PERINGATAN MAULID NABI SEBAGAI PENANGKAL GERAKAN RADIKAL

234

Oleh: Encep Sopyan Nusantara, MH

(pengurus GP ANSOR dan dosen STISNU Cianjur)

Perayaan maulid Nabi Muhammad SAW bisa dijadikan sebagai penangkal gerakan radikalisme di Indonesia bahkan di dunia, yang diakibatkan pemahaman keagamaan yang kurang tepat sehingga menimbulkan paham yang radikal, menyebarkan kebencian, memecah belah umat dan merongrong terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republi Indonesia (NKRI).

Dalam peringatan maulid nabi Muhamad SAW selalu di riwayatkan kisah dan keagungan ahlak beliau dalam menjalankan dakwahnya menyebarkan Agama Islam yang menjadi rahmat kepada seluruh alam. kalau kita mengaku sebagai umat Islam dan mau menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan dalam menjalankan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, sesungguhnya tidak ada alasan untuk melakukan kekerasan atas nama apapun termasuk atasnama Agama.

Melalui peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW, umat Islam harus kembali mengambil hikmah, memetik pesan dan menarik kesan dalam rangka pembinaan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW, Akhlak beliau tentunya harus senantiasa menjadi patokan sebagai contoh yang baik bagi umat Islam, bagaimana Rasulullah SAW menyeimbangkan kehidupan habluminallah dengan hablumminanas yang dijalankannya secara sungguh-sungguh dengan mengedepankan akhlak yang baik dan kasih sayang terhadap manusia.

Akhlak Rasulullah SAW adalah cerminan Al-Qur’an, membaca dan menghayati akhlak beliau berarti membaca dan menghayati isi kandungan Al-Qur’an, keagungan akhlak Rasulullah SAW  mendapatkan pujian dari Allah SWT yang tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Qalam ayat 4 yang berbunyi “Wa-innaka la’ala khuluqin’azhiimin” yang artinya “dan sesungguhnya kamu Muhammad benar-benar berbudi pekerti yang agung”.  Kita selaku umat Rasulullah SAW yang hidup diakhir jaman harus senan tiasa berpegang teguh pada  ajaran beliau yang selalu mengedepankan akhlak yang menjadi rahmat baigi semesta alam.

Kebaikan dan kesantunan akhlak Rasulullah SAW telah banyak di riwayatkan oleh para sohabat termasuk Istrinya Siti Aisyah ra. Sohabat Aba Abdillah pernah bertanya pada Aisyah tentang akhlaknya Nabi Muhammad SAW. Aisyah menjawab “lam yakun fakhisan wala mutafakh khisan wala sokh khoban fil aswaq wala yaj’zi bissayyiatis sayyiata walakiy ya’fu wayas fakhu” yang artinya “Nabi tidak pernah berkata jelek, tidak pernah bertingkah laku jelek, tidak berbuat onar dipasar, dan tidak membalas kejelekan dengan kejelekan, tapi nabi selalu memaafkan dan mengampuni”. Akhlak Rasulullah SAW tersebut wajib diteladani dan diikuti serta dijadikan contoh bagi kita semua selaku umat Islam.

Ajaran Agama Islam yang begitu luhur tercermin dalam kehidupan Rasulullah SAW yang menjadi Rahmat bagi seluruh alam, sohabat Anas bin Malik menceritakan tentang Akhlak Rasulullah SAW yang dikutif dalam hadits bukhori “Lam yakun Rasulullah SAW fakhisan wala la’anan wala sabbaban” yang artinya “ Rasulullah SAW itu sama sekali bukan orang yang jelek, bukan orang yang suka melaknat dan bukan orang yang suka mencela”. Maka jikalau akhir-akhir ini banyak orang yang mengaku beragama Islam, mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW, tetapi menggunakan kekerasan dalam bertindak, selalu mencela orang lain dan menuduh sesat, bahkan sampai mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengan golonganny, sebenarnya mereka itu sudah tidak mencontoh akhlak Nabi Muhammad SAW yang penuh kasih dan sayang bahkaan terhadap musuh sekalipun yang sering menghinanya.

Kekerasan yang mengatasnamakan Agama harus segera dievaluasi dan ditindak, sebab kalau dibiarkan akan banyak korban, baik korban secara fisik maupun korban secara pemikiran yang menganggap tindakan tersebut adalah benar dan mendapatkan legitimasi dari Agama melalui kitab suci Al-Qur’an dan Haditsnya. Padahal Nabi Muhammad SAW yang di utus menjadi Rasul kepada umat akhir jaman ini merupakan sebaik-baiknya penafsir Firman Allah SWT yang tidak pernah mengajarkan kekerasan, beliau selalu mengedepankan akhlak walaupun berhadapan dengan orang-orang Jahiliyah yang memusuhinya.

