Pimpinan Pusat Ansor: Instruktur Harus Pandai Menjadi Motivator dan Inspirator

Pimpinan Pusat Ansor:
Instruktur Harus Pandai Menjadi Motivator dan Inspirator

Sumedang—Seorang Instruktur Gerakan Pemuda Ansor harus mempunyai kompetensi materi dan methodologi sekaligus, di samping kompetensi kepribadian dan sosial. Dikatakan Ruchman Basori Ketua Pimpinan Pusat Ansor Bidang Kaderisasi, pada Minggu (1/11) di Islamic Center Sumedang.

Ruchman melanjutkan kemampuan instruktur tidak hanya diukur dari kemampuannya menyampaikan materi-materi pelatihan di dalam kelas, tetapi juga harus berperan sebagai modelling dalam organisasi.

Pri kelahiran Purbalingga ini berpesan agar para calon instruktur nantinya dapat menjadi inspirator dan motivator kepada anggota Ansor, karenanya ia layak di sebut sebagai sang paedagog dan idiolog. “Seorang instruktur harus mampu memberikan gagasan-gagasan yang mampu membangkitkan semangat sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi peserta pelatihan”, katanya.

Dihadapan 38 peserta Latihan Instruktur I Angkatan ke 3, Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan ini berharap lulusan LI I akan membantu mempercepat laju kaderisasi, tidak hanya di PW GP Ansor Jawa Barat namun juga secara nasional. “Sahabat-sahabat semua harus mau diterjunkan dalam kaderisasi PKD dan Diklatsar di seluruh Indonesia”.

LI I di gear oleh Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat bersamaan dengan dan Pendidikan dan Latihan Khusus Banser Tanggap Bencana (Diklatsus Bagana) pada 29 November-1 November 2020 di Gedung PCNU dan Islamic Center Kabupaten Sumedang.

Selain Ruchman Basori, Pimpinan Pusat GP Ansor menerjunkan instruktur LI I yaitu Syarif Munawi, Hasanuddin Ali, Ade Musa Said (Ketua PP Ansor), Musyafa Wasekjen, Ajengan Yayan, Fahmi, Ricky Assegaf (Pimpinan PW Ansor Jabar) dan sahabat-sahabat instruktur Ansor lainnya.

Deni Ahmad Haidar Ketua PW Ansor Jawa Barat mengatakan kini PW Ansor Jawa Barat bertambah “amunisi” pasukan kader yang siap menjalankan kaderisasi sebagai amanat organisasi. 38 Kader Ansor dilantik menjadi instruktur dan 60 orang dikukuhkan menjadi Satuan Banser Tanggap Bencana.

Di sela-sela pelatihan, Deny mengatakan hampir tiap minggu para pengurus PW keliling ke wilayah se-Jawa Barat. “Kami terjun langsung tidak hanya kepada kegiatan-kegiatan kaderisasi di Pimpinan Cabang tetapi PAC bahkan Pimpinan Ranting. “Dalam situasi dan kondisi apapun termasuk masa pandemic Covid 19 kaderisasi tak boleh berhenti”, kata deny.

“Menggelar kaderisasi di tengah masa Pandemi Covid-19 bukan perkara mudah, namun kitan harus tetap semangat menggelarnya dengan mengikuti protokol kesehatan yang sangat ketat”, kata Mantan Ketua KPU ini.

Kepala Satuan Koordinasi Wilayah Banser Jawa Barat, Yudi Nurcahyadi mengamini apa yang dikatakan Ketrua PW Ansor. “Saya akui menggelar kaderisasi di masa covid-19 amat sulit karena tidak hanya soal tata laksana pelatihan tetapi juga memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Yudi mengatakan besarnya pembiayaan karena ditambah dengan biaya rapid test untuk peserta dan panitia, masker, hand sainitezeer dan lain-lain untuk standard kesehatan.

Yudi mengakui tidak ada “diskon” korona dalam pelaksanaan Diklatsus Bagana ini, msemua pelaksanaan sesuai dengan modul. “Alhamdulillah semua peserta dan panitia juga instruktur tetap semangat menjalankan agenda-agenda pelatihan baik LI maupun Diklatsus Bagana”, katanya.

Diklatsus Bagana menjadi prioritas diselenggarakan mengingat Jawa Barat termasuk daerah yang rawan bencana, apakah tanah longsor dan banjir. Terakhir bencana banjir bandang menerjang Jawa Barat bagian selatan.(RB)

comments