Stadium General IAIN Purwokerto: Egalitarianisme Budaya Banyumas Perkuat Moderasi

10

Stadium General IAIN Purwokerto:
Egalitarianisme Budaya Banyumas Perkuat Moderasi

Purwokerto—Jihad hari ini bukan memanggul senjata ke medan perang, tetapi menggerakan pena untuk mencurahkan nalar kritis melahirkan karya intelektual dalam membangun peradaban. Dikatakan Muhammad Roqib Rektor IAIN Purwokerto saat memberikan amanat Rapat Senat Terbuka Peresmian Mahasiswa Baru dan Stadium General, Kamis 22/8.

Alumni UIN Sunan Kalijaga ini mengajak mahasiswa untuk melakukan jihad mahasiswa. “Jihad hari ini buan mati di medan perang tetapi hidup selalu di jalan Alloh. Medan juang mahasiswa hari ini adalah memerangi kemiskinan, keterbelakaagan dan kebodohan”, tgas Roqib.

Roqib menerangkan ada dua istilah penting dalam Islam yaitu jihad dan ijtihad yang sangat dianjurkan. Jihad merupakan salah satu bentuk perjuangan memuliakan agama melalui upaya sungguh-sungguh secara fisik sementara ijtihad adalah upaya sungguh-sungguh dengan mengarahkan daya nalar kritis dalam rangka memuliakan Islam melalui kerja intelektual.

Dihadapan mahasiswa yang barus selesai mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), Roqib menghaarpkan mahasiswanya itu memiliki spirit man jadda wa jadda. “Siapa yang bersugguhsunggu dia akan sukses dan kesungguhan adalah syarat encapai kesuksesan”.

Ketua Rabitah Ma’ahidil Islam ini menuturkan kesuksesaan tidak bisa diperoleh secara instan tetapi meniscayakan kompetisi secara terbuka. Karenanya siapapun yang berkualitas dia akan menjadi pemenang dan mengambil peran kesejarahan, sebaliknya yang tidak berkualitas hanya akan menjadi penonton.

Dalam rangka mempersiapkan masa depannya, Ketua MUI Banyumas ini berpesan kepada mahasiswa untuk bersungguh-sungguh dalam proses studi dan aktif dalam berorga nisasi.

Ruchman Basori Kasubdit Sarana, Prasarana dan Kemahasiswaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam yang bertindak memberikan stadium general mengatakan sulit dipahami kalau ada orang Banyumas atau wong penginyongan berpikiran radikal dan intoleran.

Ruchman membawakan tema ”Menguatkan Moderasi Beragama dalam Spirit Budaya Penginyongan” mengatakan bahwa egalitarianisme sebagai ciri “penginyongan” akan memperkuat pemahaman dan sikap moderat di masyarakat.

Menurut Kandidat Doktor Universitas Negeri Semarang, Banyumas tidak mengacu geografis sebuah kabupaten di Jateng bagian selatan semata, tetapi menyangkut eksistensi kultural yang membentang di wilayah Kabupaten Kebumen, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap, serta Pekalongan dan Wonosobo bagian selatan;

“Secara kultural dan geografis budaya penginyongan akan memberi ruang gerak tumbuhnya moderasi beragama, karenanya mahasiswa IAIN Purwokerto harus menjadi bagian penting untuk itu”, katanya.

Mengakhiri kuliah umum, Ruchman berpesan kepada mahasiswa baru untuk belajar Islam dengan benar melalui sumber yang otoritatif dan menjadi mahasiswa yang cerdas dan kritis (critical thinking). “Menjadi warga media sosial yang sehat untuk melakukan counter narasi dan idiologi radikalisme dan intoleransi”, tidak kalah pentingnya kata Aktivis Mahasiswa ’98 ini.

Rapat Senat Terbuka dan Stadium General dihadiri lengkap anggota senat yang dipimpin Abdul Wahid, Wakil Rektor I Fauzi, Wakl Rektor II Ridwan dan Waki Rektor III Sulkhan Chakim, dosen dan civitas akademika IAIN Purwokerto. (RB)

comments