Rais Aam PBNU: Konglomerat Harus Bermitra dengan Ummat

107

Pontianak, (ansorjabar online)
Rais Amm PBNU, K.H Ma’ruf Amin, kembali menegaskan pentingnya penguatan ekonomi ummat. Hal itu disampaikan Kyai Ma’ruf dalam Seminar Nasional Ekonomi Syariah dan Pembangunan Ekonomi Bangsa, di IAIN Pontianak, Senin (1/5/2017). Konsep ekonomi keummatan itu, menurut Rais Aam, mendapat dukungan dari Presiden RI.

“Presiden sudah mendukung. Bahkan sudah mengintruksikan para konglomerat di Indonesia, untuk membangun kemitraan dengan ummat, sebagai pelaku usaha menengah. Presiden mengatakan, ini bukan himbauan tetapi perintah,” paparnya.

Presiden Joko Widodo, menurut Kyai Ma’ruf, juga mengatakan, konglomerat harus membantu ummat, tanpa memikirkan untung.

“Bila perlu, jangan ambil untung, serahkan sepenuhnya untuk ummat. Karena konglomerat sudah banyak mengambil untung. Begitu kata Presiden. Jadi mari kita membangun ekonomi bangsa. Inilah arus baru ekonomi Indonesia,” tandasnya.

Kebijakan ekonomi negara saat ini, kata Kyai Ma’ruf, tidak lagi top down, tetapi bottom up. Konsepsi tersebut, sudah direalisasikan diantaranya dengan menetapkan Jakarta sebagai pusat perekonomian syariah atau Islamic Financial Centre.

“Sekarang juga, kita sedang membuat gerakan ekonomi ummat. Sinergi, penguatan, koordinasi dan akselerasi gerakan ekonomi ummat. Dengan Presiden, kita juga sedang mengupayakan redistribusi aset.

Mengambil aset-aset konglomerat untuk didistribusikan kepada ummat. Kata Presiden, sekarang sudah ada 12,7 juta hektar tanah yang akan dibagikan kepada kepada ummat dan dikelola oleh pesantren dan koperasi-koperasi ummat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kyai Ma’ruf juga menjelaskan, Ekonomi Syariah yang dimaksud bukanlah ekonomi islam radikal. Tetapi ekonomi islam moderat yang selaras dengan kondisi kekinian.

“Pendekatan yang digunakan pendekatan moderat. Tawassutiyah. Misalnya tentang pasarmodal. Boleh bermuamalah dengan orang yang banyak harta haram,”paparnya.

Ekonomi syariah ini, sering dikaji di pesantren-pesantren. Yang memadukan antara mabadi rabbaniyah dan haelah insaniyah. Prinsip keislaman yang dipadu dengan profesionalisme. Nabi menayatakan antum alamu dunyakum, tetapi juga memberi rambu-rambu, jalan yang lurus.

“Ini adalah penerapan praksis dari kajian2 fiqh. Dulu fiqh hanya dibahas di pesantren. Kini mulai disistematisasi. diinstutisionalisasi. melalui UU Perbankan Syariah, UU Surat Berharga Syariah Negara yang biasa disebut Sukuk. Sekarang sukuk Indonesia terbesar dibanding negara-negara lain. Jadi ini adalah era kebangkitan kyai,” pungkasnya. (malik)

Comments

comments