Pendidikan Pesantren Lahirkan Generasi Berkualitas

389

Oleh: Anas Ali Hamzah

Perkembangan teknologi semakin canggih hingga tak terbendung, sistem nilai dan budaya barat berpengaruh terhadap sistem nilai dan budaya bangsa kita. Hal tersebut berpengaruh positif dan negatif bagi kehidupan masyarakat, karena suatu bangsa akan ditentukan seberapa kuat mempertahankan jati diri yang positif serta mengakomodasi kemajuan seni dan budaya dari luar.

Saat ini, di zaman yang serba instan menuntut kita untuk bermetamorfosa, kadang memang membawa banyak dampak baik. Tapi jangan salah, dampak buruk pun mengikuti di belakangnya. mari kita sejenak amati foto-foto remaja tempo dulu, sebagian besar mereka kelebihan bahan (tertutup). Memang ada satu dua yang memilih pakaian terbuka di era lalu, namun itu hanya sedikit saja. Sangat kontras dengan kenyataan di zaman sekarang ini, yang kebanyakan orang berpakaian yang kekurangan kain alias menebar aurat.

Melihat hal tersebut, hati ini semakin miris melihat para penerus bangsa yang sudah tidak menghiraukan moral. Mau jadi apa Bangsa ini kedepannya, yang mana para remaja saat ini sudah mengalami degradasi moral.  Masih mending jika yang mengalami degradasi mereka yang sudah dewasa. Sebab setidaknya usia produktif mereka akan segera habis. Namun bila remaja yang mengalami degradasi? Bagaimana nanti saat dia dewasa? Takutnya nanti malah semakin menjadi. Terus bagaimana jalan negeri ini bila dipimpin oleh mereka yang kurang bermoral ?

Dari segi berpakaian saja sudah membuat kepala jadi pusing, belum lagi melihat tingkah polahnya yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Penyerangan bukan hanya dari segi pakaian, namun masih banyak lagi yang menyerang para remaja. Dunia Sek bebas, narkoba dan banyak lagi yang akhir-akhir ini memang menjadi tranding topik setiap harinya di kalangan para remaja. Ini tandanya ada bukti lagi bahwa moral remaja masa kini memang sudah menurun. Kebudayaan timurnya sudah termakan oleh westernisasi jaman.

Dari tahun ke tahun moral remaja dalam segala aspek terus mengalami penurunan, mulai dari cara berpakaian, tutur kata, tingkah laku dan lain-lain. Degradasi moral ini seakan dibiarkan begitu saja dan enggan untuk diselesaikan sehingga terus berkembang merabah ke berbagai kalangan. Faktor utama yang mengakibatkan degradasi moral remaja ialah perkembangan globalisasi yang tidak seimbang. Virus globalisasi terus menggerogoti bangsa ini, sayangnya kita seakan tidak sadar, namun malah mengikutinya. Kita terus menuntut kemajuan di era global ini tanpa memandang aspek kesantunan budaya negeri ini, kesenjangan itulah yang pada akhirnya membuat moral semakin jatuh dan rusak.

Kita flashback beberapa waktu lalu, yang diinformasikan diTV maupun di media cetak, saat para siswa SMA merayakan kelulusan dengan melakukan hal-hal yang tidak wajar. Mereka merayakan kelulusan dengan melakukan sex party atau pesta sex, masih ditambah acara nyabu bareng atau mabok bareng. Apa ini cerminan generasi baik untuk masa depan?

Indonesia diserang berbagai virus dan sugah menggerogoti para remaja Bangsa Indonesia, teruma virus yang meruksak akhlak dan moral, kondisi ini juga mewabah di kalangan intelektual, elit politik, para pemegang kekuasaan dan anak remaja. sehingga perlu upaya membenahi keadaan ini sebelum semakin parah. Selama ini pendidikan agama, budi pekerti, etika terabaikan, padahal itu mutlak dibutuhkan dalam pembentukan dan pembinaan karakter dan moral bangsa.

Akhlak dan moral remaja atau pun pemuda Indonesia sudah tidak baik, di sekolah ataupun di luar sekolah. Ini membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia perlu perbaikan untuk mencetak para penerus Bangsa. Walaupun berhasil di bidang akademia namun mereka gagal di bidang akhlak dan moral. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya kasus-kasus kriminal serta amoral yang telah dilakukan oleh para remaja. Pacaran, Mabuk-mabukan, seks di luar nikah, aborsi, pembunuhan, dan penyalahgunaan narkoba merupakan headline yang setiap harinya menghiasi media cetak maupun elektronik. Padahal “pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari”. Namun jika pemuda sudah tidak memiliki moral dan akhlak, lalu siapa lagi yang akan menjadi pemimpin bangsa?

