KUNTU AKHOK(A/I) ~

109

Nama “AHOK” sudah lama saya dengar. Setidaknya sejak berkenalan dengan kitab Nahwu Aljurumiyyah. “Ro’aitu Akhoka”, adalah contoh yang sering muncul saat pembahasan Nahwu.

Juga pernah dengar dari Pangersa Abah Aos qs, yang bersyair dengan syair gubahan penyair klasik asal Iraq bernama Robi’ah bin ‘Amir bin Anif Ad Darimy At Tamimy (w. 89 H) :

أَخَاكَ أَخَاكَ إنَّ من لا أخا له ** كساعٍ إلى الهيجا بغير سلاح

“Saudaramu saudaramu, sesungguhnya orang yang tidak punya saudara adalah seperti orang yang berjalan menuju medan pertempuran tanpa membawa senjata”.

“Ahok” (ditulis: Akhoka)” adalah satu dari Al-Asma’ Al-Khomsah (Isim Lima). Berasal dari kata “Akhun” (أخ ) yang artinya “saudara”. Karena I’robnya Nashob, maka diberilah huruf “Alif” setelah “Kho”. Huruf “Kaf” disitu adalah Mudhof ‘ilaihi yang berupa Isim Dhomir Mufrod Mudzakar Mukhotob, yang berarti “Kamu”. Maka arti “Akhok(a)” adalah “Saudaramu”.

I’rob bagi kaum Sufi dimaknai sebagai kondisi hati yang dapat berubah-rubah sesuai gejolak hati yang masuk mempengaruhinya, sebagaimana berubahnya akhir Kalimah karena perbedaan ‘Amil yang ada.

Nashob adalah Maqom Ridho dan Kepasrahan Diri. Yakni ketegaran diri mengikuti arus perjalanan takdir.

Alif bermakna kesatuan (Alif al-Wahdah), tanda ketinggian derajat pemiliknya. Huruf pertama dalam semua susunan abjadiyyah skaligus huruf pertama bagi Ismullohil A’dzom.

Maka, betapa kita sangat butuh keridhoan, kerelaan bersama agar persaudaraan tercipta dan terbina. Tegak seperti tegaknya huruf Alif. Lalu membentuk “Ulfah” (keharmonisan) dan “Ta’lif” (penyatuan).

Dari kata “Akhun” muncul kata “Ukhuwwah” (persaudaraan) dan “Ikhwan” (bersaudara).

Persaudaraan atas dasar keislaman [Ukhuwwah Islamiyyah], atas dasar sesama warga negara [Ukhuwwah Wathoniyyah], atas dasar sesama manusia [Ukhuwwah Basyariyyah].

Ahli Silsilah TQN PP. Suryalaya dengan tawadhu’nya memilih menyebut para murid dengan nama “Ikhwan”.

Hal ini dilandasi dari QS. Al Hijr 47 : “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam [ghill] yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara [Ikhwan] duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”.

Juga QS. Ali Imran 103 : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Alloh dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Alloh atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Alloh) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara [Ikhwan] sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Alloh mendamaikan antara hati kamu.

Demikianlah Alloh menjelaskan ayat ayatnya agar kamu mendapat petunjuk”.
Juga hadis Nabi saw :

“Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara [Ikhwan]. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya” (HR. Muslim).

Di Sirnarasa, Senin 9 Dzul qo’dah 1436 H/ 24 Agustus 2015 M, Guru Agung Abah Aos pernah menyampaikan, “Para pengamal, pengaman serta pelestari TQN PPS, yang sedang menempuh Hakikat Keikhwanan”. Hakikat Keikhwanan adalah saat dimana seorang ikhwan sudah terlepas dari “ghil” (dendam)nya.

Mulai dendam terhadap manusia, kerabatnya, sahabatnya, musuhnya, bahkan dendam terhadap nasib dan kemiskinan hidupnya.

Kini, kita belum juga selesai ribut dan saling bertengkar di hadapan “Ahok”. Kita saling menghujat satu sama lain diatas “Ahok”. Kita saling tuding dengan alas “Ahok”. Padahal ia adalah “Ahok(a/i)”, “saudaramu”.

Ada orang saling berteriak, saling dorong, saling sikut, saling menginjak, bahkan ada nyawa yang dipertaruhkan, untuk sekedar mencium Hajar Aswad. Sementara dihadapannya ada Baitulloh, Rumah Alloh, symbol fisik dari KediamanNya, juga Kiblat lambang persatuan dan kesatuan serta kebersamaan Umat Islam.

Mengapa kita saling menyakiti atas nama Sunnah Rosul-Nya, padahal kita ada dihadapan RumahNya? Dan mengapa kita menghancurkan persaudaraan, padahal ia adalah “Ahok(a/i)”, saudaramu sendiri? (Radio Dalam, 10-5-’17)

*Tulisan tersebut di ambil dari pengajian di rumah sahabat KH. Irfan zidny Wahab.
pengasuh Yayasan Darul marfu radio dalam Jakarta.

Comments

comments