Republik selimut

50

Malam hari aku sedang berada dalam kondisi menyedihkan, dikelilingi hewan buas ditengah hutan. Teman teman berburuku lari tanpa pikir panjang meninggalkanku seorang diri. Bagaimana mungkin Setega itu.

Ah dasar! jelas pemburu tak pernah punya rasa iba. orientasinya hanya uang dan barang koleksi. Jangankan manusia yang populasinya banyak dan tak bercula, hewan hampir punah sekalipun mereka buru. Aku menyesal telah masuk dalam lingkaran menyedihkan ini. Aku menangis sejadi-jadinya, tak peduli bahwa hewan buas sedang menatapku penuh berkah, lapar, sadis dan ganas. Harimau, serigala, macan bahkan ular sekaligus melingkar untuk siap menyergap hidungku, mataku, kakiku, bahkan kemaluanku.

Harimau menggaung dan mengganggu mengusir serigala untuk pergi agar bagian tubuhku lebih besar untuk dirinya. Sedang mereka ribut, ular siap mematuk hidungku yang pesek ini, beruntung beberapa senti depan hidungku ular itu terjatuh, ekornya ternyata terinjak oleh hewan yang entah apa namanya. Jelmaan dari tiga hewan sekaligus, badak, orangutan dan serigala.

Sampai hewan yang entah apa namanya seolah berbicara dengan suara lembut namun menyeramkan, tentunya dengan bahasa hewan sehingga semua hewan buas yang berada disekelilingnya mundur dan tunduk. Sontak aku semakin panik, nampaknya hewan aneh ini adalah pemimpin kawasan ini.

Wajahku memerah keapian, pucat tak karuan. Lemas. Hampir pingsan. Saat diriku teriak kembali berharap teman teman berburu balik untuk memburu hewan langka dan mungkin cuma ada satu di dunia ini.
” Woi pemburu! Cepat balik kembali kesini. ada hewan yang aneh dan mungkin satu satunya di dunia. harganya pastilah sangat mahal! Cepat kesini bantu aku untuk melumpuhkan nya Pastilah sangat mahal! kita pasti akan kaya dan tidak perlu berburu lagi . ”

Dengan tatapan penuh curiga, sang hewan aneh segera mendekat dan mulai mengendus layaknya hewan normal lain ketika mereka sedang mempelajari makanannya.”
” Ja…ja.. jangan makan aku, dagingku tidak enak, pergilah! Tolong kasihanilah aku. Aku menyesal telah mengikuti mereka dan membohongi diri sendiri. Sungguh, akupun tak nyaman dengan kebiasaan pemburu, aku hanya ingin mencari uang yang banyak.”
“Jangan GeEr kau, aku tak Sudi memakan daging manusia apalagi sejenis dirimu yang begitu menyedihkan, munafik dan penuh dosa . Walaupun aku sering disebut seram, tapi aku selalu makan yang baik dan tidak membunuh kecuali terpaksa membunuh dengan catatan sekali lagi tidak ku makan. Aku herbivora. Aku benci daging. apalagi daging kau .” tangkas hewan seram itu tanpa memberikan jeda antara permohonan diriku dengan suara alam sedikitpun.

Di sisi lain, suara gaduh mulai terdengar. nampak ada 4 orang dewasa datang dengan peralatan berburu lengkap, itu adalah teman ku yang tadi. Namun, aku kemarin ber tujuh. kemana dua lagi, aku bertanya-tanya dalam hati.
“Betul juga kau bilang ini hewan langka, aku belum pernah melihatnya. Apakah kalian pernah melihat hewan seperti ini sebelumnya? ” Tanya pria satu yang gemuk dan pendek .
“Sama sekali tidak bos, bahkan belum pernah ku menemukan hewan seaneh ini. paling aneh. Mirip badak, tapi berbulu, dan ah ini mirip tiga hewan kawinan!” Seruan pria kedua yang lebih muda dan kurus dibanding pria pertama.
Benar, dia adalah anak buah kawanku Tamir, kolektor terkenal yang juga mengajakku untuk berburu, setiap hewan buruan aku mendapatkan upah. tergantung hewan apa yang didapat, semakin langka semakin fantastis harganyapun. Bukan main bisa mendapat puluhan juta kami jikalau beruntung,berkah bagi kami mendapat gading gajah sumatera. Sampai tidak sadar ternyata aku sudah mulai menjadi budak kawan ku itu, Tamir. Orientasiku pun berubah, hanya uang dan uang tanpa berpikir ekosistem hutan . Dosaku mungkin sudah segunung tinggal menunggu laharnya keluar membunuhku.

