Nuklir Sukarno: Kajian Awal atas Politik Tenaga Atom Indonesia 1958-1967

42


Oleh: Oky Nugraha Putra*

Judul : “Nuklir Sukarno: Kajian Awal atas Politik Tenaga Atom Indonesia 1958-
1967”
Penulis : Teuku Reza Fadeli
Penerbit : CV. Marjin Kiri
Tahun terbit : 2021
Ketebalan : 104 + vii halaman

Buku berjudul “Nuklir Sukarno: Kajian Awal atas Politik Tenaga Atom Indonesia 1958-1967” ini awalnya adalah skripsi di Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia yang disusun oleh Teuku Reza Fadeli yang saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral di University of York, Inggris.
Teuku Reza Fadeli sendiri merupakan Sejarawan yang memiliki minat kajian di bidang identitas, kelas menengah, sains, dan teknologi. Buku ini sendiri memiliki fokus bahasan mengenai sikap awal Sukarno terhadap teknologi nuklir, perubahan sikap politik luar negeri Indonesia, hingga respon dunia internasional terhadap minat Pemimpin Besar Revolusi dalam membuat bom nuklir.
Diawali pada Desember 1938 ketika dua orang ilmuwan Jerman bernama Lise Meitner dan Otto Frisch berhasil menguraikan permasalahan mengenai teknik fisi yang membantu menjelaskan riset yang dilakukan oleh Otto Hahn di Berlin. Pembelahan inti atom uranium menjadi dua bagian itu membuka jalan revolusioner di bidang teknologi nuklir saat itu.
Tidak sampai 10 tahun sesudahnya, akhirnya bom nuklir pertama diledakkan ketika masa Perang Dunia II terjadi oleh Amerika Serikat ketika menyerang Jepang. “Little Boy” dijatuhkan di kota Hiroshima pada 6 Agustus, menyusul “Fat Man” dilabuhkan di Nagasaki pada 9 Agustus 1945 (hal. 5).
Saat itu, sebagian orang mulai menyebut masa itu dengan zaman atom atau “The Atomic Age”. Istilah itu dipopulerkan oleh jurnalis harian “New York Times” bernama William L. Laurence. Perkembangan penelitian maupun uji coba teknologi nuklir khususnya pembuatan bom atom cukup mengkhawatirkan masyarakat internasional di pertengahan abad 20.
Akhirnya, pada 29 Juli 1957 lahirlah IAEA (“International Atomic Energy Agency”) di Washington DC, Amerika Serikat. Ketua pertama dari lembaga tersebut adalah Sterling Cole dari AS. Salah satu tugas badan ini adalah mengawasi perkembangan penelitian maupun pemanfaatan tenaga nuklir di berbagai negara untuk mencegah terjadinya perang atomik yang bisa memusnahkan umat manusia (hal. 25).
Bagaimana sikap awal Sukarno dalam melihat perkembangan teknologi nuklir di dunia saat itu? Dalam pidato saat rapat umum bertempat di Istana Negara pada 12 Juni 1958 beliau pada mulanya menolak keterlibatan Indonesia dalam berbagai macam perlombaan perkembangan teknologi senjata dalam bentuk apapun.

“tjara agar kita tidak mengalami peperangan dunia peperangan atom ialah semua sendjata atom dilemparkan ke dalam laut dan djangan membuat sendjata atom lagi! Itu pendirian kami!,” ucap Sukarno kala itu (hal. 31).
Namun, ini bukan berarti Sukarno anti terhadap perkembangan teknologi nuklir di dunia. Menurutnya, Indonesia harus berperan proaktif dalam meneliti hingga menguasai teknologi nuklir untuk kepentingan bangsa sekaligus mendukung penggunaannya dalam konteks perdamaian (“atoms for peace”).
Namun, beberapa tahun kemudian, perubahan arah politik luar negeri Indonesia menyebabkan kekuatan asing turut ikut serta dalam perkembangan teknologi nuklir di ibu pertiwi. Republik Rakyat Cina (RRC) saat itu sedang berusaha meluaskan pengaruhnya di Asia Tenggara, terutama Indonesia.
RRC sendiri sudah mulai mengembangkan teknologi nuklir pada 1956 dengan maksud untuk menandingi penelitian yang dilakukan negara Barat terutama AS dan Uni Sovyet. Tanggal 16 Oktober 1964 RRC berhasil melakukan uji coba bom atom pertama mereka. Tidak berselang lama setelah itu, Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan ke RRC pada 5 November 1964.
Masih di bulan yang sama, Indonesia menerima kunjungan kenegaraan balik dari RRC yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri, Chen Yi. Saat itu, RRC sepaham dengan Indonesia dalam kasus konfrontasi Malaysia dan sedapat mungkin mereka siap memberikan bantuan termasuk transfer pengetahuan di bidang teknologi.
Dibandingkan dengan Uni Sovyet, RRC saat itu lebih bisa berdekatan dengan Indonesia secara diplomatik. Ditambah kesuksesan mereka melakukan uji coba bom atom, Indonesia juga akhirnya mulai bersiap merencanakan penelitian dengan tujuan pembuatan bom atom karya anak bangsa.
Sehingga, pada Maret 1965 akhirnya lahirlah BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) sebagai usaha untuk lebih memfokuskan pemaksimalan teknologi nuklir di Indonesia, salah satunya membuat bom atom (hal. 57).
Semakin santernya pemberitaan tentang upaya Indonesia untuk membuat bom atom di awal tahun 1965 membuat dunia internasional mulai memalingkan mukanya ke negara kepulauan ini, dipimpin oleh AS. Bahkan dalam pemberitaan harian “Chicago Tribune” edisi 3 Februari 1965 menolak klaim kepemilikan bom atom yang dinyatakan oleh Indonesia saat itu.
Lebih jauh, dinas intelijen rahasia Amerika Serikat CIA merilis sebuah memo tepat satu hari sebelum peristiwa Gerakan 30 September 1965 menanggapi upaya Indonesia untuk memiliki bom atom sendiri. Mereka menanggapi kedekatan RRC dan Indonesia dalam pengembangan senjata nuklir serta meragukan kemampuan Indonesia dalam mengembangkan bom atom.
Menurut pandangan CIA, tidak mungkin RRC akan dengan mudah memberikan pengetahuannya tentang teknologi nuklir kepada Indonesia. Selain itu, stok fisi RRC juga terbatas, jadi tidak mungkin akan dibagi dengan mudah begitu saja. Alih-alih RRC memberikan bantuan, menurut CIA itu hanyalah ambisi dan harapan besar Sukarno belaka agar negaranya memiliki persenjataan nuklir (hal. 79).
Akhirnya, keinginan Sukarno agar Indonesia memiki bom nuklir buatan sendiri tidak pernah terwujud karena meletusnya peristiwa Gerakan 30 September. Sejak saat itu, kekuasaan Sukarno perlahan-lahan dilucuti dan hubungan diplomatik Indonesia-RRC mulai merenggang.
Akhirnya, pada 1967 ketika Soeharto naik ke tampuk kekuasaan sebagai presiden, hubungan diplomatik dengan RRC dibekukan, dan arah politik luar negeri Indonesia mulai berbelok ke kanan. Komunisme dipandang buruk dalam segala jenisnya dan BATAN kerjanya diawasi secara ketat oleh IAEA.

*Alumnus Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran