas dari bapak tidak main-main, setiap hari kami mahasiswa bapak ini hanya disibukkan dengan tugas bapak. Ini baru tugas bapak,  belum tugas yang lainnya, Dimana letak substansi dan esensi nya pak?

D: “Inikan cara bapak mengajar dan mendidik kalian biar lebih kreatif dalam proses pembelajaran, substansi dan esensi jelas banyak, karena mahasiswa di tuntut untuk selalu keatif dalam opini, wacana, dan menurut bapak lebih banyak lagi manfaatnya.”

P: “Bapak pernah denger peribahasa SKS (sistem kebut semalem)?? Itu sistem pembodohan kan pak? Itu yang terjadi pada mahasiswa bapak sekarang. Tidak jarang mahasiswa di kelas ini sering menggunakan sistem SKS itu, karena tugas bukan dari bapak saja. Hampir setiap dosen memberikan tugas yang sama padatnya seperti bapak. Itu terbukti ketika mahasiswa mempresentasikan hasil tugasnya selalu terpaku pada tekstual saja, tidak adanya opini ataupun wacana seperti substansi yang bapak sebutkan tadi. Yang ada justru sebaliknya, mahasiswa seakan-akan lelah dengan semuanya dan kekreatifan mahasiswa pun menjadi monoton!

D: “Yasudah, kalau kamu tidak mau mengikuti mata kuliah bapak, silahkan jangan ikuti matkul bapak. Bapak tidak rugi kok”.

Setelah berakhir nya debat ringan dengan dosen itu akhirnya penulis tidak pernah masuk ataupun mengikuti mata kuliah nya.

Pandangan penulis disinilah terdapat adanya kesenjangan sosia. Dosen sebagai kaum birokrasi dan pelaksanaan sistem (Objective Paradigm), dimana mahasiswa menjadi korban pelaksanaan sistem atau aturan dari golongan kaum birokrasi. Dari kubu mahasiswa yang seperti Aldy (Subjective Paradigm) misalnya, sebagai Fenomologis yang berkutik pada persoalan kesadaran dirinya. Disinilah persoalan tidak adanya kesadaran itu.

Jikalau setiap individu tidak mempunyai kesadaran pribadi atau fenomologis, maka pentingnya kaum humanis yaitu sebuah kaum pergerakan yang mempunyai kesadaran nyata untuk membebaskan kaum tertindas. Sudah menjadi pengetahuan kita bersama bahwa kaum humanis itu memberikan kebebasan berpikir kritis yang luas. Semakin banyak dilontarkan kritis, maka kelompok birokrasi akan semakin memperketat penjagaan terhadap kaum humanis. Dengan demikian, setiap mistifikasi jelas cenderung menjadi totaliter, dalam artian birokrasi siap menghanguskan mereka-mereka para mahasiswa yang mempunyai sikap kritis. Semuanya dimusnahkan tanpa terkecuali, karena dari pengecualian itu adalah ancaman nyata bagi struktur birokrasi kampus.

Kampus mempunyai peran sangat vital dalam hal ini. Sebagaimana banyaknya aturan-aturan kampus yang berpotensi membungkam kekritisan mahasiswa. Jika seperti ini, mahasiswa yang baik bukanlah mahasiswa yang selalu resah atas kekritisannya, bukan mahasiswa yang menampakan keraguannya karena ingin mengetahui alasan dibalik fakta, bukan mahasiswa yang selalu melanggar aturan, bukan mahasiswa yang mencela birokrasi yang kurang baik, bukan mahasiswa yang menjadi korban kehendak dosen, tapi mahasiswa yang baik, dialah mahasiswa penurut, meninggalkan cara berpikir kritis, mematuhi aturan yang sudah ada (walaupun tidak jelas), dan beranggapan menjadi seekor ‘Binatang’ itu baik.

Letak vital berada pada pundak para aktifis yang sukanya demo atau aksi di sekitaran kampus yang ingin menyadarkan dan mengajak bersama-sama ketika ada suatu ketimpangan dalam lingkungan sosial kampus, yang dilakukan adalah adanya solusi. Jjika solusi itu dirumuskan untuk diadakannya aksi, ya sudah, merekalah yang melakukan aksi dikampus termasuk para golongan humanis yang mengajak kesadaran bersama. Yang saya takutkan, jika kaum fenomologis dan humanis tidak ada, maka nyenyaklah mereka kaum struktualis sebagai modernis transformis (pelaksana dari sistem) yang membuat aturan tanpa memikirkan mahasiswanya. Inilah bahaya latah fasis, aturan yang bagaimana caranya mahasiswa bisa patuh terhadap aturan yang menguntungkan kaum birokrasi, dibuatnya aturan yang seketika mahasiswa melawan maka dosen mengancam dengan seenaknya seperti tidak ada nilai atau dicoret mahasiswa itu dari mata kuliahnya. Hal itu berdampak kepada nasib para mahasiswanya sebagai agent of social change dan agent of social control yang justru kebijakan birokrasi itu akan menjadikan mahasiswa menutup jauh-jauh sosial yang ada diluar. Pantas lah ketika lulus kuliah mental-mental tempe,kerupuk,dan tidak sedikit nya mental-mental korup!

Atau bisa juga kasus seperti Aldy terdapat dalam teori ‘kesadaran palsu’-nya Marx? Dimana karena realitas yang ditangkap oleh Aldy dipalsukan oleh mekanisme birokrasi. Yang dimana kesadaran palsu itu merupakan pikiran-pikiran irasional yang menimbulkan suatu pemahaman yang salah tentang kampus. Dengan pemahaman yang salah itu, Aldy memahami kampus dan pemahaman itu menimbulkan suatu kesadaran tertentu tentang kampus. Karena pemahaman itu salah, maka tentang kesadaran kampus yang didasari oleh kesadaran itu juga salah. Dengan kata lain, kesadaran tentang kampus yang dimiliki oleh Aldy itu palsu. Apa yang dipikirkan tentang kampus tidak sesuai dengan kenyataan kampus yang sebenarnya. Kesadaran palsu ini menyebabkan Aldy terasing dari dunia kampus yang sesungguhnya. Aldy semakin asyik dengan pikirannya yang didasari oleh kesadaran palsu dan juga semakin terasinglah Aldy dari dunia nyata kampusnya.

Itulah yang mengapa Aldy kuliah hanya manut ke dosen yang di iming-imingi IPK besar tanpa dipikirkan dampak baik atau tidaknya. Kesadaran itu sudah didasari dengan kesadaran palsu, maka manut saja dengan aturan birokrasi kampus, yang penting lulus cepat dan nilai memuaskan….

*Penulis adalah Kader Rayon Syariah dan Hukum Komisariat UIN SGD Cabang Kabupaten Bandung

comments