Nahdliyin kudu Totalitas dan Ikhlas Berkhidmat di NU

88

Diibaratkan institusi Pondok Pesantren, Nahdliyin adalah santri dan mereka yg mengurus NU dari mulai level Kyai sepuh di PBNU, PWNU (Provinsi), PCNU (Kabupaten), MWCNU di Kecamatan hingga Ustadz kampung di Ranting Desa (PRNU) adalah para pengasuh dan Kiai-kiainya. Sedangkan Banom dan Lajnah sebagai pengurus para santri.

Baik santri yakni warga NU (nahdliyin) maupun kiai adalah para khodim yg membantu meneruskan estafet wali songo dan Hadrotusy Syaikh KH. Hasyim Asyari sebagai funding father Nahdlatul Ulama mewujudkan Islam Rahmatan lil alamain ala Nusantara. 

Berbicara tentang khidmah di Nahdlatul Ulama, maka pengurus-pengurus di tubuh NU juga tak lain sebagai mandataris poro kiai sepuh (Ru’asa). 

Imam Fariduddin Attar dalam Tadzkirotul Auliya berpesan: 

محبّة الجسد بالخدمة و محبّة الرّوح بالإستقامة

“Pengejawantahan cinta terhadap tubuh adalah dengan Khidmah dan pengejawantahan rasa cinta terhadap jiwa adalah dengan istiqomah.”

Dengan demikian jika mengaku cinta akan Nahdlatul Ulama maka secara lahiriah mau berkhidmah, leladen umat menjaga Ahlussunnah wal Jamaah secara konsisten (istiqomah) dan total tanpa ada tujuan (ghord) yang menyimpang.

“Khidmah di NU harus lahir dan bathin, jiwa raga, dan penuh cinta.”

Dalam kitab Majma’ al-Ahbâb, Sayyid Muhammad bin al-Husain juga membicarakan seputar amal yang sudah terkontaminasi dan melenceng dari tujuan awal (khittah), apakah akan mendapat pahala (reward), atau sama sekali tidak mendapatkannya, atau justru akan mendapatkan siksa karena bermacam motif yang mengotorinya? Menurutnya, pendapat yang diyakini kebenaranya adalah yang menganggap tidak mendapatkan pahala sama sekali, bahkan bisa jadi mendapat siksa.

Dari sini kita bisa ambil pelajaran, bahwa jika ada yang memanfaatkan NU hanya sebagai kendaraan politik atau numpang hidup tidak akan diakui santrinya mbah Hasyim dan tidak akan mendapat ridho dari para Ulama. Bahkan mendapatkan laknat, siksa. Naudzu billah min dzalik.

Kata Imam Suyuthi; al-Isytighol bighoiril maqshud i’rodhun anil maqshud_; berbuat sesuatu yang bukan maksud, berarti berpaling dari yang dimaksud. Maka ketika ada oknum siapapun yang telah keluar dari tujuan awal berkhidmah di NU secara total, loyal dan ikhlas maka sama saja orang itu berpaling dari kiai. 

Sangatlah naif jika ada segelintir oknum yang hanya main-main di NU, apalagi numpang hidup di NU, memanfaatkan sebagai pengurus NU (struktural).

Konferensi Cabang Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama Kabupaten Kuningan yang ke XIV tinggal beberapa jam lagi. Semoga sukses dan melahirkan pemimpin dan pelayan bagi organisasi dan umat yang loyalitas, totalitas dan ikhlas. 

*(Gus Aep: LTN PCNU Kab. Kuningan & Ketua PAC GP Ansor Kec. Cipicung)

comments