Pendidikan Pesantren Dalam Membangun Revolusi Mental

654

Oleh : Abdurrohman*)

Pendidikan adalah pilar yang sangat menentukan bagi kemajuan suatu bangsa. Tanpa pendidikan yang memadai suatu bangsa sulit berkembang dan bahkan akan terus terpuruk dalam percaturan perkembangan global maupun internasional (Zanwir, widyaiswari. 2009). Pendidikan adalah satu usaha yang dengan sengaja diambil untuk memengaruhi serta menunjang anak yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan ilmu dan pengetahuan, jasmani serta akhlak hingga perlahan-lahan dapat mengantarkan anak pada tujuan serta cita-citanya yang tertinggi (Mahmud Yunus). Dalam QS Al-Alaq : 1 – 5 Allah berfirman :

em

Artinya :”Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan tuhanmu lah yang paling pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahui”.

Dalam surat Al-alaq : 1-5 tersebut islam sebagai agama yang sempurna dalam wahyu pertamanya menjelaskan tentang pentingnya membaca, dalam pendidikan salah satu kegiatan yang wajib dilaksanakan adalah membaca.

Revolusi mental ditafsirkan sebagai aktivitas mengubah kualitas manusia kearah yang lebih bermutu dan bermental kuat dalam berbagai aspek dengan jangka waktu yang cepat. Tiga nilai revolusi mental menurut Joko widodo (presiden RI ke-6) meliputi : Integritas, Etos kerja dan gotong royong. Revolusi mental dapat diwujudkan melalui pendidikan, bagaimana kita menjadi orang-orang yang bermental baik, sehingga keputusan dan perbuatan-perbuatan kita sesuai dengan yang diharapkan dapat menjadi manfaat. Seperti hadits Nabi S.A.W : “Sebaik – baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (HR Ahmad).

Pendidikan seyogyanya yang menjadi gerbang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa kenyataanya potret pendidikan di Indonesia saat ini mengalami penurunan seperti yang dikatakan Anies Baswedan (mantan menteri pendidikan dan budaya) “Berita buruknya, 75 persen sekolah Indonesia memiliki standar minimal pendidikan tidak layak,” kata Anies, dalam pidato di hadapan Kepala Dinas se-Indonesia, Kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin (1/12/2014). Penurunan tersebut diantaranya meliputi beberapa aspek diantaranya nilai rata-rata guru yang belum maksimal, kinerja rendah, mutu pendidikan, persoalan kekerasan serta minat baca yang rendah. Permasalahan seperti tawuran antar pelajar, kekerasan antara guru dan murid, pergaulan bebas dan hal negatif lainnya disebabkan pendidikan terutama pendidikan moral dan agamanya.

Pondok pesantren menurut Geertz diturunkan dari bahasa India Shastri yang berarti ilmuwan Hindu yang pandai menulis, maksudnya pesantren adalah tempat bagi orang-orang yang pandai membaca dan menulis. Dia menganggap bahwa pesantren dimodifikasi dari para Hindu (Wahjoetomo, 1997: 70).

Untuk mengatasi permasalahan pendidikan di atas, pesantren tampil sebagai institusi / lembaga pendidikan non formal yang mampu mengatasi permasalahan moral serta mental. K.H. Hasan Basri, tokoh dan ulama nasional mengatakan beberapa titik keberhasilan pesantren , antara lain:

  1. Berhasil menanamkan iman yang kokoh dalam jiwa para santri sehingga mereka memiliki daya dan semangat juang yang tinggi untuk Islam.
  2. Bersikap tegas menentang kekafiran dan kebatilan secara konsekuen dan menyatukan diri dengan golongan pergerakan yang mempunyai pandangan yang sama.
  3. Mampu membentuk kecerdasan (intelektualitas) dan kesholehan (moralitas) pada diri para santri, menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan, dan membina diri untuk memiliki akhlak terpuji.
  4. Mampu membentuk masyarakat yang bermoral dan beradab berdasarkan ajaran Islam (masyarakat santri) sehingga menjadi kekuatan sosial dengan pengaruhnya yang besar dalam masyarakat bangsa Indonesia.
  5. Menjadikan dirinya bagaikan benteng terakhir pertahanan terakhir ummat Islam dari serangan Kebudayaan Barat yang dilancarkan pemerintah kolonial Belanda. Dengan kata lain, pesantren berhasil menyelamatkan kebudayaan Islam di Indonesia.
  6. Pesantren dan masyarakat santrinya adalah satu-satunya lembaga pendidikan di Indonesia yang tidak mengenal kompromi atau bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda.
  7. Dalam menghadapi arus perubahan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan yang melanda bangsa Indonesia, ternyata masih tetap menunjukkan vitalitasnya untuk tetap berperan sebagai salah satu kekuatan sosial yang penting bagi peradaban Islam di Indonesia, baik masa kini maupun masa mendatang. Pesantren juga ternyata tidak tergilas oleh arus perkembangan lembaga-lembaga pendidikan modern yang berkiblat ke Barat.

Penjelasan-penjelasan di atas memperlihatkan bahwa pesantren, dulu ataupun sekarang, merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berhasil membentuk karakter-karakter pribadi muslim (santri) dan memiliki peranan besar dalam membina umat dan bangsa hingga ke pelosok pedesaan dan berhasil mengimplimentasikan semangat revolusi mental.

*Mahasiswa Fisika Unpad 2013,Ketua KMNU Padjadjaran dan Wakil ketua III PC PMII Sumedang

Comments

comments