Salamun, Anak Yatim Mandiri Buka Usaha Pangkas Rambut

Salamun, Anak Yatim Mandiri Buka Usaha Pangkas Rambut

Indramayu, Sekolah Menengah Kejuruan Nahdlatul Ulama (SMK NU) Krangkeng terus membuktikan diri sebagai salah SMK yang mampu mencetak lulusan siap kerja. Dengan pola pengajaran khusus dan mempersiapkan mental para siswa agar berjiwa mandiri, lulusannya mampu menangkap peluang yang ada serta mau membuka usaha sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Kepala SMK NU Krangkeng, Amin Hidayat kepada NU Online Jabar, Rabu (23/09) menjelaskan, pendidikan kejuruan adalah bagian dari sistem pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada satu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan tertentu. Menurut penjelasan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 15, pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.

“Pengertian untuk bekerja pada bidang tertentu tersebut bukan hanya berdasarkan jurusan yang dipilih oleh siswa, tetapi yang lebih utama adalah memiliki jiwa wira usaha sehingga lulusan SMK NU Krangkeng tidak nganggur dan hanya mengandalkan mencari lowongan pekerjaan dari perusahaan atau industry semata, seperti dibuktikan oleh salah seorang alumnus SMK NU Krangkeng yang bernama Salamun. Meskipun di SMK tidak ada jurusan pangkas rambut namun dia memiliki keahlian di bidang itu dan jiwa usahanya tumbuh sehingga mampu membuka usaha pangkas rambut bahkan sekarang sudah berkembang pesat sehingga bisa membuka cabang di tempat lain dan mempekerjakan temannya sesama alumni SMK NU Krangkeng,” ungkap Amin Hidayat.

Salamun  adalah anak yatim piatu dari pasangan almarhum Kadmuin dan almarhumah Muijah warga Desa Srengseng Kecamatan Krangkeng. Berdasarkan ilmu kewirausahaan yang didapat saat sekolah di SMK NU Krangkeng serta dilatih kemandirian dalam bekerja, Salamun kini mampu berdikari merintis usaha pangkas rambut yang diberi nama “As-Salam”. Pada saat masih sekolah, Salamun sudah bekerja, pagi ia sekolah dan siangnya bekerja di pangkas rambut Jagapura Kecamatan Gegesik, Cirebon.

“Saya dilatih sejak di bangku sekolah SMK NU Krangkeng untuk hidup mandiri dan mampu membuka usaha sendiri, kebetulan saya memiliki keahlian dalam bidang pangkas rambut dengan ikut bekerja sambil sekolah, sehingga tanpa ragu saya membuka usaha ini sejak nol dan Alhamdulillah sekarang sudah berkembang pesat bahkan saya sudah membuka cabang di daerah lain dan mempekerjakan teman-teman alumni SMK NU Krangkeng yang masih nganggur,” ucap Salamun.

Pangkas rambut As-Salam yang pertama kali dibuka oleh Salamun berada di Blok Sekarmembe Desa Srengseng dan pangkas rambut yang kedua berada di samping Koramil Krangkeng. Saat ini Salamun mempunyia dua orang pegawai yang juga alumni SMK NU Krangkeng.

“Harga pangkas rambut di As-Salam untuk dewasa Rp. 10.000 dan untuk anak-anak Rp. 8.000, setiap hari pangkas rambut selalu ramai dikunjungi pelanggan sehingga saya bisa meraih keuntungan rata-rata perhari Rp. 200.000, untuk dua orang yang ikut bekerja dengan saya juga Alhamdulillah bisa menikmati penghasilan setiap hari sehingga mereka bisa membantu keluarganya,” beber Salamun.

Di ahir keterangan, Salamun menargetkan untuk terus membuka cabang pangkas rambut di beberapa tempat lainnya, dirinya bertekad untuk mengajak anak muda yang masih menganggur karena saat ini masih banyak anak muda di desanya yang tidak bisa bekerja dan hanya mengandalkan kehidupan pada orang tuanya.

“Tidak perlu malu dalam mencari rezeki dan tidak perlu gengsi untuk membuka usaha apapun, yang terpenting usaha kita adalah halal, selain itu kita harus mampu melihat peluang yang ada, modalnya adalah tekad kuat dan tidak pantang menyerah, meskipun kita mulai dari nol, tetapi jika ditekuni dan diseriusi maka usaha kita pasti akan berkembang. Prinsip saya adalah daripada kita bergantung pada orang lain dan menyalahkan nasib, lebih kita berusaha dengan sekuat tenaga atau ihtiyar dan jangan lupa berdoa untuk merubah nasib kita, guru-guru kami dulu di SMK NU Krangkeng mengajarkan bahwa Allah tidak akan merubah nasib sebuah kaum kecuali mereka mau merubah nasibnya sendiri,” pungkas Salamun.

Pewarta: Iing Rohimin
Editor: Abdullah Alawi 

Sumber : NU Online Jabar

comments