Willy Dozan, Film, dan Teladan Pendahulu Kita

21


Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H. Yaqut Cholil Qoumas menyebut nama Willy Dozan saat pidato peresmian kantor kantor Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Barat di Jalan Terusan Galunggung No 9, Kota Bandung, Rabu (10/8/2022).

Menurut ketum yang akrab disapa Gus Yaqut ini, bintang film laga era 90-an tersebut, saat ini tengah menyiapkan film untuk Banser. Namun, ia tak menjelaskan secara rinci tentang film itu.

“Insyaallah kalau seluruh Banser 7 juta ini menonton, akan jadi box office,” katanya. “Masalahnya tidak bisa beli tiket itu lho. Kalau disuruh nonton, pasti mau nonton semua. Disuruh beli tiket ini yang jadi persoalan. Nati kita pikirkan caranya. Jangan kuatir. Jangan kuatir.”

Sebagaimana acara-acara NU, pidato Gus Ketum mengundang gelak tawa hadirin yang refleks dibarengi tepuk tangan seikhlas-ikhlasnya. Bisa jadi karena momentum pertemuan massal seperti masih jarang selepas pandemi Covid-19.

“Kalau filmnya sudah…filmnya sudah jadi, Mas WIlly?” tanya Gus Yaqut dan sepertinya yang bersangkutan menjawab belum. “Ok, kalau baru rencana, kita rencanakan semua Banser kita belikan tiket. Sama-sama rencana. Jadi, Mas Willy berencana bikin film, kita berencana belikan tiketnya untuk 7 juta Banser. Doakan saja mudah-mudahan ada,” jelasnya.

Kiai dan Seni sebagai Alat Perjuangan
Penggalan pidato Ketua Umum GP Ansor itu mengingatkan saya kepada sepenggal kisah sosok Jamaluddin Malik yang terdokumentasi pada buku autobiografisnya KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren.

“Tadinya anak buah saya bermaksud, jika sudah sampai di daerah Republik, rombongan akan membubarkan diri. Lalu kami menerjunkan diri dalam badan-badan perjuangan. Ada yang di Hizbullah (pimpinan KH Zainul Arifin) ada yang barisan pemberontakan rakyat (Pimpinan Bung Tomo) dan sebagainya.”

Menurut KH Saifuddin Zuhri kalimat itu disampaikan Jamaluddin Malik kepada KH Wahid Hasyim disaksikan seorang Laskar Hizbullah KH Fattah Yasin, yang kemudian bergabung ke Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dan KH Saifuddin Zuhri sendiri.

Ungkapan Jamaluddin malik itu terjadi di Yogyakarta, saat ibukota pindah dari Jakarta sejak 4 Januari 1946 hingga 28 Desember 1949. Saat wilayah Indonesia menyempit akibat perjanjian Renville pada 8 Desember 1947.

Berdasarkan ungkapannya itu, Jamaluddin Malik sepertinya merasa tidak berjuang untuk Tanah Air karena hanya beraktivitas di kesenian. Karena itulah, ia bersama kelompoknya berniat menetap di Yogyakarta dan akan turut mengangkat senjata untuk terjun ke kelaskaran dan tentunya meninggalkan pentas sandiwara.

Namun tak dinyana, niatnya itu ditolak KH Wahid Hasyim, ayahnya Gus Dur itu. Ia punya pandangan lain tentang perjuangan. Menurutnya, berjuang tidak harus dengan senjata atau kelaskaran. Perlu ada yang berjuang di di berbagai lapangan dan bidang, termasuk dalam kesenian. Lagi pula anggota kelaskaran sudah sangat banyak. Sementara orang-orang yang berjuang lewat seni, khususnya sandiwara, masih sangat kurang. Padahal itu amat penting dalam perjuangan besar.

KH Wahid Hasyim menambahkan, dalam pementasan sandiwara, bisa dijadikan tempat bertemunya orang-orang Republiken (Indonesia) dan mengumpulkan senjata. Oleh karena itulah, ia menyarankan supaya Jamaluddin Malik segera ke Jakarta, yang sudah dikuasai Belanda, karena kelompok sandiwara tidak akan dicurigai.

Jamaluddin Malik, GP Ansor, dan Film
Jamaluddin Malik lahir di Padang, Sumatera Barat 13 Februari 1917. Ia wafat di Munchen, Jerman, pada usia di 53 tahun, saat berobat penyakit komplikasi yang dideritanya di kota itu. Pada masa kecilnya, pada situasi penjajahan Belanda, ia turut serta dengan orang tuanya hijrah ke Jakarta. Di kota inilah, pada masa mudanya, ia pernah aktif di GP Ansor Kebun Sirih.

Jika GP Ansor berdiri di Banyuwangi pada1934, kemungkinan besar, ia aktif pada 1936 atau beberapa tahun berikutnya, pada usia 20 tahunan. Tokoh lain di Jakarta yang juga aktif di GP Ansor Jakarta saat itu adalah Zainul Arifin, seorang yang juga mencintai seni, jadi pokrol bambu yang di kemudian hari menjadi Panglima Hizbullah.

Tak heran kemudian jika Jamaluddin Malik mengenal KH Wahid Hasyim. Dan tak heran pula ia menerima pandangannya tentang seni sebagai alat perjuangan. Terbukti, Jamaluddin Malik memantapkan diri dengan berjuang terus lewat kelompok sandiwaranya.

Pada masa kemerdekaan ia tetap konsisten melanjutkan minatnya dalam dunia kesenian. Ia bersama bersama Usmar Ismail dan Asrul Sani bergabung di Lesbumi, sebuah lembaga seni budaya di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang resmi berdiri pada 28 Maret 1962.

Dedikasi terhadap dunia kesenian, khususnya perfilman, ketiganya tokoh Lesbumi ini menjadi tokoh utama perfilman nasional. Jamaludin mendirikan Persari yang membuahkan 59 judul film. Usmar Ismail mendirikan Perfini dan ditetapkan jadi bapak film Indonesia. Sementara Asrul Sani, di samping jadi sastrawan, ia juga sutradara masyhur.

Dengan demikian, para penduhulu NU, GP Ansor memiliki pandangan yang clear terhadap kesenian. Bahkan mereka tak hanya menonton, tapi kreator teruji, terbukti dan mendapatkan tempat tersendiri dan diakui secara nasional.

Abdullah Alawi