Cerban (2): Banser Santoso, Semangat seperti Umar bin Khatab Keadaan Ibarat Bilal bin Rabah

189

Namanya Santoso. Umurnya menjelang kepala lima, 48 tahun. Sehari-harinya sebagai tukang tahu gejrot keliling yang kerap mangkal di Tegalega, Kota Bandung. Ada 4 anak dan 1 istri yang harus dinafkahinya. Dua atau 3 bulan sekali pulang kampung menemui keluarga di Brebes.

Pertengahan minggu ini, aktivitasnya sebagai tukang tahu gejrot berhenti total. Ia meminta izin istri untuk libur bekerja demi mengikuti kaderisasi Banser tahap kedua atau Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) yang diselenggarakan Satuan Koordinasi Cabang Banser Kota Bandung.

Saat mendengar Susbalan, ia mengajak 2 Banser teman di kampung untuk turut serta. Karena kebetulan lagi di kampungnya, Santoso dan kedua temannya berangkat bersama dari Ketanggungan pada Rabu pukul 11.00 tiba di Kota Bandung pukul 11 malam. Baru Kamis siang datang di kantor Pimpinan Wilayah Ansor Jawa Barat, tempat Susbalan berlangsung.

20 Tahun Tertunda Jadi Banser

Santoso lahir dan besar, serta seluruh anak dan istrinya saat ini tinggal di Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah. Meski demikian, Bandung bukanlah kota asing baginya, sehari-hari mencari nafkah di kota itu.

Bapak kelahiran 1975 ini mendengar tentang Banser sejak kecil karena mendengar cerita heroik ayahnya yang juga Banser di tahun 50-an. Karena itulah, dia ingin menjadi Banser sejak masa muda juga. Ia menyebut sejak 1995. Berarti persis saat usia 20 tahun.

Namun, karena nasib mengantarkannya ke sana ke mari untuk membantu orang tua dan mencari nafkah, baru tahun 2015 diterima dan tercatat sebagai anggota Banser setelah mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) yang diselenggarakan Satkorcab Brebes.

“Menjadi Banser adalah panggilan hati,” katanya. “Pun bapa oge Banser di tahun 50-an,” katanya yang kini sudah terampil berbahasa Sunda dengan lontong Jawa. “Tekad saya jadi Banser seperti Umar bin khatab, tapi keadaan seperti Bilal bin Rabah,” tambahnya.

Ungkapan Santoso seperti itu muncul sepertinya untuk mendeskripsikan kehidupannya yang sehari-hari bernasib seperti Bilal bin Rabah, sementara keinginan gagah seperti Umar bin Khatab.

Sebagaimana diketahui, Bilal bin Rabah adalah seorang budak di zaman Rasulullah Muhammad SAW tengah menyampaikan risalah kenabiannya kepada penduduk Makkah. Bilal adalah orang yang pertama beriman kepada Allah dan kenabian Muhammad SAW dari kalangan budak. Karena seorang budak, pilihannya beriman jadi pemicu penyiksaaan tuannya.

Sementara Umar bin Khatab adalah orang yang berperangai keras, gagah, sehingga disegani bahkan ditakuti kawan dan lawan.

“Jadi Banser disebat beurat ya beurat, dibilang gampang ya gampang, tergantung niatnya. Jadi Banser pun tidak mudah, banyak rintangan, banyak diklatnya,” katanya.

Namun, ia masih tetap keukeuh jadi Banser dan mengikuti kaderisasi lanjutan karena terlanjur mencintainya. Sebagaimana pengibaratan yang disampaikannya, meskipun keadaannya seperti bilal bin rabah, diperbudak kehidupan untuk mencari nafkah, tapi jiwa Bansernya seperti Umar bin Khatab.

“Ya, faktor sebagai warga NU juga,” katanya saat ditanya kenapa mesti tetap melanjutkan kaderisasi meski harus meninggalkan kerja di samping usia tak muda lagi.

Sebagai warga NU, ia merasa harus terkait dengan struktur. Memang ia bisa saja menjadi pengurus NU tingkat ranting atau lembaga dan banom lain, tapi dia merasa hanya Banser yang paling cocok untuk dirinya.

“Jelema mah kumaha vakna, teu mungkin bungkus rokok di eusian mie,” katanya lagi. “Saya cocoknya di Banser, tak mampu jadi pengurus NU,” katanya.

Di Banser ia merasakan suka dan duka, merasakan terbangunnya jiwa korsa, persahabatan, dan persaudaraan.

“Tempe hiji pagegel-gegel jeung babaturan, sangu murag ge titah dicandak, diemam. Pas ngepam tiasa uih deui sudah untung,” kenangnya. “Di Banser mah manjangkeun Baraya, loba dulur,” jelasnya.

Lulusan Es-Ed

“Saya hanya lulus es-ed,” kata Santoso dengan tertawa saat ditanya pendidikan terakhirnya.

Selepas SD, pada usia 15 tahun ia terpaksa harus bekerja membantu orang tuanya yang memiliki 12 anak. Jadilah ia kuli bangunan di Jakarta.

“Sempat ngiringan SMP terbuka, tapi teu lulus. Ceuk kolot teh geus we ngasab, ngasab, ngasab,” ungkapnya menirukan kata ayahnya.

Pada 1999 ia nikah. Untuk menafkahi istrinya, ia menjadi kuli serabutan di kampung sambil bertani. Saat bertambah anak, ia merantau ke Bali, mengikuti salah seorang kakaknya, untuk berjualan kue putu.

“Dagang kue putu anu meuli Ketut,” katanya sambil tertawa lagi.

Karena tragedi pemboman hotel di Bali. Ia tak berani lagi datang ke sana. Sementara mencari nafkah harus terus berjalan, ia mencoba mencari nafkah dengan jualan mainan, jualan agar, dan apa saja dikerjakan yang penting halal. Tempat kerjanya pun pindah-pindah, mulai Jakarta, Cirebon, dan Bandung hingga sekarang, sebagai tukang tahu gejrot.