NU dan GP Ansor-Banser membongkar Adaptasi-Kamuflase dan Daya-Tunggang HTI

320

Nahdlatul Ulama adalah ormas yang menjadi pelaku sejarah bangsa ini. Para kiai pesantren dan NU turut membidani merdekanya bangsa ini. Maka agar kita tidak buta sejarah, bacalah sejarah NU untuk bangsa ini. Karena hanya dengan membaca sejarah kita semua akan memahami mengapa kemudian NU selalu komitmen dengan Pancasila. Pancasila tidak lain ada konsensus final di mana kiai NU merupakan salah satu perumus kunci butir-butir Pancasila.

NU menjadi mayoritas. Selain karena takdir Allah, karena sejak awal NU adalah ormas yang punya komitmen untuk mensinergikan ‘keislaman dan keindonesiaan.’ Keislaman yang dibangun atas dasar tradisi dan budaya leluhur bangsa. Spirit keislaman yang dipraktikkan oleh 9 (sembilan) wali Nusantara. Sebagaimana kita tahu ada banyak agama dan kepercayaan lain yang telah lama diyakini oleh masyarakat Nusantara, jauh sebelum Islam datang. Dakwah kultural yang basisnya adalah memadukan spirit Islam dan tradisi masyarakat setempat. Oleh karena itu kita kenal banyak tradisi Islami yang dilestarikan NU: tahlilan, manaqiban, marhabanan, ngupati, sedekah bumi, nadran dan lain serupanya.

Dalam perkembangannya, NU menjadi pionir bangsa ini bukan tanpa gangguan dan ancaman, termasuk adu domba dan fitnah. Situasi politik setiap zamannya meniscayakan NU untuk selalu turut andil menjaga keutuhan bangsa dan kondusivitas umat. Misalnya ketika para kiai pesantren membidani lahirnya Masyumi, kemudian bergabung dengan Nasakom, keluar dari Masyumi, sampai akhirnya Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno. Prinsipnya adalah apapun yang menjadi keputusan NU adalah keputusan bersama (ijma) para kiai pesantren. Adapun orang di luar NU dan atau pihak yang tidak senang dengan NU akan selalu punya persepsi kontra-produktif.

Termasuk para aktivis ormas Islam radikal, saya sebut saja Hizbut Tahrir Indonesia yang sangat mahir dalam melakukan—meminjam istilah Dr. Ainur Rafiq—adaptasi-kamuflase dan daya-tunggang. Dr. Ainur Rafiq adalah mantan aktivis HTI yang telah bertobat kembali ke jalan NU. Disertasi beliau membongkar berbagai kejahatan HTI yang telah diterbitkan Penerbit LKiS Yogyakarta berjudul ‘Membongkar Proyek Khilafah Hizbut Tahrir di Indonesia.’ Yang dimaksud adaptasi- kamuflase adalah upaya-upaya penyesuaian HTI untuk merembes pada tradisi NU, seolah-olah mereka ini merangkul NU tetapi kenyataannya hanya kamuflase belaka.

Semakin jelas lagi apa yang dilakukan Irkham Fahmi, seorang alumni IAIN Cirebon dan Pesantren Babakan, Ciwaringin yang ‘suul adab’ dan kini balik menzalimi kiai dan pesantren yang telah mendidiknya. Dia memang punya kemampuan propaganda dan provokasi yang artikulatif. Ceramah maupun tulisan ‘acak-acakannya’ selalu ber-‘daya tunggang.’ Identitas kesantriannya pun dijadikan ‘adaptasi kamuflase.’ Saya menduga kuat jika dia sebetulnya menaruh sejumlah ‘kekecewaan’ terhadap masyarakat pesantren yang mungkin tidak bisa memenuhi ‘nafsu’ politiknya. Ingat HTI itu orpol bukan ormas. Lalu dia berusaha memancing emosi umat dengan kutipan yang sepotong-sepotong dan dengan pancingan yang mengundang emosional nahdliyin. Karena dia tahu betul nahdliyin itu mayoritas dan solid.

Warga NU sudah paham betul dengan orang semodel Irkham Fahmi. Dia hanya sedang memancing emosi nahdliyin untuk mengacak-acak (adu domba) NU. Karena hanya dengan cara itu HTI bisa melawan kekuatan NU. Tapi yakinlah, usahanya akan sia-sia belaka. Karena NU bukanlah ormas biasa, NU adalah ormas berkah, hasil tirakat para kiai, ormas yang punya komitmen setia untuk terus menjaga NKRI. Jangan mau dibohongi Irkham Fahmi dan umumnya aktivis Ormas radikal dengan isu murahan PKI dan China.

Nah, untungnya NU punya banyak benteng pertahanan melalui Badan Otonom di setiap segmennya. Yang paling vital perannya saat ini adalah Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Barisan Ansor Serba Guna (Banser) yang selalu setia kepada para kiai untuk siap jihad lahir-batin menjaga NKRI dari propaganda ormas radikal, terutama HTI. Di bawah komando KH. Yahya Cholil Qoumas (Gus Tutut), GP Ansor-Banser siap mendukung dan kritis terhadap pemerintah. Siap melawan siapapun, termasuk HTI yang kontra Perppu No.2 Tahun 2017.

Irkham Fahmi mencoba menghasut Gus Tutut dengan sejumlah argumentasi yang cacat. Untuk apa? Tentu untuk memancing emosi nahdliyin dan masyarakat agar berbalik mengecam Gus Tutut. Bacalah buku putih ‘Benturan NU-PKI 1948-1965’ karya KH. Abdul Mun’im DZ, salah satu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama agar kita (nahdliyin) dan umumnya masyarakat tidak mudah terpengaruh hasut dan adu domba Irkham Fahmi dan manusia serupanya di HTI. Untuk menghadapi orang semodel Irkham Fahmi memang diperlukan stok sabar yang banyak agar tidak terpancing emosi. Dan untuk mengetahui sejumlah kebohongan HTI ikuti fans page Dina Sulaeman, salah seorang Doktor lulusan Unpad Bandung, ahli kajian Timur-Tengah, berikut tulisan makjleb dari Dr. Ainur Rafiq: http://www.harakatuna.com/daya-adaptasi-kamuflase-dan-daya-tunggang-hizbut-tahrir.html.

Wallaahu a’lam.

Mamang M Haerudin (Aa)

Cisarua, Bandung Barat, 21 Juli 2017, 12.44 WIB.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
32

Comments

comments