Surat Cinta Teruntuk Yang Mulia Habib Rizieq

9736

Oleh : Idham Kholid (Sekretaris PC Ansor Kabupaten Garut)

Tidak ada alasan untuk membenci Habib Riziq. Perlu ditegaskan lagi, tidak ada. Tidak kepada semua umat manusia. Apalagi kepada Habib. Keturunan Baginda Rosululloh. Manusia yang tentunya sangat kita sayangi dan junjung tinggi. Sholawatan adalah bukti nyata kecintaan kami pada Baginda Nabi. Tentunya semuanya demi Ridho dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Saya mengenal Habib Riziq jauh semenjak kejadian aksi akhir-akhir ini. Saya mengnal (tentunya lewat media televisi dan Koran) sebelum ramai di media social facebook dan twitter. Saya mengenal sebagai pemimpin FPI. Bicara FPI tentu yang saya bayangkan adalah Habib Riziq. Ada beberapa tetangga saya yang juga menjadi bagian atau anggota FPI. Bahkan, saudara saya juga.

Selama menjadi aktivis Ansor, saya sering berinteraksi dan bersilaturrahim dengan FPI. Baik itu dalam acara yang diselenggarakan oleh pemerintah ataupun acara lainnya. Amar Makruf dan Nahyi Munkar adalah (seolah-olah) tagline yang selalu disuarakan oleh sahabat-sahabat FPI. Sama seperti kami tentunya. Amar makruf dan Nahyi Munkar adalah keniscayaan karena itu tugas ummat Manusia. Tugas kita sebagai orang Muslim. Soal metodologi, saya yakin semua mempunyai keyakinan sendiri dan tentunya sikap itu, keyakinan itu kelak akan dipertanggung jawabkan di yaumil akhir yang sama-sama kita percayai.

Akhir-akhir ini nama Habib memang sering kita lihat dan baca di media. Media mainstream dan media social yang trend akhir akhir ini. Pro dan kontra. Tapi itu biasa. Bukan kah Nabiyulloh Nabi Muhammad juga ada yang membencinya? Tapi sudahlah. Kalo kita yakin, anjing menggonggong kafilah berlalu.

Saya suka semangat Habib. Bayangkan usianya yang menjelang usia 60, masih kuat beraktivitas yang seharusnya banyak dilakukan oleh pemuda. Betul muda memang bukan ukuran umur. Kebayang, bagaimana teriakannya, tangan yang selalu terkepal dengan pekikan takbir yang khas. Saya merasakan bagaimana dengan usia yang sudah bisa dikatakan lanjut. Hampir setiap minggu harus menghadiri pemeriksaan di Polisi. Mungkin wajar, kalau dalam beberapa kesempatan beliau mangkir. Meskipun Habib juga tau konsekuensi itu semua. Semoga Habib bisa melewatinya.

Kita tahu semuanya termasuk yakin Habib juga tahu. Indonesia hari ini beda dengan Indonesia masa dulu. Indonesia zaman sebelum reformasi. Dimana kebebasan begitu mahal. Kita harus berterima kasih kepada semua pahlawan reformasi. Termasuk Gusdur, Bib. Yang oleh Habib pernah dikatakan Buta Mata dan Hati. Tapi sudahlah gak perlu dibahas. Gusdur sudah tenang dialam sana. Kita doakan saja.

Ciri reformasi adalah meritokrasi. Habib yakin tau itu. Adanya kesempatan yang sama. Makanya tidak harus heran kenapa Jokowi bisa jadi Presiden. Mengalahkan Prabowo. Kurang apa Prabowo. Ganteng iya. Kaya raya iya, putra Begawan ekonomi iya. Tapi ya itulah meritokrasi.

Kalau Habib mengatakan bahwa aksi 212 itu dihadiri oleh tujuh juta-an orang. Bagi saya itu sangat luar biasa. Sekali lagi luar biasa. Tidak mudah mengorganisir orang untuk memberangkatkan menuju satu tempat yang sama. Sekali lagi itu luar biasa.

Karena luar biasa itu, saya punya saran yang saya yakin Habib akan mampu melaksanakannya. Saya ingin perjuangan habib menjadi lebih mudah dan tepat sasaran. Berjuanglah secara konstitusional. Bukan. Bukan saya mengatakan bahwa perjuangan Habib sekarang tidak konstitusional. Tidak. Demo dijamin oleh konstitusi. Tegasnya. Bentuklah Partai Politik, Bib. Apapun namanya. Mau Partai FPI, Partai 411 atau Partai 212. Silahkan.

Menurut saya berjuang melalui Partai tidak haram. Kalau hari ini banyak orang nyinyir kepada partai. Justru itulah ladang amal yang bagus buat Habib dan saya yakin Habib mampu. Bayangkan Bib. Kalau tujuh juta orang itu dikonversi jadi suara di TPS, itu bisa dikonversi menjadi 30 an lebih kursi di Legislatif. Luar biasa bukan?.

Bukankah perjuangan lewat politik itu dicontohkan oleh Nabi. Saya yakin Habib yang ahli agama lebih tahu itu. Kalau Habib ingin NKRI Bersyariah, lewat Partai Politik saya yakin itu bisa dilaksanakan. Ingin Gubernur yang muslim? Habib juga bisa usung Gubernur. Tidak perlu bikin Gubernur tandingan yang justru bikin masyarakat cekikikan. Mau jadi Presiden? Mengapa tidak. Habib tidak perlu lamar partai yang sudah ada. Jadi tunggu apalagi Bib. Salam Cinta.

Comments

comments