Mengalami Masa Jadzab di PMII

295

Oleh: Wahyu Iryana

Pembela Negara, Penegak Agama.

Satu Barisan dan Satu Jiwa…

Jadzab dikalangan pesantren biasa diartikan dengan keadaan di luar kesadaran. Asal kata dari lafadz Jadzaba-Yajdzibu-Jadzban yang bermakna “menarik” sementara Maf’ulnya adalah Majdzub yang mengandung makna tertarik, di dalam istilah tasawuf biasanya jadzab digunakan terhadap situasi bagi seorang yang sedang mengalami (khoriqul adat) atau semacam sifat kenylenehan,  keluar dari adat kebiasaan umum, atau bisa dikatakan orang gila yang berkeramat. Dikatakan gila karena munculnya pemahaman bahwa jadzab adalah hilangnya keumuman secara manusia, yang tentunya berbeda dengan arti gila dengan arti yang bersifat umum. Karena dalam bahasa Arab arti gila sendiri artinya Junna-Junuunan.

Masa Jadzab penulis sendiri pernah dialami ketika duduk dibangku kuliah, dan tergabung dalam organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi pada Nahdhatul Ulama (NU) yakni PMII, organisasi yang didirikan oleh Mahbub Djunaedi sang kolomnis sejati pada tanggal 17 April 1960 yang silam. Penulis mengalami kaderisasi dari Mapaba di Pesantren Al Falah, Cicalengka Bandung sampai Pelatihan Kader Lanjut (PKL) di Kali Urang, Jogjakarta. Kenakalan mahasiswa yang tergabung dalam gerakan PMII bagi penulis merupakan fase masa jadzab sebelum menjadi (proses being). Jadi apabila masih ada orang tua kita dan orang orang yang tidak faham PMII, masih usil dan menghardik kegarangan PMII dalam berorganisasi, mereka tidak sadar, bahwa di PMII merupakan proses pencarian jatidiri dan hakekat menuju makrifat manhajulfiqr berorganisasi.

Perlu dicatat UIN Sunan Gunung Djati Bandung adalah kampus tempat penulis mengenyam pendidikan jenjang strata satu, tepatnya pada prodi Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora. Secara umum pasca lengsernya KH. Musadad menjadi rektor pertama sekaligus pendiri, pucuk pimpinan dan struktur UIN Sunan Gunung Djati Bandung nyaris berturut-turut dikuasai oleh militer dan temen-temen dari organisasi kontra NU. Sampai sekarang pun masih tetap sama golongan hijau masih bertengger dalam struktur kampus, bisa dibahasakan dari pucuk pimpinan rektor sampai tukang sapu adalah hijau.

Sesungguhnya dalam benak penulis menyadari sepenuhnya bahwa alangkah indah apabila semua mahasiswa, mengetahui dan mengamalkan nilai-nilai tri darma perguruan tinggi dan setiap manusia aktif berorganisasi, mereka akan mengalami pengalaman berharga yang luar biasa. Kampus dan organisasi adalah tempat menempa jati diri. Dapat ibaratkan bahwa setiap tempat merupakan kawah Candradimuka calon pemimpin-pemimpin di masa yang akan datang. Di kampus kita bisa belajar banyak, bukan hanya secara tekstual dalam proses tatap muka di kelas dengan dosen, tetapi juga belajar untuk menempatkan diri bagaimana posisi kita sebagai mahasiswa. Kita bisa belajar tentang sumua karater sahabat-sahabat kita yang nyantri bareng di kampus.

Di kampus pasti banyak teman-teman kita yang datang dari berbagai darah, seperti Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Bekasi, Tanggerang, Sukabumi, Banten, Majalengka, Subang, Kuningan, Cimahi, Cirebon, Depok, Indramayu ada juga daerah lain di luar Jawa Barat baik dari Sumatra, Kalimantan, NTT, Jawa Timur, Jawa Tengah bahkan ada juga sahabat kita dari Thailand Selatan (Phatani). Masing-masing dari kita pasti mempunyai karater yang berbeda-beda. Baik itu gaya bahasa, adat istiadat maupun hal-hal lain sebagai bagian dari kearifan lokal masing masing daerahnya.

