NU versus FPI: Menolak Kelompok Muslim Radikal

174

NU versus FPI: Menolak Kelompok Muslim Radikal

Setelah PCNU Kabupaten Cirebon berhasil menolak Bachtiar Nasir, belum lama ini GP Ansor dan Banser Bangil juga berhasil menolak Felix Siauw, setelah Felix menolak nota kesepakatan terhadap Pancasila dan disusul oleh PCNU Kabupaten Garut turut menolak Bachtiar Nasir dan Ahmad Shabri Lubis. NU, GP Ansor dan Banser memang harus terus bertindak tegas kepada kelompok Ormas Islam radikal.

Harus saya tegaskan di awal, bahwa siapapun yang tidak sejalan dengan Nahdlatul Ulama bisa dipastikan mereka adalah para penganut dan jemaah kelompok Ormas radikal semacam Rizieq Shihab, Bachtiar Nasir dan Felix Siauw. Orang awam kemudian mempertanyakan, mengapa NU yang selama ini toleran terhadap umat agama lain, tetapi tidak pada sesama umat Islam; FPI, HTI dan sejenisnya?

Catat baik-baik mengapa saya dan kami semua di NU menolak segala dakwah dan propaganda yang digulirkan para tokoh kelompok Ormas Islam radikal, adalah karena mereka mempunyai pemahaman keislaman yang literalis, dangkal dan radikal-fundamentalis. Mereka memahami Al-Qur’an dan hadis dengan pespektif SARA dan kebencian, terutama kepada saudara-saudara kita yang berlainan agama dan kepercayaan.

Para tokoh dan jaringan Ormas Islam radikal juga punya propaganda ketidaksetiaan pada Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Saya beri contoh satu saja, yakni ketika mereka mempropagandakan ‘NKRI bersyariah’ atau juga ‘Khilafah Islamiyah.’ Mereka hendak–bukan hanya mengubah–tetapi juga merusak NKRI. Mereka menjualbelikan embel-embel ‘Islam’ atau ‘syariah’ untuk mencari perhatian dan dukungan umat Muslim di Indonesia.

Untuk itu saya dan kita sekalian untuk terus saling mengingatkan dan waspada terhadap setiap gerakan Ormas Islam radikal. Saya dan NU jauh lebih menghargai dan melindungi saudara-saudara yang berlainan agama, ketimbang dengan mereka, para aktivis Ormas Islam radikal. Karena NU memahami betul bahwa Indonesia bukan milik umat Muslim saja, melainkan milik semua elemen bangsa tanpa pandang identitas sosialnya apa.

Oleh karena itu, bagi mereka yang tidak memahami spirit ‘rahmatan lil’alaminnya’ NU, akan gagal paham ketika Banser (Barisan Ansor Serba Guna) sangat sigap menjaga gereja dan justru menolak acara kajian Islam yang diadakan oleh para dai-dai atau ustadz-ustadz yang berhaulan radikal. Kajian Islam yang mereka sebarkan sangat berbahaya. Kajian Islam yang mereka dakwahkan justru akan menjadi penyakit yang menular, dakwah yang di dalamnya mengandung ujaran kebencian dan SARA.

Prinsip NU itu jelas, bahwa siapapun yang hidup di Indonesia, dan setia pada komitmen kebangsaan, tak peduli agama, etnis dan sukunya apa, berhak mendapatkan kebebasan dan haknya sebagai warga negara Indonesia. Makanya NU bisa tetap menjaga silaturahim dengan agama-agama lain, Ahmadiyah, Syiah, Sunda Wiwitan, dll, karena NU dan kelompok lain (selain kelompok Ormas Islam radikal) mempunyai titik temu kebangsaan yang sama.

Akhirnya, NU di bawah komando GP Ansor dan Banser harus terus melakukan proteksi dan penolakan terhadap segala dakwah-dakwah Islam radikal karena tidak sesuai dengan komitmen kebangsaan. Jangan takut dengan kelompok Ormas Islam radikal dan tokoh-tokohnya. NU harus bersama umat, di garda terdepan menumpas kezaliman para tokoh dan jaringan kelompok Ormas Islam radikal. Meskipun mereka menolak dan tidak mau dianggap radikal. Mari kita doakan, semoga mereka mendapat hidayah dari Allah.

Wallaahu a’lam

Mamang M Haerudin (Aa)
GP Ansor Kabupaten Cirebon

KUA Kecamatan Karangwareng, 6 November 2017, 13.11 WIB

Comments

comments