Yayasan Hade Rancage Bekerjasama dengan Kementerian Agama dalam Upaya Penguatan Implementasi Moderasi Beragama di Sekolah

Yayasan Hade Rancage Bekerjasama dengan Kementerian Agama dalam Upaya Penguatan Implementasi Moderasi Beragama di Sekolah

Moderasi Beragama adalah proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku ekstrem atau berlebih-lebihan saat mengimplementasikannya. Yayasan Hade Rancage Citalaga bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama RI Menggelar kegiatan Penguatan Moderasi Beragama. Kegiatan ini merupakan kegiatan perdana yang dilaksanakan di Hotel Harper Purwakarta pada 13 hingga 15 November 2021.

Acara yang diusung merupakan Pelatihan Penguatan Implementasi Moderasi Beragama di Sekolah. Sasaran dari kegiatan ini yaitu para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat SMA sederajat di Lingkungan Kabupaten Purwakarta yang berjumlah 40 orang.

Sementara itu, ketua Yayasan Hade Rancage Citalaga Deni Ahmad Haedari menyampaikan dalam sambutannya bahwa kegiatan ini bagian dari upaya untuk mewujudkan pendidikan yang Wassathiyah dengan nilai islam rahmatan lil’alamin dan nilai pancasila. Ia berharap agar kegiatan ini menjadikan guru-guru PAI sebagai agen dalam meyuarakan moderasi beragama.

Deni Ahmad Haedari juga menerangkan adanya pemahaman konsep sejarah sebagai nilai juang yang perlu ditransformasi ke dalam bahasa modern sehingga peserta didik lebih tertarik.”Anak-anak kita seharusnya disibukan dengan kegiatan produktif seperti berwirausaha, memicu semangat mereka dengan meneladani Nabi Muhammad SAW yang merupakan seorang ekportir, bukan lagi berbicara bahwa Rasul itu berdagang, karena Rasulullah pada masanya sudah melakukan transaksi jual beli antar negara”.

Dalam kesempatan ini Abdurrahman S. Fauzi Ketua Yayasan Bina Alumni Mata Air yang merupakan pemateri pakar menyampaikan bahwa dalam melakukan upaya penguatan moderasi beragama haruslah dengan memahami antropologi SDM yang ada di wilayah tertentu.

“Mengapa paham esktrem dan radikalisme cepat menyebar, karena para pembawanya (yang mempengaruhi) tidak langsung secara gamblang menjelaskan kegiatan-kegiatan ekstrem, akan tetapi di awali dengan membicarakan minat target (orang) dan menjadikannya merasa ada kecocokan”.

Kegiatan ini juga merupakan pemantik dan pengingat bahwa kondisi yang tengah terjadi perlu diperhatikan dan dievaluasi. Apabila dibiarkan akan menjadi infeksi yang cepat menular. Maka dari itu, diharapkan kegiatan ini bisa menjadi langkah awal dalam menyebarluaskan paham moderasi beragama untuk mempertahankan warisan kemerdekaan dan keseimbangan yang diberikan oleh para pahlawan terdahulu.

comments