Begitupun ketika kita berorganisasi di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Semoga saja bukan benih-benih permusuhan yang tumbuh, tetapi perkawanan persahabatan dan rasa kekeluargaan yang tinggi yang akan muncul. Pentingnya kearifan seorang ketua yang bisa ngemong seluruh anggota agar semua berjalan lancar. Sang ketua idealnya tidak sombong, bertanggungjawab dan bijak menyikapi keadaan, ia tidak kuminter yang sok tahu padahal tidak mengerti arah tujuan organisasi yang ia bawa. Maka penempaan ini harus terus dilakukan lewat pengkaderan, otokritik para anggota, monitoring para alumni dan juga pembina.

Kita bisa belajar dari teman-teman dari daerah Tasikmalaya misalnya  tentang tauladanan kesantriannya, kita bisa belajar dari sahabat yang dari Phatani dalam hal minoritas Islam di Thailad bagaimana perjuanganya. Kita juga dapat belajar untuk memotret perbedaan karakter daerah pantura daerah serang Banten, Karawang, Indramayu, ataupun Cirebon yang mungkin secara geografis masih masuk ke dalam daerah Jawa Barat tetapi secara kultur berbeda jauh dengan masyarakat parahyangan yang berbahasa Sunda.

Dari pesantern juga kita mendapatkan transformasi keilmuan dari ajengan atau Kiai kita, terkadang juga Kiai atau ajengan (sunda) kita bercerita tentang siroh Nabi Muhammad, Perjuangan para Sahabat Nabi, Para Tabii Tabiin, ataupun ulama-ulama nusantara yang tak kalah pengaruh dalam menyebarkan Islam. Sebut saja Karomahnya Mbah Kholil Bangkalan Madura, Karomahnya Syeh Nawawai Al-Bantani, Shach Khatab Sambas, Kiai Idris Kamali, Kiai Srengseng, Kiai Abbas Buntet dan masih banyak yang lain.

Saudara-saudara kita dari pesantren pasti lebih faham tentang tata nilai praktik keagamaan karena di pesantren di ajarkan berbagai kitab baik Nahwu Sharof, Ilmu kalam, Faroidh, Sapinatul Najah, Khotril Ghois, Ta’alim Muta’alim dan yang lainnya. Di kampus  bisa jadi tidak lagi mengajarkan kitab-kitab dari pesantern tersbut tetapi lebih kedalam penjabaran praktik dari pada teks-teks itu sendiri. Ketika kita belajar kitab Ta’alim Muta’alim kita di ajarkan untuk bersikap santun terhadap guru.

Proses perkuliahan di kampus hanya memperoleh 25% dari proses tatap muka dengan dosen. Memang idealnya 16 pertemuan dosen harus masuk dan apabila dari 16 pertemuan dosen tidak bisa masuk sesuai jadwal maka dipindah ke hari yang lain. Namun, untuk kampus UIN Bandung kiranya belum dapat berjalan seperti itu berbeda jauh dengan di UGM, UNPAD, UI, ITS maupun ITB ataupun kampus lain yang berstandar ISO.

Maka alangkah baiknya apabila mahasiswa lebih mengasah kemampuan dalam segala hal baik dalam kebahasaan, pelatihan komputer, pelatihan internet, sering berkunjung ke perpustakaan-perpustakaan baik di Bandung ataupun ke Pusnas untuk menunjang kemampuan skil kita dan perbanyaklah kegiatan lain yang lebih positif, dan berorganisasi, banyak teman itu lebih indah dari pada banyak musuh lho. Keindahan dalam belajar di kampus akan musnah apabila Anda tidak mampu memanfaatkan waktu.

