KH Ruhiat Cipasung dan Kaderisasi NU Tasikmalaya Tahun 1936

251

Empat hari lalu, Pondok Pesantren Cipasung (Tasikmalaya) memperingati haul ke-46 sang pendiri, almaghfurlah KH Ruhiat. Pada haul tersebut, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Cipasung KH Acep Adang Ruhiat, sebagaimana diberitakan NU Online, mengungkapkan bahwa haul bukan hanya sekadar memperingati wafatnya seseorang, tetapi yang paling penting melihat perjuangan orang yang dihauli.

Dengan bersandar kepada pernyataan KH Acep Adang Ruhiat tersebut, para santri dan alumni Pesantren Cipasung dianjurkan untuk melihat perjuangan KH Ruhiat dan para kiai di Cipasung.

Timbul pertanyaan, bagaimana perjuangan KH Ruhiat dan para kiai di Cipasung? Para santri Cipasung dan muhibbinnya pasti mengetahuinya.

Meskipun saya bukan alumni Pesantren Cipasung, tapi saya mengaku murid dan mengagumi perjuangan pendiri dan para kiai Cipasung di antaranya dalam hal; pertama, istiqomah melakukan kaderisasi pemimpin-pemimpin di masyarakat dengan bekal ilmu agama dan umum melalui pendidikan pesantren. Kedua, istiqomah dalam memperkuat NU dari sejak berdiri hingga hari ini, tak goyah di segala musim dan zaman.

Pada tulisan ini, saya akan berupaya memaparkan sebagian kecil dari perjuangan memperkuat NU yang dijalankan KH Ruhiat. Namun, sebelum itu, diungkapkan terlebih dahulu profil singkatnya.

Kelahiran dan Sanad Keilmuan

KH Ruhiat lahir pada 11 November 1911 dari pasangan Abdul Ghofur dan Umayah. Semasa kecil ia dikirim ke pesantren terkenal di Singaparna saat itu, Pesantren Cilenga, yang diasuh oleh Kiai Sobandi atau Syabandi, murid Syekh Mahfudz at-Tarmasi. Di Cilenga saat itu didirikan sekolah tingkat menengah Matla’ an-Najah. Ruhiat mengaji di Cilenga pada 1922-1926.

Kemudian ia menjadi santri kelana pada masa 1927-1928, berguru ke beberapa pesantren, di antaranya Pesantren Sukaraja (Garut) asuhan Kiai Emed, Pesantren Kubang Cigalontang (Tasikmalaya) asuhan Kiai Abbas Nawawi, dan Pesantren Cintawana (Singaparna) asuhan Kiai Toha yang pernah pula menjadi santri Syaikh Mahfudz at-Tarmasi. Melalui Ajengan Sobandi dan Ajengan Toha, silsilah keilmuan Ruhiat sampai pada Syaikh Mahfudz Tremas. (Ensiklopedia NU, 2014)

Dengan demikian, ia terhubung dengan silsilah keilmuan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang merupakan murid dari Syekh Mahfudz at-Tarmisi.

KH Ruhiat mendirikan mendirikan Pesantren Cipasung pada 1932. Dalam mengajar santri ia menggunakan sistem ngalogat Sunda agar mereka lebih mudah memahami teks Arab kuning. Santri angkatan pertamanya berjumlah 40 orang, sebagian besar santri yang dibawanya dari Cilenga dan selebihnya warga sekitar Cipasung. (Ensiklopedia NU, 2014)

Kemudian ia mendirikan Madrasayah Diniyah pada 1935, mendirikan Sekolah Pendidikan Islam mendirikan pada 1949, mendirikan Sekolah Rendah yang kemudian berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah pada 1953, mendirikan Sekolah Menengah Pertama Islam dan ditambah Sekolah Menengah Atas Islam pada 1959, mendirikan Sekolah Persiapan IAIN yang kemudian berubah menjadi MAN pada 1969.

