Ngopi Langsung dari Tempat Tumbuhnya

Ngopi Langsung dari Tempat Tumbuhnya

Menyimak kisah, Sain Sutisna, Petani kopi yang bersahaja, mandiri, dan kreatif dalam mengelola kawasan hutan di desanya. Sejak kecil ia ikut merawat hutan mulai menanam pohon tanaman hutan hingga hari ini pohon-pohon itu telah memberi manfaat baginya dan desanya, baik secara ekologi, sosial, dan ekonomi.

Mulai 2017, ia menanam kopi di kawasan hutan sejak dari pembibitan, penanaman, hingga hari ini telah menghasilkan produksi buah kopi. Tak berhenti disitu, ia kini sedang merintis kedai kopi yang diberi nama “Galatani” di kawasan hutan di mana kopi itu ditanam. Jadi, pengunjung dapat menyeruput nikmatnya kopi sembari menikmati lanskap pemandangan tanaman kopi di bawah tegakan hutan Pinus.

Sejak 2017 ia menakhodai para petani dalam wadah Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sarimukti Desa Sukamanah Kec. Sindangkasih Kab. Ciamis, sebagai ketua, dengan jumlah anggota 120 orang. Tahun itu adalah tahun-tahun awal program perhutanan sosial diluncurkan oleh Hutsos Admn, Direktorat Pkps sebagai correction action kebijakan pengelolaan hutan yang selama ini meminggirkan peran masyarakat sekitar hutan sebagai subjek utama dan terdekat dari kawasan hutan.

Alhasil, pada 2019, ia dan anggotanya telah mendapatkan akses legal pengelolaan hutan dari Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar dengan skema pengakuan dan perlindungan kemitraan kehutanan (Kulin KK) seluas 108 hektar. Hutan seluas itu ia kelola dg membagi blok zonasi untuk konservasi dan pemanfaatan. Untuk zona konservasi ia gunakan untuk pengayaan tanaman asli dan tanaman-tanaman penahan erosi seperti aren, kemiri, picung, bambu, dll. Sedangkan pada zona pemanfaatan, selain kopi, ia tanami dengan menanam kapulaga, pisang, jahe, dll.

Pada musim panen kopi tahun ini, tidak kurang dari 5 ton buah kopi ia dan anggotanya hasilkan. Namun, masih terdapat kendala dan hambatan yg ia hadapi, seperti; masih dijumpai cara memanen kopi yang tidak petik merah matang segar, atau pemrosesan pasca panen yang belum mengikuti kaedah standar sehingga mutu kopi yang dihasilkan rendah yang menyebabkan harga jual turun.

Ke depan, selain mengembangkan cafe dalam hutannya, ia juga akan mengembangkan penjualan kopi dalam kemasan sehingga harga penjualan kopi anggotanya bisa meningkat yang berkolerasi pula dengan meningkatnya pendapat petani anggotanya. Selanjutnya, ia juga berencana mengembangkan budidaya lebah madu, di mana potensi lebah dan pakannya tersedia di kawasan hutan yang dikelolanya.

Secara perlahan-lahan ia menata kawasan hutan dan memimpin anggotanya untuk meningkatkan taraf hidup dan menjadikan kawasan hutan sebagai beranda depan rumahnya dan masa depan anak-cucunya sehingga ia dapat mewarisi mata air kehidupan bukan air mata bagi anak cucunya.

Atas Angin, 6/6/2021

comments