Banser: Berani Mati, Takut Lapar

159


Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor merangkap Panglima Tertinggi Barisan Ansor Serbaguna (Banser) H. Yaqut Cholil Qoumas menjelaskan 3 perbedaan mendasar antara Banser dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
“Banser lahir duluan dibanding TNI; lahir 1934 bersama Ansor. TNI lahir 1945,” ungkap ketum yang akrab disapa Gus Yaqut itu pada pidato peresmian kantor Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat yang berada di Jalan Terusan Galunggung No 9, Kota Bandung, Rabu, (10/08/2022).
Namun, menurut Gus Yaut, ada 3 perbedaan mendasar antara Banser dan TNI. Pertama, TNI ada gajinya, sementara Banser tidak.
“Itu mutlak. Itu mutlak itu. Itu perbedaannya yang absolut dan tidak mungkin diubah,” tegas Menteri Agama RI ini.
Yang kedua, terkait dengan seragam. Jika TNI berseragam sama, sementara Banser tidak.
“Begini ini, tidak sama. Karena seragam yang mereka dapatkan bukan dari pimpinannya, bukan dari negara, tapi hasil dari keringat mereka sendiri,” katanya.
Menurut Gus Yaqut ketidakseragaman pakaian Banser karena sebagian anggota berpakaian masih baru, sementara yang lain mengenakan yang sudah lama.
“Sudah luntur-luntur, yang ini belum lunas. Cicilan di koperasi Banser belum lunas, tapi gapapa kita menunjukkan kecintaan ini dengan belum lunasnya seragam yang dipake,” katanya.


Kemudian yang ketiga, kalau TNI berani mati menghadapi apa pun, apalagi dalam membela negara; Banser sama, berani mati, tapi takut lapar.
Saat pidato Gus Yaqut saya berada di barisan paling belakang bersama mantan Satkorcab Banser Kota Bandung Ahmad Sanusi. Saya tak meminjam telinga siapa pun mendengar dengan jelas Panglima Tertinggi Banser menyebut: berani mati takut lapar.
Selama ini saya kerap mendengar ungkapan tersebut, tapi baru kali ini mendengar langsung dari pimpinan tertingginya. Langsung di hadapan ratusan Banser dan kemudian mereka tertawa bersama. Mungkin saya sendiri yang tidak tertawa karena keheranan.
Sikap saya sepertinya ditangkap Mantan Kasatkorcab Kota Bandung di samping saya. Ia tidak menjelaskan, tapi bercerita tentang Apel Banser di Surabaya. Ia mungkin merujuk pada peringatan harlah ke-80 Gerakan Pemuda Ansor yang dilaksanakan secara nasional di Jatim Expo Internasional, Surabaya, Sabtu (4/1/2014) yang diikuti Nasional yang diikuti sekitar 12.000 personel Banser. Kegiatan tersebut dihadiri Presiden SBY.
Menurut mantan Kasatkorcab itu, ada 300 Banser dari satu daerah di Jawa Tengah yang tidak bisa memasuki arena. Mereka merangsek ingin masuk ke dalam. Namun mereka terhalang Banser juga yang berjaga bersama Paspampres. Kericuhan pun hampir terjadi.
Namun, sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi, pimpinan Banser dari daerah tersebut berteriak.
“Banser… (menyebut nama daerah), balik kanan! Kita makan!”
Urusan selesai dengan seketika.
Banser adalah sesuatu yang tak pernah saya pahami sepenuhnya karena mungkin meskipun saya sering bergaul dengan mereka, saya tidak berada di dalamnya sehingga tak mampu menghayatinya. Misalnya saya tak mengerti ada orang tua berusia di atas 70 tahunan di Tasikmalaya masih saja tetap mau jadi Banser. Seorang ibu menyusui berseragam Banser (disebut Denwatser) masih sempat-sempatnya hadir ke acara. Dan ratusan orang itu, yang berasal dari 27 kota kabupaten di Jawa Barat bersedia meninggalkan aktivitasnya masing-masing di rumahnya. Apakah ratusan orang itu pengangguran semua? Mungkin ada, tapi saya yakin tidak semunya. Dan banyak lagi pertanyaan yang menggelayuti pikiran saya.
Sambil berjalan mencari tukang rokok, saya masih memikirkan ungkapan “Banser berani mati, takut lapar.” Ungkapan itu saya pecah menjadi 2 bagian. Pertama, berani mati, mungkin adalah konsep ideal Banser sebagai bagian dari warga negara, sebagai bentuk kesetiaan tanpa batas sehingga mati pun bersedia. Tak heran karena para pendiri Banser mengerti konsep “hubbul wathon minal iman”: mencintai, menjaga, dan mempertahankan negara merupakan bagian dari iman mereka. Hal itu tercermin dalam marsnya:
“Izinkan ayah Izinkan ibu
Relakan kami pergi berjuang
Dibawah kibaran bendera NU
Majulah ayo maju serba serbu (serbu)
Tidak kembali pulang
Sebelum kita yang menang
Walau darah menetes di medan perang
Demi agama ku rela berkorban”
Kedua, takut lapar. Dalam ilmu sosial yang pernah saya pelajari di bangku sekolah dasar, makan merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Kebutuhan yang tak bisa tidak harus dipenuhi jika ingin masih tetap hidup. Dengan demikian, tidak terpenuhinya kebutuhan makan merupakan sesuatu yang menakutkan. Saya rasa, tak hanya Banser, tapi seluruh umat manusia. Jadi, takut lapar sebenarnya sesuatu yang alamiah. Yang terpenting adalah bagaimana agar tidak lapar dengan cara-cara yang baik.
Kompetensi Harga Mati!
Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haedari beberapa waktu lalu bercerita kepada saya tentang ungkapan yang populer juga di kalangan Banser yaitu: NKRI harga mati!
Menurut dia, ungkapan itu memang sangat penting untuk dirawat dan diamalkan sebagai jatidiri Banser. Namun, lebih dari itu harus dipikirkan pula ungkapan lain, yaitu “kompetensi harga mati.”
Untuk konteks saat ini dan di masa yang akan datang, NKRI harga mati itu harus dirawat dijaga dengan meningkatkan kompetensi masing-masing tiap anggota Banser dalam segala bidang. Omong kosong jika NKRI harga mati tanpa kompetensi yang memadai.
“Ke arah sanalah Banser Jawa Barat akan dibawa,” begitu kira-kira ungkapan Kang Deni, “dan itu sudah dimulai dan dilaksanakan di mana-mana. Sudah mulai terasa saat ini, tapi belum maksimal. Mungkin beberapa tahun yang akan datang,” katanya.
Kang Deni mencontohkan, saat ini Banser Jawa Barat sudah mengerti untuk mengikuti kegiatan pelatihan-pelatihan harus membayar iuran dengan uang sendiri. Dan ternyata mau dan mampu. Beberapa tahun sebelumnya, jika ia menghadiri kaderisasi, pulang dengan tangan kosong. Saat ini para kader Banser berlomba-lomba menyediakan oleh-oleh yang merupakan produk dari mereka yang dikelola secara organisasi dan perorangan.
Lebih lanjut ia menegaskan, keberhasilan kompetensi itu bisa diukur dengan misalnya, jika tahun ini Banser merupakan mustahiq, tahun depan harus berubah menjadi muzakki.
Semoga!

Abdullah Alawi