Rihlah Pemikiran Gus Dur

242

Rihlah Pemikiran Gus Dur

Oleh:

Wahyu Iryana*

Banyak sekali tulisan-tulisan tentang KH. Abdurrahman Wahid atau yang biasa dipanggil Gusdur seolah-olah seperti mata air yang terus mengalir, sebut saja salah satunya buku Biografi Gusdur yang di tulis oleh Creg Barton. Ataupun karya-karya Gusdur sendiri dalam Pesantren dan Pembaharuan, Gusdur Menjawab Perubahan Zaman, Kiai Nyentrik Pembela Pemerintah, Islamku, Islam Kita, Islam Anda, Gusdur Diadili Kiai-Kiai, Agama dan Kebudayaan, Tabayun Gusdur, dan Prisma Pemikiran Gudur telah mengingatkan kembali alam bawah sadar kita untuk mengikuti perjalan hidup dan sepak terjang sang guru bangsa.

Gusdur yang terlahir dalam lingkungan pesantren, telah membuka mata masyarakat dunia lewat aksi-aksi pembelaan terhadap masyarakat tertindas, membela Hak Asasi Manusia (HAM), dan pendekar pluralisme. Sepak terjang Gusdur dalam mengawal bangsa Indonesia tidak dapat diragukan lagi, pada waktu Gusdur masih aktif di Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), ia telah melakukan terobosan-terobosan yang progresif salah satu yang dilakukan Gusdur ketika menjamurnya ormas-ormas Islam dalam bentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dibentuk pada era akhir kepemimpinan Soeharto, Gusdur lebih memilih untuk membentuk Forum Demokrasi (Fordem) sebagai media komunikasi masyarakat lintas agama. Apa yang dilakukan Gusdur dalam mewujudkan kerukunan umat beragama dan menjunjung tinggi nilai perdamaian manusia, telah mengantarkannya meraih nobel perdamaian Asia.

Gusdur sangat pandai memanfaatkan moment, pada umumnya sepak terjang gusdur berisi ajakan kepada rakyatnya untuk bersatu atas dasar semangat kebangsaan. Maka Gusdur tidak pernah berhenti untuk membela masyarakat yang tertindas dengan bukti sikap-sikapnya yang riil. Ia menggerakan dan menggelorakan semangat rakyat untuk berbuat apa saja yang berkaitan erat dengan semangat kebersamaan dalam bingkai kebhinekaan. Gusdur mamang suka membuat celotehan-celotehan segar yang membuat geram lawan politiknya, namun Gusdur dengan gaya khasnya sesekali berucap “Gitu aja ko repot…” dengan keterbatasan indra penglihatannya Gusdur telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang memeiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, ia menguasai berbagai jenis bahasa dan memliki pengetahuan yang luas tentang kebudayaan, politik, sosial, keagamaan dan hampir semua cabang ilmu ia kuasai.

secara mengagumkan Gusdur dengan gaya bahasa orasi seperti retorika, personifikasi, dan hiperbola mampu menghipnotis 200.000 rakyat Indonesia dalam setiap lawatannya ke daerah-daerah di seluruh penjuru tanah air. Tidak dapat dipungkiri darah biru yang mengalir dalam diri Gusdur adalah bagian tak terpisahkan dari proses perjalanan karirnya menjadi orang nomer satu di tanah air. Gusdur sebagai anak dari KH. Wahid Hasyim (Mentri Agama pada masa Presiden Soekarno) dan cucu dari Hadratus Syeh KH. Hasyim As’ary sebagai pendiri NU telah melegitimasi keberadaan dirinya di tengah masyarakat Indonesia sebagai orang yang dihormati dalam kalangan kaum Nahdiyyin. Dalam bahasa lain Gusdur adalah Hasan-Husainnya orang NU di Indonesia.Gusdur terbukti bukan hanya gemar beretorika tetapi juga pandai menulis. Sebelum ia menjadi presiden tulisan Gusdur banyak terseber di berbagai surat kabar, salah satunya di Tempo. Salah satu tulisannya yang menarik adalah Agama dan Kebudayaan dan wawasan pengetahuannya dalam Prisma Pemikiran Gusdur. Sebagai salah satu barometer kekuatan ide gagasan Gusdur.

Perjuangan Menjungjung Perdamaian

Para sejarawan sepakat bahwa Gusdur adalah guru bangsa yang tak tergantikan, pada zamannya Gusdur telah mampu menggalang kekuatan rakyat untuk menjadikan Indonesia menjadi negara yang berkompromi dengan semua negara di dunia. Kejatuhan Gusdur dari kursi kepresidenan adalah bagian yang haru dicatat dalam sejarah panjang bangsa Indonesia, sebagai realisasi pelaksanaan kata-kata. Gusdur menggelorakan semangat rakyat tidak hanya setelah ia menjadi presiden, tapi jauh setelah itu ia masih tetap saja melakukan kegiatan-kegiatan sosial untuk membantu mereka yang tertindas, lewat pidato, tulisan dan tindakan-tindakannya, bangsa dan rakyat Indonesia didorong untuk mempunyai semangat persatuan dan bangga dengan negara Indonesia.