Dua lelaki lainnya masih bengong dan diam antara takjub dan takut, dari raut wajah dan gerak-gerik nya, mereka ingin kabur .

“Jangan mundur, atau kau tidak aku ajak lagi berburu sama sekali. Cepat tembak dia! ”
Suasana mencekam, suara tembakan membuat hewan buas yang tadinya sedang menunggu selesai percakapan ku dengan hewan aneh yang juga bisa bicara dengan manusia kini berlarian kembali kedalam hutan yang lebih lebat dan bersembunyi. Mereka tahu alat itu bisa menembus kedalam badan gempal mereka. Hewan di hutan ini begitu beda menurutku. disela-sela kepanikan, aku melihat sekeliling, bukan hanya hewannya tapi seluruh bagian dari hutan ini berbeda. lebih subur dan makmur. Mungkin diantara semua personil pemburu hanya aku saja yang peduli dengan lingkungan medan buru. Aku tidak pernah merusak sarang hewan walaupun itu hanya semut. Bahkan sering ditertawakan oleh sebagian mereka. Katanya kau adalah pemburu paling dermawan seantero jagat. Sayangnya, sedermawannya pemburu pasti mereka menembak hewan buruannya yang lucu sekalipun.

Tidak lama kemudian, sang hewan aneh itu berubah marah ketika salah satu peluru terkena badannya, ia kemudian meraung dan mulai bergerak berutal, mengambil si pria yang menembaknya, kemudian menjadikan alat untuk memukul pria lain kecuali aku .

Tidak ada kesempatan untuk siapapun lari dari suasana ini, tidak lama semua pemburu mati mengenaskan dengan darah disekujur tubuh. bajunya basah kuyup dengan bau amis yang mulai mengundang hewan buas datang kembali.

Aku begitu panik dan tidak bisa bersuara . Teriakanku payau, payah tak bertenaga. Bagaimana tidak, melihat kematian kawan berburu dengan cara yang buruk dan aku pikir tidak akan lama lagi itu yang akan terjadi kepadaku .

Harimau mulai beringas kembali walaupun masih tertahan, menjaga sikap seolah masyarakat sedang bertemu raja. Pun dengan hewan buas lainnya, mereka tidak ada yang berani mendekati kami lebih dari jarak 10 meter. Hanya memandang dari kejauhan dan berusaha bersabar. Aku hanya berdoa dalam hati, apabila benar ajalku sedekat ini, maka berilah kekuatan untuk istri dan anak anakku mencari rezeki serta ampunilah aku dengan segala dosa kemunafikan ini.

Sambil tersedu aku berteriak kepada sang hewan aneh didepan ku,
” wahai hewan yang entah jenis apa kau. Sungguh apabila kau ingin membunuhku silahkan, aku sudah siap. ”
“Hahahaha, aku suka gaya mu, yang tidak lebih dari seorang munafik pemula, pergilah! Selagi ada kesempatan aku berbaik hati padamu. Aku masih bisa mencium kebaikan dalam dirimu. Cepat pergi sebelum rakyatku memakanmu. Aku tidak pernah melarang rakyatku memakan manusia apabila manusia itu sendiri yang berulah. Cepat sebelum aku berubah pikiran!

Sumedang, 5 Januari 2019
Aceng Ahmad Sehabudin, FIB UNPAD 2016. Ketua cabang PMII Sumedang

comments