Pancasila, Ancaman dan Krisis Pengamalan di Era Modern

46

Oleh : Muhammas Sopwan
Kader PC PMII Cianjur.

1 Juni 1945 merupakan hari lahirnya Pancasila, kurang lebih 72 tahun dasar negara yang di konsep oleh para founding fathers kita masih tetap berdiri kokoh di tengah berbagai ancaman Ideologi lain, baik yang bersipat ekstrim kiri (Eki) ataupun ekstrim kanan (Eka) fakta sejarah membuktikan 2 gerakan pemikiran politik kanan yang diperankan oleh DI/TII dan pemberontakan politik kiri yang di wakili oleh PKI merupakan 2 gerakan mainstrem yang sempat merongrongi Ideologi Pancasila.

Pemberontakkan Partai komunis Indonesia (PKI)  pertama kali terjadi pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur yang  dipimpin oleh Muso dan konco – koconya merupakan gerakan politik massif yang terorganisir untuk menggantikan Ideologi Pancasila menjadi Komunis. PKI tak segan membuhuh siapapun yang di anggap musuh. namun rencana revolusi tersebut gagal.

Kebiadaban yang dilakukan PKI membuat TNI bergerak cepat dan berhasil meringkus Pimpinan PKI yaitu Muso yang ditembak mati. begitupun Amir Syarifudin melarikan diri namun berhasil ditangkap dan di jatuhi hukuman mati.

Rencana revolusi PKI ke II terjadi pada 30 September 1965 yang sering kita sebut Gerakan September 30 (Gestapu) ataupun G 30 S PKI gerakan ini memakan banyak korban termasuk korban para pimpinan TNI yang diantaranya.

Letjen TNI Ahmad Yani,
Mayjen TNI Raden Suprapto, Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat).

Fakta sejarah kedua yaitu gerakan ekstrim kanan DI/TII yang didirikan di Tasik Malaya Jawa Barat pada 7 Agustus 1949 (12 syawal 1368 Hijriah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo namun gerakan ini dapat di padamkan setelah Kartosuwiryo dan kawanya berhasil ditumpas oleh pasukan siliwangi pada 1962.

Hal tersebut merupakan bagian dari perjuangan para pendahulu kita dalam mempertahankan dasar negara Pancasila, agar tetap utuh lestari hingga saat ini. Namun persoalan ujian dan rintangan dalam mempertahankan satu ideologi bangsa terus bergulir termasuk akhir – akhir ini gerakan Islam transnasional sudah mulai masuk dan terasa bergejolak dimasyarakat.

Teror bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur pada Rabu malam, 25 Mei 2017 yang berakhibat menewaskan 3 anggota polri salah satu bentuk gerakan Islam Radikal yang mengancam ideologi negara seperti dikutif dilaman Tempo.co edisi 26 mei 2017 bahwasannya Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas teror bom Kampung Melayu yang menewaskan tiga personel kepolisian dan melukai 15 orang lain.

ini menjadi krisis pemahaman bangsa kita saat ini apakah pancasila tidak lagi bisa diterima oleh rasionalitas ataukah pemerintah bersama segenap komponen bangsa belum bekerja secara maksimal dalam menginternalisasi pemahaman pancasila secara utuh.

Selain itu, krisis ini tidak lepas dari pusaran dan perkembangan teknologi informasi yang berakibat pada melunturnya budaya bangsa seperti bergotong – royong karena pada dasarnya semangat pancasila yaitu untuk mempersatukan elemen bangaa.

yang lebih parah lagi menghilangnya substansi nilai pancasila dikalangan elit seperti maraknya kasus korupsi yang berdampak pada terciptanya ketimpangan sosial
dimasyarakat.

Dalam infografis kasus korupsi terbesar di Indonesia yang di catat dilaman berita kumparan.com menghimpun :

1. 1997-1998 kasus penyelewengan dana BLBI yang merugikan uang negara sebesar 138,4.

2. 2010 – 2011 korupsi anggaran proyek E-KTP yang menelan 2,3 triliu

3. 2010 – 2011 kasus korupsi pajak gayus tambunan yang merugikan negara 1,3 Triliun.

4. 2010-2012 kasus korupsi proyek hambalang sebesar 706 miliar.

5. 2010- 2012 kasus pengadaan simulator sim yang merugikan negara sebesar 121 miliar.

Hal tersebut merupakan krisis kalangan elit yang belum seutuhnya mengamalkan ajaran Pancasila, merupakan ancaman terhadap nilai – nilai, norma dan sendi kehidupan berbangaa dan bernegara jika pada prosesnya kasus tersebut terus terjadi maka
cita – cita untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan keadilan sosial sulit akan di ciptakan. menurut teori Hegelian untuk menciptkan kesejahteraan sosial harus pengakuan atas saling ketergantungan mendasar yang di jahit dan dibentuk individu ke praktik-praktik sosial dan lembaga-lembaga kehdupan budaya, ekonomi, estetika, dan politik (dalam keluarga, masyarakat sipil, dan Negara)

artinya dalam menjalankan Cita – Cita Pancasila harus ada keterkaitan elit negara dan rakyat yang satu sama lain saling mengamalkan ajaran Pancasila.

Selamat hari lahir Pancaasila ke 72 Tahun
Semoga Pancasila tidak hanya sebagai living ideology, akan tetapi working ideology. yang benar-benar diaplikasikan dalam tataran praksis yang mampu menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
25

Comments

comments