PKC PMII Jabar mengingatkan, Delegasi Indonesia di pertemuan OKI harus serius mengawal isu global utamanya konflik Timur Tengah

148

Pertemuan OKI di bandung menjadi sebuah catatan penting untuk negara islam yang tergabung dalam organisasi OKI. Hal ini disoroti juga oleh organisasi kemahasiswaan Islam, PKC PMII yang berhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah.
PKC PMII Jawa Barat memberikan perhatian khusus kepada agenda pertemuan OKI ini. Pasalnya kondisi global hari ini yang tidak stabil pasca pandemi covid 19, juga disibukkan persoalan besar seperti konflik kemanusiaan yang tidak berkesudahan dan juga resesi di berbagai negara.
Harapan PKC PMII Jawa Barat, dalam agenda ini mampu menghasilkan konsep bersama dalam menjawab isu strategis yang sedang melanda dunia. Indonesia sebagai tuan rumah sudah sepatutnya mampu memberikan kenyamanan dan keamanan para delegasi pimpinan Parlemen negara anggota OKI. Sehingga pertemuan ini dapat maksimal sesuai tujuan agenda tanpa ada kendala apapun.
Selain daripada itu, ketua PKC PMII Jawa Barat, Apriliana Eka Dani menekankan pentingnya pemerintah Daerah provinsi Jawa Barat sebagai tempat terselenggaranya pertemuan OKI, mampu untuk mengkonversikan agenda bersejarah ini kedalam proyek strategis daerah. Bukan tidak mungkin pertemuan ini menjadi daya jual secara afirmasi untuk Jawa Barat dengan berbagai potensi nya.

“Tak lepas, kami menekankan secara khusus kepada Gubernur Jabar, ridwan kamil, agar mampu memanfaatkan kesempatan emas ini diluar daripada kewajiban selaku tugas tuan rumah membantu Indonesia menyukseskan acara bersejarah ini. Dalam hubungan internasional, ini bisa menjadi pendekatan diplomasi budaya, berikan gambaran potensi Jabar semaksimal mungkin sehingga Jawa Barat diberikan kepercayaan untuk menjadi mitra kerjasama global.” Ujar April

April jaga mengingat kan agar pemerintah jangan berbangga hanya sampai dijadikan tuan rumah. Justru, itu PR pemerintah pusat dan Jawa Barat, bagaimana cara pasca agenda OKI ini minat kerjasama bilateral maupun multilateral antara Indonesia dengan beberapa negara anggota OKI terwujud.

“Jangan sampai kekhawatiran kami, sebagai tuan rumah, Indonesia dan Jawa Barat hanya dapat beban penyelenggaraan tanpa ada efek domino positif kedepannya. Karena mau tidak mau, ditengah resesi global upaya kerjasama internasional harus ditingkatkan utamanya investasi di bidang perekonomian, ketahanan pangan dan pendidikan serta riset teknologi.”

Lebih jelas, pria lulusan UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu menekankan pentingnya forum OKI yang diselenggarakan di tempat bersejarah ini harus melahirkan rumusan-rumusan yang bermanfaat bagi semua pihak.

“Saya sangat mengapresiasi pertemuan pimpinan parlemen OKI di Indonesia. Pertemuan tersebut sangat menarik karena dilaksanakan ditempat yang sangat bersejarah yakni di bandung. Bagaimana tidak, bandung menjadi tempat Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika yang berlangsung antara tanggal 18-24 April 1955 tepat nya di Gedung merdeka dalam melawan kolonialisme negara-negara imperialis serta mempromosikan kerja sama ekonomi dan kebudayaan. Ini bukti bahwa bandung menjadi epicentrum pelopor pertemuan dunia.”

“Forum internasional tersebut yang kurang lebih akan dihadiri oleh 57 negara akan membahas isu-isu global, salah satu nya perdamaian dunia. Sudah sepantasnya, Indonesia dengan mayoritas umat islam ditengah banyak perbedaan nya menjadi role model perdamaian dunia ditengah issue konflik beberapa negara di timur tengah yang tak kunjung usai, Indonesia hadir sebagai perwujudan islam yang rahmatan lil alamin, memberikan rahmat bagi semesta alam.”

Diakhir wawancara, April menegaskan kesetaraan gender pun menjadi bagian terpenting yang harus dirumuskan dalam forum tersebut, mengingat dari beberapa negara anggota OKI masih terdapat ketimpangan gender di negaranya.

“Pertemuan pimpinan parlemen OKI perlu juga menekankan isu perdamaian dunia pada konteks perempuan, dalam hal ini kesetaraan gender. Bagaimanapun hak-hak perempuan harus dijunjung tinggi karena kesamaan hak laki-laki dan perempuan sebenarnya merupakan bentuk dari pada perdamaian dunia itu sendiri. Suatu fakta, masih banyak negara-negara anggota OKI yang masih belum mengindahkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.”