Salah satu contoh akhlak Rasulullah SAW terhadap orang-orang yang memusuhi dan menyakitinya yaitu Setelah Siti Khadijah ra dan Abu Thalib meninggal dunia, Rasulullah SAW pergi ke Tha’if untuk berdakwah menyebarkan ajaran Agama Islam, namun hal tersebut mendapatkan penolakan dan ejekan dari penduduk setempat, bukan hanya itu, bahkan Rasulullah SAW dihadang dan dilempari batu oleh para penduduk Tha’if sehingga sekujur tubuh beliau penuh dengan luka, malaikat Jibril dan malaikat penjaga bukit-bukit berkata kepada Rasulullah, ‘berilah aku perintahmu, jika engkau hendak aku menghimpitkan kedua bukit ini pun niscaya akan aku lakukan’ namun Rasulullah SAW menolak tawaran malaikat tersebut, seperti yang tercantum dalam Sahih al-Bukhori dan Fathul Bari “Justu aku berharap ada generasi mereka dikemudian hari yang menyembah Allah dan tidak berbuat syirik sedikit pun”.

Begitu mulia akhlak Rasulullah SAW Setelah mendapatkan perlakuan yang kasar dan cemoohan dari penduduk Tha’if, namun beliau tidak ada dendam sedikitpun malah berharap  Allah akan mengeluarkan atau melahirkan dari tulang sulbi orang-orang yang memusuhi serta melempari beliau, diberikan keturunan yang baik, keturunan yang akan menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukannya, hasil dari kesabaran Rasulullah SAW bukan saja di Tha’if yang sekarang menjadi seratus persen beragama Islam seperti yang diharapkan dalam do’anya, namun agama Islam sekarang menjadi salah satu Agama terbesar di dunia, yang penyebarannya sampai kenegara kita tercinta Indonesia.

Metode berdakwah Rasulullah SAW yang mengutamakan akhlak diikuti oleh para ulam penyebar Islam di Nusantara ini, seperti dakwahnya wali songo yang mentransformasikan ajaran Islam Rahmatan Lil’Alamin kedalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi dan diplomasi dengan masyarakat, salah satunya yaitu  melalui akulturasi budaya dan seni, bukan dengan cara kekerasan yang akan menimbulkan dendam dan akhirnya akan menimbulkan kekerasan baru, seperti penyebaran Islam di Andalusia yang sekarang menjadi daerah otonomi Spanyol.

Perbedaan dalam pemahaman keagamaan tentunya akan selalu ada khususnya dalam bidang hukum Fiqih, tetapi dalam menyikapi perbedaan tersebut tentu para ulama harus menggunakan akhlak dan etika yang baik seperti yang dicontohkan ulama terdahulu dalam menyikapi perbedaan, Ibn Hajar al-Haytami pernah berkata ‘Madzhabuna shawab yahtamilu al-khatha. Wa madzhabu ghayrina khata yahtamilu al-shawab’. Yang artinya ‘Mazhab kami benar, mengandung kekeliruan, dan mazhab selain kami keliru, mengandung kebenaran’. Perkataan tersebut banyak dikutip, baik oleh mujtahid maupun muqallid  yang tercantum diberbagai kitab fikih maupun ushul fikih. Ibn Hajar mengutipnya dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra sedangkan Al-Thahthawi menjelaskan kandungan makna yang ungkapan perkataan di atas tersebut sebagai berikut;

‘Yang dimaksud ialah bahwa pendapat imam kami itu benar baginya dengan kemungkinan salah, karena setiap mujtahid mencapai kebenaran dan kadang-kadang sekaligus salah. Adapun dalam pandangan kita, setiap mujtahid dari para imam mazhab yang empat benar dalam ijtihadnya. Setiap pengikut mazhab mengucapkan kalimat ini ketika ditanya tentang mazhabnya dengan mengikuti ucapan imam yang diikutinya. Tindakan yang dimaksud itu mewajibkan pengikut imam untuk meyakini kekeliruan mujtahid yang lain yang tidak mereka ikuti’.

Sungguh luar biasa akhlak ulama-ulama terdahulu, perbedaan tidak dijadikan pertikaian justru dijadikannya rahmat dan saling menghargai antar satu dengan yang lainnya, tidak mengklaim bahwa dirinyalah yang paling benar, dengan menyesatkan dan mencaci maki orang yang dianggap berbeda pemikiran denagannya, itulah akhlak orang-orang yang berilmu.  Hal tersebut tentunya selaras dengan yang diungkapkan  Ali bin Abi Thalib as yaitu; ‘Idza tafaqqaha al-rafi tawadha, wa idza tafaqqaha al-wadhi, taraffa’. Yang artinya ‘jika orang tinggi mencapai pengertian, ia akan rendah hati. Jika orang rendah mencapai pengertian, ia akan tinggi hati’. Tinggal kita mengevaluasi diri, apakah dalam perkataan syaidina Ali tersebut, kita masuk golongan yang pertama atau justru masuk kedalam golongan yang kedua, yaitu orang yang rendah, tidak punya kemampuan, tetapi tinggi hati, menganggap orang lain salah, sesat dan kalau perlu menyebutnya kafir yang tidak layak masuk surganya Allah SWT.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, harus dijadikan momentum sebagai wahana pengetahuan dan pembelajaran mengikuti jejak akhlak Rasulullah SAW. Kalau Rasulullah diutus sebagai Rahmat bagi seluruh alam dan sebagai penyempurna akhlak manusia, setidaknya kita selaku umatnya harus senantiasa menjadi pembelajar yang baik untuk mengikuti Akhlak beliau. Kalaupun kita belum bisa menjadi Rahmat, yang bisa memberikan manfaat bagi yang lainnya, minimal kita jangan sampai menjadi laknat bagi manusia lainnya.Wallahu a’lam Bishawab.

 

comments