Maka dari itu, lembaga-lembaga pendidikan perlu merevolusi untuk mencegah degradasi moral tersebut agar mampu mencetak generasi muda yang unggul baik di bidang akademis maupun akhlak serta moral pemuda. Untuk menjawab semua itu, Pondok pensantrenlah yang masih efektif menjawabnya, karena Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua yang dinilai maaih konsisten dan efektif sebagai benteng untuk pertahanan akhlak dan moral, sekaligus membangun akhlak bangsa dengan pola pembinaan 25 jam.

Tradisi pesantren di Indonesia menurut sebagian ahli sejarah Islam dimulai Sunan Ampel. Sunan Ampel mendirikan pemondokan berupa kamar-kamar bagi santri. Seiring berkembangnya zaman dan merebaknya teknolgi modern, keberadaan pesantren semakin ditinggalkan. Terjadi pergeseran pandangan masyarakat bahwa mencari ilmu bisa didapat dari kitab-kitab terjemah ataupun lewat media internet. Pandangan ini diperparah dengan ambisi dunia atau penguatan ekonomi dibanding mencari ilmu di pesantren. Sehingga perlahan, pesantren pun mulai ditinggalkan oleh masyarakat.

Merujuk ke ajaran Islam, jauh sebelum kewajiban shalat, puasa, haji, dan zakat diperintahkan oleh Allah untuk kesempurnaan akhlak adalah yang pertama diserukan. Kesempurnaan akhlak adalah tujuan utama agama ini dan menjadi dasar utama Nabi Muhammad SAW diutus. Ini menegaskan bahwa masyarakat tanpa akhlak, tanpa karakter, dan tanpa standar moral maka masyarakat itu menjadi tidak bermakna. Nah, dalam semangat ajaran dasar Islam ini, maka pesantren dapat menjadi solusi dalam membangun karakter bangsa dalam arti yang sesungguhnya.

Gambaran di atas merupakan gambaran dasar dari tujuan pendidikan di pesantren dimana santri ditempa, digembleng menjadi kader yang memiliki karakter, akhlakul karimah, serta menjunjung nilai moral yang berlaku di masyarakat.

Kembali kepada konteks pesantren sebagai solusi degradasi moral pemuda, pesantren memiliki nilai unggul dibandingkan dengan lembaga pendidikan, yaitu : 1) di pesantren para pendidik bias melakukan tuntunan dan pengawasan secara langsung terhadap santri; 2) di pesantren para santri dapat melihat akhlakul karimah sang Kiai sebagai role model yang layak untuk diteladani sebagai upaya pembentukan karakter diri, sehingga kejadian-kejadian seperti korupsi, suap-menyuap, dan kejadian buruk lainnya akan dianggap menjadi hal yang tabu; 3) masjid sebagai pusat interaksi ritual dan spiritual; 4) pengajian sebagai aktivitas sosial, intelektual dan spiritual; dan 4) asrama sebagai wahana komunikasi sosial dan kultural dalam komunitas santri.

Selain itu di pesantren juga banyak diajarkan pelajaran tentang pendidikan karakter, akhlak dan moral yang diambil dari kitab klasik karya ulama Salafush Shalih yang menjadi dasar pedoman perilaku santri baik ketika masih di pesantren maupun ketika telah lulus dari pesantren dan memulai kehidupan bermasyarakat.

Pendidikan pesantren adalah sarana yang berupa perangkat organisasi yang diciptakan untuk mencapai tujuan mengubah perilaku individu atau kelompok agar memiliki nilai-nilai yang disepakati berdasarkan syari’at agama Islam, filsasat, ideology, politik, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Konteks ajaran Islam hakikat pendidikan karakter adalah mengembalikan nilai-nilai Ilahiyah pada manusia dengan bimbingan Al-Qur’an dan assunnah (Hadist) sehingga santri diharapkan menjadi manusia yang berakhlakul karimah. Pesantren dalam penyelenggaraan pendidikan karakter betul-betul diperhatikan secara maksimal. Bukan hanya berupa teori tetapi juga praktek secara langsung.

Pola yang diajarkan oleh pesantren masih terbukti untuk memberikan solusi dalam mengatasi degradasi moral yang dialami kaum muda sebagai calon penerus pemimpin bangsa ini. Wallahu a’lam bis shawab .

*Mahasiswa Pascasarjana UNINUS Bandung dan Pengurus PKC PMII Jawa Barat

 

Comments

comments