Pesantren Assalafiyyah Nurul Hikmah Pasaran Kitab Kuning 5 Kali dalam Setahun

222

Sukabumi, Pwansorjabar.org

Pondok Pesantren Assalafiyyah Nurul Hikmah Parungkuda, Kabupaten Sukabumi menggelar pasaran kitab kuning 5 kali dalam setahun, yaitu pada Ramadan, Dzulhijjah, Muharam, Mulud, dan Jumadil Akhir.

Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyyah Nurul Hikmah KH Ahmad Syihabuddin Romly menjelaskan, tradisi pasaran ini telah berlangsung semasa ayahandanya, almaghfurlah KH Fariduddin Soleh masih ada. Setelah sang ayah wafat, ia bersama saudara dan saudarinya melanjutkannya.

“Biasanya pasaran berlangsung selama 2-3 minggu, tidak sampai sebulan,” kata ajengan muda yang pernah berguru kepada Abuya KH Abdullah Mukhtar, pengasuh Pondok Pesantren An-Nidzom Panjalu, Kabupaten Sukabumi ini.

Tiap pasaran mengkaji kitab yang berbeda-beda dengan siklus tiga tahun sekali. Artinya, pada tahun keempat, kitab yang dikaji sama dengan kitab-kitab yang dikaji pada 3 tahun lalu.

Pada tahun-tahun sebelumnya, pasaran lebih fokus pada lughat sehingga dalam satu periode pasaran bisa menyelesaikan belasan kitab. Namun, sekarang pasaran lebih fokus kepada penjelasan atau surat sehingga kitabnya pun lebih sedikit.

Pesantren Assalafiyyah Nurul Hikmah berupaya memperkenalkan khazanah kitab kuning yang selama ini masih jarang dikaji dengan tujuan untuk menambah pengalaman kepada para santri.

“Misalnya pada Dzulhijjah sekarang yang masih berjalan kita mengjaki kitab Asraruj Jima’, Fawaidul Mujarabah,” katanya.

Pada Muharam ini, Assalafiyyah Nurul Hikmah akan menggelar pasaran beberapa kitab yaitu Nadham Al-Maqshud, Fiqhun Nisa’, Minhatul Mughits, Tijanud Dlarary, dan Milhatul I’rab.

Nadham Al-Maqshud adalah kitab dalam fan ilmu sharaf sementara Fiqhun Nisa’ dalam fan fiqih yang khusus untuk kalangan perempuan, tetapi perlu diketahui para lelaki.

“Kitab Fiqhun Nisa’ ini menjelaskan seputar siklus yang terjadi kepada perempuan yang ditinjau dalam fiqih seperti haid, nifas, wiladah, hingga istihadlah,” kata ajengan muda ini.

Kitab tersebut, kata dia, sangat relevan untuk dikaji para santri mengingat siklus tersebut terkait langsung dengan ibadah seorang hamba kepada tuhannya. Dengan demikian, pada dasarnya pengetahuan ini bersifat fardu ‘ain, harus diketahui setiap perempuan.

“Kitab Minhatul Mughits berisi tentang ilmu musthalah hadits; sementara Tijanud Dlarary tentang tauhid, dan Milhatul I’rab dalam fan ilmu nahwu,” jelas putra almaghfurlah KH Fariduddin Soleh ini.

Menurut Ajengan Ahmad, sistem pasaran adalah ngalogat dengan lughat Jawa Sunda. Artinya, rumus ngalogat dengan menggunakan utawi, iki, iku, sementara penerjemahan dengan bahasa Sunda agar memudahkan santri yang rata-rata orang Sunda.

“Jadi, ketika ngalogat itu para santri sudah memahami dan bisa menjelaskan lagi karena ngalogat dengan bahasa mereka sendiri. Dengan sistem seperti itu, santri tidak ribet lagi memahaminya. Itu yang dimaksud ngalogat Jawa Sunda, Jasun. Sementara saat penjelasan menggunakan bahasa campuran, kadang bahasa Sunda, Jawa, Indonesia,” ungkapnya.

Adapun waktu pasaran, lanjut Ajengan Ahmad ini, selama 24 jam berlangsung 3 kali, yaitu pagi dimulai pukul 07 sampai dengan pukul 11.00. Siang dari pukul 13.00 sampai pukul 16.00. Malam selepas berlangsung selepas isya pukul 20.00 sampai pukul 00 atau pukul 01.00.

Menurut dia, tidak ada syarat khusus untuk mengikuti pasaran tersebut. Hanya keinginan niat dan sekaligus datang ke pesantren yang berada di Kp. Suweng, Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi.

“Syaratnya ya semangat mengaji aja; yang penting datang; paling juga beli kitab yang dikaji. Tak ada uang pendaftaran. Paling juga nanti ada patungan para santri saat perpisahan atau tafaruqan. Itu pun untuk makan bersama. Tidak ada persyaratan khusus,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ajengan Ahmad menjelaskan, sebetulnya saat ini di Pesantren Assalafiyyah Nurul Hikmah masih berlangsung pasaran Dzulhijjah. Nanti pada penutupan pasaran Dzulhijjah sekaligus pembukaan pasaran Muharam. Pada kesempatan tersebut akan dilaksanakan Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani dengan pembacaan wirid I’anatul Ikhwan. Wirid manaqib ini, ia mendapatkan ijazah dari ahli riyadlah asal Jember, Jawa Timur, Abuya KH Muzakky Syah.

Pesantren Assalafiyah Nurul Hikmah berdiri pada 1991 oleh KH Fariduddin Soleh. Selain ahli dalam khazanah kitab kuning, ia merupakan seorang penceramah kondang yang sedari muda berceramah dari kota hingga pelosok kampung-kampung. Salah satu gaya khas ceramahnya adalah ngabalap sehingga dia dikenal sebagai Ajengan Balap Muda.

Bagi para santri yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang aktivitas pasaran di Pondok Pesantren Assalafiyyah Nurul Hikmah, bisa menghubungi nomor kontak ini: +62 877-5127-1642.

Editor: Abdullah Zuma