Meniti Karir Jejak Organisasi Mahbub Djunaidi

166

Oleh: Asep Mas’ud dan Abi Hasbi (tim media Ansor Jabar Online)

Semenjak duduk dibangku SMA Mahbub Djunaidi sudah mengikuti berbagai organisasi, ketika berusia 19 tahun, ia sudah menjabat sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama.
Pada saata memasuki bangku kuliah Mahbub menjadi salah satu pengurus yang aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada periode Ismail Hasan Metareum.
Di HMI lah Mahbub pernah dibentuk sehingga memiliki pola pikir kritis sebagaimana tradisi HMI yang sangat kental yakni ngopi, diskusi dan aksi.
Dikutip dari Buku PMII dalam simpul-simpul Sejarah perjuangan karya Fauzan Alfas, ada salah satu alasan Mahbub sering mondar-mandir berproses di HMI sebab HMI – Wati.
Baik karena mengisi malam inagurasi, forum pelatihan atau pun pelantikan. Begitu pula yang dialami oleh Mahbub Djunaidi. Dinamika kental diskusi di HMI, Mahbud menjadi salah satu aktor dan cakrawala yang berkontribusi bersama pengurusnya periode Ismail Hasan Metareu.
HMI tidak bisa dilepaskan pula dari sejarah sosok intelektual yang kritis ini dari kehidupan sang Pendekar Pena, Mahbub Djunaidi.
Hingga pada 17 April 1960, Mahbub dan para mahasiswa kader Nahdlatul Ulama (NU) membentuk Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Hal itu beralasan kuat, karena sangat dibutuhkan dengan wadah yang menyatukan golongan kader PMII khususnya berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU). PMII sendiri lahir karena menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman semakin pesat.
Berdirinya organisasi mahasiswa Biru Kuning itu bermula dengan adanya hasrat kuat para mahasiswa Nahdatul Ulama (NU) untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlusssunnah wal Jama’ah.
PMII didirikan Mahbub dan 13 tokoh lainnya atas keresahan di tubuh Nahdhatul Ulama dan kondisi perpolitikan Indonesia yang tidak stabil saat itu. Dimana HMI telah menjadi organisasi kemahasiswaan pertama dari tubuh partai Masyumi.
Ketika konfrensi besar Ikatan Pelajar Nadhatul Ulama (IPNU) yang memutuskan akan berdirinya Organisasi Kemahasiswaan Nahdliyin yang berskala nasional. Maka, diutuslah 13 orang delegasi mahasiswa NU dari berbagai wilayah yang akan mendirikan PMII. 
Setelah didirikannya PMII maka dipilihlah Mahbub Djunaidi sebagai ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dengan masa jabatan 1960-1967. Mahbub berusaha dengan sungguh-sungguh menjadikan PMII wadah pembentukan kader, sebagaimana diamanatkan kepadanya oleh Musyawarah NU seluruh Indonesia. Salah satu cara membentuk jiwa dan menempa semangat kader adalah melalui lagu-lagu, khususnya lagu mars organisasi. Dia sendiri menyusun lirik lagu mars PMII, lagu yang dinyanyikan pada setiap kesempatan dan pada saat akan memulai acar penting PMII, hingga sekarang. 
Setelah aktif sebagai ketua Umum PMII, Mahbub diminta membantu pengembangan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Ia sempat duduk sebagai seorang ketua pucuk pimpinan organisasi kader NU untuk kalangan pemuda itu. Dan untuk organisasi ini pula Mahbub menulis lirik lagu marsnya yang tetap digunakan hingga sekarang. Di dalam organisasi NU sendiri, Mahbub pernah duduk sebagai salah seorang wakil ketua PBNU. Ia juga pernah mewakili NU menjadi anggota DPR-GR/MPRS.

Sumber : NU Online, Kompas.com, pmiiss.or.id, yakusa.id, buku PMII dalam simpul-simpul perjuangan karya fauzan Alfas