Selain sebagai seorang kiai pendidik, KH Ruhiat adalah seorang pejuang gerakan kebangsaan yang melawan penjajahan Belanda. Ia pernah ditangkap Belanda dan dipenjara di Sukamiskin Bandung (1941) dan di Ciamis (1942). Pada masa penjajahan Jepang, ia tersangkut pemberontakan yang dilakukan sahabatnya, KH Zainal Mustofa sehingga ia kembali dipenjara di Tasikmalaya (1944). Pada masa Revolusi kemerdekaan lagi-lagi ia dipenjara Belanda (1949).
(tentang 2 paragraf terakhir, lihat tulisan saya di NU Online Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung Sumber: https://www.nu.or.id/tokoh/abah-ruhiat-pendidik-dan-pejuang-dari-cipasung-82Zxf)

Kiai Ruhiat dan Kaderisasi Pemimpin NU

NU Tasikmalaya lahir, tumbuh dan berkembang pada saat kolonial Hindia Belanda. Di daerah tersebut, pada saat itu tumbuh dengan berbagai perkumpulan, mulai dari cabang dari perkumpulan yang berpusat di daerah lain yang berhaluan keagamaan seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis), Al-Ittihadul Islamiyah (AII), dan lain-lain. Tumbuh pula cabang dari perkumpulan yang bernuansa kedaerahan seperti Paguyuban Pasundan. Selain itu ada organisasi lokal khas Tasikmalaya seperti Idhar atau Persatuan Guru Ngaji (PGN), Majelis Ahlussunnah Singaparna (MAS) hingga Comite Penolak Syubhat (CPS), dan lain-lain.

Dalam situasi semacam itu, salah satu upaya untuk menanamkan NU di tengah masyarakat, para pengurus NU Tasikmalaya pada tahun 1936 membentuk Komite Propaganda.

Komite ini sepertinya sama dengan Lajnatun Nashihin yang dibentuk HBNO (PBNU) pada mukatamar ke-3 yang berlangsung di Surabaya pada 1928. Lajnah ini beranggota 9 orang yang langsung dipimpin Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Sembilan orang tersebut bertugas untuk mempercepat dan mendorong terbentuknya cabang-cabang NU di berbagai daerah.

Setelah daerah-daerah membentuk cabang, Lajnatun Nashihin mendorong para pengurusnya untuk mempercepat menanamkan NU di tengah-tengah masyarakat dengan ragam kegiatan yang diperkuat dengan membentuk ranting. Sepertinya, untuk tujuan seperti itulah NU Tasikmalaya membentuk Komite Propaganda yang dipimpin KH Ruhiat Cipasung.

Sebetulnya, bisa saja KH Ruhiat hanya tinggal di pesantren, mengurus dan mendidik anak-anak serta mengajar santri di Cipasaung. Namun, itu bukan pilihannya, ia turun gelanggang memperkenalkan NU dari satu tempat ke tempat lain, dari kota ke desa, sampai ke kampung-kampung terpencil yang melewati hutan belantara dan tebing terjal. (Lihat Al-Mawaidz edisi Agustus 1936)

Tak hanya itu, untuk memperkuat NU di kalangan anak muda, NU Tasikmalaya membentuk Ansor beserta Banser pada 1937. Kemudian diperkuat lagi dengan program khusus di setiap pesantren yaitu kursus kandidat muballig, seminggu sekali dengan nama Kursus Kader Muballighin wal Musyawirin.

Berdasarkan Ensiklopedia NU (2014) KH Ruhiat juga mengadakan Kursus Kader Muballighin wal Musyawirin di Pesantren Cipasung. Dengan adanya kursus itu, NU Tasikmalaya benar-benar serius berupaya menyebarkan NU ke tengah-tengah masyarakat. Setelah seseorang dinilai matang dalam kursus kader itu, lalu diajak ke gelanggang, misalnya Ajengan Sobir sebagaimana ditulis koran Sipatahoenan.

Teroes ngahatoeranan A. Sobir ti Paniis, pikeun nganasehat. Sigana bae ieu tanaga baroe, kakara ajeuna kapanggih ngelol ka pakidoelan: Adjengan nonoman badag salira tarik sora. Rai raka djeung noe geus mindeng kapanggih. Adj. Tjipasoeng.

{Selanjutnya A. Sobir dari daerah Paniis yang mendapat giliran menyampaikan nasihat-nasihatnya. Sepertinya ajengan ini merupakan tenaga baru karena baru muncul di wilayah selatan. Dia ajengan masih muda yang berperawakan besar dan suara nyaring. Adik kakak dengan ajengan sudah terbiasa di acara-acara NU, yaitu Ajengan Cipasung (mengkin Ajengan Sobir ini adiknya KH Ruhiat Cipasung)}.

Dengan demikian, NU Tasikmalaya sudah sedari dini memahami arti penting kaderisasi. Hal itu tampak jelas dari sepak terjang KH Ruhiat. Dia terbukti mencetak dan mensuplai pemimpin-pemimpin NU di tingkat lokal hingga nasional. Salah satu bukti nyata dari kaderisasinya adalah melahirkan KH Ilyas Ruhiat yang pernah menjadi Rais Aam PBNU 1994-1999.

Abdullah Alawi