Sebagai seorang yang lahir dalam tradisi pesantren Gusdur juga telah melakukan tafsir ulang tentang kerangka pengembangan dokrin Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), menurut Gusdur pengenalan Aswaja harus disusun sebagai dasar-dasar umum kehidupan masyarakat, yang meliputi bidang-bidang umum Pertama, pandangan manusia dan tempatnya dalam kehidupan, Kedua, pandangan tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, Ketiga, pandangan tentang individu dan masyarakat, Keempat pandangan ekonomis tentang pengaturan kehidupan bermasyarakat, Kelima, pandangan tentang tradisi dan dinamisasinya melalui pranata-pranata hukum, pendidikan, politik dan budaya, Keenam, pandangan tentang cara-cara pengembangan masyarakat, Ketujuh, pandangan tentang asas-asas internalisasi dan sosialisasi yang dapat dikembangkan dalam kontek doktrin formal yang diterima saat ini. Menurut Gusdur secara terpadu, kesemua pandangan di atas akan membentuk perilaku kelompok dan individual yang terdiri dari sikap hidup, pandangan hidup, dan sistem nilai yang secara khusus dapat disebutkan sebagai watak khusus Ahlusunnah wal Jama’ah.

Jiwa jaman (Zeitgest) benar-benar memberikan persiapan kepada Gusdur untuk memenuhi panggilan zamannya dalam mencerdaskan bangsanya di pelbagai segi perjuangan khususnya seperti: Pertama, Melawan segala bentuk penindasan, Kedua, memberikan pemikiran tentang semangan kesatuan dalm keragamanan, Ketiga, Membela kepentingan rakyat, Keempat, Kerukunan umat beragama, dan Kelima, Mengenalkan Indonesia dalam dunia Internasional. Hal tersebut merupakan bukti apa yang telah dilakukan Gusdur merupakan legitimasi kepemimpinan sejati untuk seluruh rakyat Indonesia.

Creg Borton dalam Biografi Gusdur menguraikan dengan apik perjalanan hidup sang kiai kharismatik dan budayawan yang merakyat, karena perjalanan hidup Gusdur adalah perjalanan hidup bangsa Indonesia. Perjuangan Gusdur adalah perjuangan rakyat Indonesia. Walaupun awal yang baik belum tentu berakhir dengan baik. Gusdur adalah sekian banyak tokoh yang mampu menggguncang dunia, tokoh besar yang pernah lahir dari rahim ibu pertiwi, dilengserkan secara menyedihkan. Setalah berhasil mendapatkan gelar sebagai tokoh perdamaian dunia, Gusdur harus menghadapi permasalahan intern negaranya.

Kini Gusdur telah tiada meninggalkan kita semua, namun jasa-jasanya dalam membela kaum tertindas, mencintai perdamaian, menghargai perbedaan akan tetap kita kenang. Terlepas dari kesalahan yang pernah dibuatnya, kita perlu jujur bahwa kita kehilangan sang budayawan sejati, guru bangsa, bapak pluralisme yang mencintai persatuan, kebersamaan, dan kerakyatan. Esensi dasar dari semua itu hendaknya kita mengambil hikmah dari perjalanan hidupnya.

Harus diingat Gusdur bukan hanya bertahan sebagai seorang idiolog dan pemikir politik, namun juga dari waktu ke waktu rakyat Indonesia akan selalu mendambakan ide pemikirannya yang telah mendahului bangsanya untuk mencetuskan gagasan-gagasan idiologi kebangsaan. Bahwa dalam gagasan pemikirannya, Gusdur selalu menegaskan semangat kebersamaan, nasionalisme dan prinsip kesatuan. Artinya apa ini semua? Pada masa krisis nasionalisme dewasa ini, penulis berpendapat bahwa gejala gerakan radikalisme dan separatisme adalah dampak dari kurangnya rasa kesatuan dan persatuan bangsa, sehingga gerakan radikalisme tersebut membutuhkan ruang gerak politik untuk beremansipasi. Pelajaran sejarah dapat ditarik dari napak tilas perjalan hidup sang kiai desa, sekaliber Gusdur.

* Dosen Honorer Sejarah Kebudayaan Islam UIN Bandung. Ketua Kaderisasi GP Ansor Kota Bandung.

Comments

comments