Sorogan Gitu Loh

Oleh : Ibon santri Songong

Sumpah sampai saat ini saya nggak tau bahasa Indonesia-nya sorogan. Yang jelas, istilah sorogan berada di lingkungan pondok pesantren. Terutama pesantren salafiyah.

Saya sempat pesantren. Kendati, hanya ikut ngeliwet dan nyuit-nyuitin santriwati yang cantik jelita saja tatkala lewat di asrama santri, tapi saya paham betul apa itu sorogan.

Secara kultur, soragan suatu aktivitas konstruktif yang hidup di pondok pesantren. Biasanya dilakukan oleh santri junior yang mau melanjutkan hanca kitab kuning-nya ke santri yang sudah lama belajar di pesantren.

Edan rasanya kalau sorogan dilakukan secara intens. Sebab, bisa disebut santri kece ketika sudah mampu menamatkan beberapa kitab kuning. Apalagi sampai paham banget sama esensi yang terkandung dalam kitab kuning yang kita pelajari.

Sorogan memang indentik dengan kitab kuning. Namun, saya pikir untuk bersorogan nggak masalah juga jika belajar ilmu selain dari kitab kuning.

Kultur sorogan, setelah kita enggak tinggal di pesantren lagi, saya kira masih bisa dilakukan di luar. Karena, saat ini istilah sorogan bukan hanya milik pondok pesantren, tapi masyarakat Indonesia boleh memakainya. Sah dan saya pikir santri se-Nusantara nggak bakal protes.

Sorogan tentunya berbeda dengan les privat. Ada kesan berbeda ketika kita bersorogan. Sebab, ketika kita sorogan ke orang yang kita anggap ilmunya lebih tinggi, ada pesan lain dalam prosesnya. Yakni pesan persaudaraan. Guru kita nggak berharap apapun dari kita. Yang ia inginkan yaitu kita tetap bersorogan dengan konsisten dan apa yang diajarkan bisa terserap oleh kita.

Ya termasuk dalam kehidupan sehari-sehari. Sorogan harus kita jalankan sampai kapanpun. Bahkan sampai mati. Jangan sok pintar. Kita harus tetap bersorogan kepada siapapun. Termasuk kepada Iblis. Ambil ilmu keteguhannya dan jangan ambil ilmu tipu dayannya.

Semoga kultur sorogan nggak hilang dari peradaban. Belum bisa disebut santri kalau nggak pernah melakukan sorogan. Macam cari ilmu. Jangan pernah berniat untuk berhenti, sampai dunia ini malas untuk berdiri tegak.

Banyak ulama yang lahir dari hasil sorogan. Termasuk guru besar kita Almarhum Gus Dur.

Jadi gitu. Sesongong-songonya santri bakal mantap hidupnya ketika bisa memaknai arti sorogan.

Sorogan gitu loh! Nggak keren di pondok kerjaanya Cuma tidur cantik. Sorogan penting. Supaya kita menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa. Amin. Cag.

comments