Karena nanti pada semester-semester pertengahan akhir sahabat-sahabat pasti menemukan titik jenuh yang begitu sangat. Hal ini pasti mampu di atasi apabila sahabat-sahabat mampu menjembatani kuliah dan kegiatan-kegitan yang lain. Apabila kita berkaca pada para pendiri negara Indonesia kita pasti tahu bahwa Soekarno, Sahrir, Hatta, Tan Malaka, Tri Murti, Soe Hok Gie, Wahid Hasyim, Wahab Chasbullah, Gusdur, Gusmus, Said Aqil Siraj ataupun tokoh-tokoh besar lainnya. Mereka tidak hanya berkecimpung dalam dunia kampus sebagai mahasiswa silabus saja. Namun mereka juga aktif dalam organisasi-organisasi gerakan kemahasiswaan baik ekstra maupun intra.

Apabila kita amanati sampai sekarangpun orang-orang yang duduk di gedung MPR/DPR para pengambil kebijakan para mentri mereka juga lahir dari kalangan aktivis-aktivis gerakan. Walaupun kita tidak boleh mengenyampingkan studi kita sebagai mahasiswa, organisasi jalan akedemispun selesai. Sebagai sample saya menarik historis Fauthing Father kita Soekarno waktu beliau mahasiswa, beliau sangat aktif di organisasi gerakan baik di studi club (diskusi-diskusi), ataupun organisasi kemahasiwaan yang lain, dan beliau juga menjadi Pendiri Partai Nasioanal Indonesia.

Dan mampu menjadi corong atau penyambung lidah rakyat yang pada waktu itu gandrung akan figur manusia pembebas yang bisa menyelamatkan mereka dari penjajah. Seokarno muncul dengan jiwa jaman (Zeitgest) yang sedang dilanda huru hara peperangan dan penindasan. Sampai beberapa kali keluar masuk penjara pada waktu dia masih mahasiswa maupun ketika sudah mendapat gelar insinyur.

Suatu hari soekarno mendapat surat panggilan dan teguran dari Prof.Koppler rektor Technische Hoogeschool (TH), kini Institut Teknologi Bandung (ITB). Soekarno di introgasi dan ditanya ”Mr. Soekarno bisakah anda menghentikan aktivas anda di luar kampus” Apa jawab Soekarno? Beliau jawab dengan tegas dan santun “Bapak Profesor bapak boleh meminta saya agar masuk kuliah dalam pelajaran bapak agar nilai-nilai kuliah saya baik, namun bapak Profesor yang mulia janganlah meminta saya untuk berhenti memperjuangan nasib rakyat yang tertindas.

Inilah bagian dari pengabdian sebagai mahasiswa, kritis dan peka terhadap problem yang ada di masyarakat. Kita malu apabila berkaca pada para Faunthing Father kita, kalau mereka mampu memeneg waktu dengan baik hingga sukses dalam segala hal, kenapa kita tidak. Inilah ibrah yang mungkin dapat kita ambil sebagai pembelajaran.

Masa Jadzab Berorganisasi

“Sekolah saja tidak cukup!” itulah kata-kata yang ternyiang dari novel yang ditulis Andrea Hirata. Bersekolah atau kuliah tidak menjamin manusia menjadi sukses atau memiliki kesadaran sosial yang tinggi, semuanya ada proses, dan tidak instan. Penulis ingat bahwa greget berorganisasi penulis telah tumbuh ketika kecintaan berorganisasi terasa nyaman, berhimpun, mengikat, dan bergerak di PMII dan menjadi Presiden mahasiswa di Kampus dari s1 bahkan ketika kuliah pascasarjana.

Bagi penulis PMII adalah “manunggaling rasa” Di PMII penulis mengalami masa jadzab. Dahulu ketika masih menjadi mahasiswa tingkat 1 penulis masih sangat polos bahkan bisa dibilang paling culun. Di PMII lah penulis mulai berani berpendapat, mendebat, diskusi, advokasi dan berorasi. Masa-masa gondrong, celana bolong dan dekil pernah penulis alami. Sayangnya tidak semua dosen suka akan tipikal mahasiswa PMII yang urakan, sangar, suka demontrasi (aksi), dan jarang masuk kuliah. (yang terakhir penulis tidak mengalami, penulis rajin kuliah ko… lulus coumloude pula). Bahkan terkesan dosen UIN Bandung yang berhaluan hijau mencibir dan menjelekan mahasiswa yang aktif di PMII.

