Sholawat Birosulillah Untuk Harmoni Bangsa

901

Dalam syair Sholawat Birosulillah di atas ada tiga peran manusia dalam menjaga kekuasaan dunia:

Pertama, para pemegang risalah Tuhan YME (Rosulullah)

Kedua, para badawi yaitu manusia yg berpasrah diri bertawakal menjaga pengetahuan warisan kearifan lokal menjaga harmoni gerak alam semesta, dan

Ketiga, Bani Alawi, yaitu manusia unggul bisa bersabar dan waspada hingga terbuka pikiran dan relasi untuk melangkah dalam keberuntungan (kapitalism).

Manusia unggul yang tidak bekerjasama dengan kaum badawi pasti harus terlibat konflik abadi dalam mempertahankan keberuntungan di muka bumi. Kaum badawi yang menolak Bani Alawi pasti hidup dalam isolasi, dengan menutup diri dari pergaulan luas di muka bumi.

Manusia yang bisa membuka jalan kerjasama saling menerima badawi dengan Bani Alawi, itulah para utusan Alloh yang bekerja menciptakan suasana kedamaiaan dalam kehidupan di muka bumi.

Dari ras unggul Bani Alawi ada hikmah perdagangan dan modernitas. Dari Ras Badawi ada hikmah agraris dan kelestarian alam (Kearifan lokal).

Kebijakan negara Jepang, Australia dan beberapa negara Eropa sekarang adalah model kerjasama Bani Alawi-Kaum Badawi. Mereka hidup bersama dengan suasana damai. Berbeda halnya pada beberapa negara dan bangsa di Afrika dan Timur Tengah yang terus diliputi gejolak perang agama, ideologi, dan suku bangsa. Apakah Indonesia dalam persimpangan ikut kedamaian atau konflik berkepanjangan ?

Terserah kelakuan dan kebijakan untuk ikut jalan damai atau perang berkepanjangan karena dua dua nya jalan Tuhan YME untuk mendewasakan para penghuni bumi.

Sebagai bangsa yang sudah menerima seutuhnya dialektika kehidupan dalam suasana life is beautifull, harus  sudah siap daboribo (damai boleh ribut boleh). Revolusi Indonesia telah dilalui, perang ideologi sudah dilakoni antara DI/TII-NKRI, PKI-TNI, orde baru-reformasi. Sekarang jalan damai atau konflik menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia pasti harus dilalui.

*Disarikan dari Petuah Petapa Padepokan Sambung Nyawa Garut

comments