Ya… itulah resiko aktif berorganisasi PMII semuanya oleh dosen dianggap salah. Bagi penulis ini pembunuhan karakter apalagi dilakukan di forum resmi bahkan di kelas walaupun tidak semua dosen sama. Imbas dari itu semua adalah pada Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) ketika mencari bibit baru dalam kaderisasi, susahnya minta ampun, bahkan yang sudah aktif ber-PMII mulai kendur kembali berorganisasi perlu di upgrede ulang. Sampai detik ini setelah menjadi alumni dan mengabdi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung , menjadi buruh negara resmi sekalipun susahnya poll banget, honorer sepanjang hayat. Mereka tidak faham bahwa PMII sangat besar dan masif di luar UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Hampir semua alumni yang pernah ber-PMII pasti mengalami masa jadzab, jadi apaun ia, jadi pejabat, birokrat, pengasuh pesantren, tokoh masyarakat,  menjadi mentri, seperti Mentri Sosial Hj. Khofifah Indar Parawangsa, Mentri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi, menjadi Ketua Umum (Tanfidziyah PBNU) seperti Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA., penulis meyakini beliau-beliau para pendahulu adalah sahabat-sahabat yang pernah mengalami masa jadzab di PMII.

Kata “Kekeluargaan dan Kebersamaan” terasa begitu familiar di telinga kita, khususnya bagi mereka yang tergabung dalam sebuah komunitas atau organisasi gerakan PMII, jiwa korsalah yang diutamakan. Tetapi terkadang individu di dalam kelompok tersebut tidak tahu atau bahkan melalaikan arti makna dari kekeluargaan dan kebersamaan. Mengapa rasa kekeluargaan dan kebersamaan begitu penting dalam sebuah organisasi, ikatan, group atau komunitas? Kata “Kekeluargaan dan Kebersamaan” memiliki makna sebuah ikatan yang terbentuk karena rasa kekeluargaan/persaudaraan, lebih dari sekedar bekerja sama atau hubungan profesional biasa. Di PMII  ada tangis, tertawa bahkan saling mencela tetapi masih dalam ruang koridor berorganisasi dan atap rumah yang sama.

Seluruh keluarga besar PMII baik yang masih menjabat sebagai pengurus maupuan yang sudah kembali menjadi bagian masyarakat (Alumni) diharapkan mampu memompa kembali semangat anggota dan seluruh struktural organisasi untuk bahu membahu melakukan ruang gerak yang maksimal. Menganalisis program yang akan dilendingkan apa saja, bergerak untuk mewujudkan program kerja yang belum dilaksanakan.

Begitupun mereka yang sudah menjadi alumni medan juang yang lebih kongkrit akan sangat terasa, namun penulis meyakini mereka yang telah ber-PMII secara khatam akan lebih siap menyatu dengan masyarakat delam segala profesi. Tugas ini memang berat apabila dilakukan oleh masing-masing individu, tapi apabila masing-masing individu tersebut mempunyai tanggagung jawab kolektif yang masif dalam berorganisasi, Diaspora gerakan di segala bidang harus dituntaskan sampai final.

Insha Allah semua akan terlaksana sesuai harapan. Teringat ucapan sang ayah bahwa Jer Besuki Mawa Bea (segala bentuk perjuangan harus disertai dengan doa). Rawe-rawe rantas malang malang putung, merdekalah dalam amukti palapa…! Marilah melakukan kerja-kerja positif dengan penuh tanggungjawab, Bersatu dan masif tidak bisa dikalahkan. Sejatinya visi hanyalah langkah langkah mati apabila tidak diperjuangkan melalui tindakan. Sesungguhnya perjuangan adalah pelaksanaan dari kata-kata. Namun harus diingat teriak kita sampai kapaunpun dimanapun sahabat-sahabat akan tetap lantang walau aral merintang tangan terkepal dan maju kemuka, Lawan!.

 

Bandung, 01/01/2017. Pukul 04:55.

Penulis, Jubir Mustadaffin yang pernah mengalami masa Jadzab di PMII Kota Bandung.

Comments

comments