Kritik untuk Habib Rizieq Shihab

152

Kritik untuk Habib Rizieq Shihab

Kabar terkait kepulangan Habib Rizieq Shihab (HRS) begitu santer diberitakan berbagai media dalam waktu sepekan ini. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa HRS telah lama ‘kabur’ dari kasus yang disangkakan kepadanya. Dengan berbagai macam alasan HRS berkilah tidak bersalah tanpa mau menghadapi ketentuan hukum yang berlaku. Entah apa yang ada dipikirannya, ia–melalui para pendukungnya–meminta agar dibebaskan dari sangkaan kasusnya.

Saking istimewanya, sampai dibentuk panitia khusus yang diketuai Eggi Sudjana–yang kemudian mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Front Pembela Islam (FPI) semakin ganas dan garang, terutama pasca bergulirnya Pilkada DKI Jakarta. Dengan dalih mengatasnamakan ‘suara’ umat Islam, sejumlah propaganda FPI berhasil mencuri simpati. HRS yang didaku sebagai Imam Besar dielu-elukan bak seorang Nabi atau Rasul yang ucapan, tindakan dan ketetapannya harus selalu (di) benar (kan).

Sependek yang saya tahu HRS dan FPI adalah biang utama intoleransi di negeri ini. Intoleransi menjamur karena ia tidak seganas radikalisme yang pelakunya betul-betul melakukan kekerasan dan teror. Kepolisian seperti kesulitan menindak intoleransi dewasa ini. Dibekali dengan mental pemberani dan keras, FPI boleh berbangga karena sedang berhasil memobilisasi massa. Strategi dan militansinya dalam memupuk politik identitas di negeri ini memang hampir tiada duanya.

Bagi saya yang berislam ala Nahdlatul Ulama, HRS dan FPI telah banyak melakukan pelanggaran terhadap ajaran Islam. Akibat dakwah mereka, Islam menjadi intoleran. Ini dibuktikan karena sejak awal bahwa FPI identik dengan aksi sweping, aksi perusakan dan aksi kekerasan yang lain. Berikut identik dengan perilaku ujaran kebencian: mencaci maki, menyumpah serapah, menyesatkan, mengkafirkan kelompok lain yang berbeda.

Khusus untuk kritik saya terhadap HRS, bahwa sudah sepantasnya bahwa seseorang yang dianggap ulama harus mencontohkan teladan dan perilaku yang baik. Dalam rekam jejaknya, beberapa kali HRS pernah mendekam di jeruji besi. Itu menunjukkan bahwa HRS adalah orang yang dianggap ulama tetapi bermasalah. Karakter yang cenderung keras dan kemampuan orasi yang menggebu-gebu memang menjadi ciri khas tersendiri, sebuah strategi yang jitu mempengaruhi pengikutnya untuk semakin keras dan militan.

HRS juga telah melakukan kesalahan fatal, selain dua kasus yang sedang menjeratnya, atas kepeloporan HRS, ia dan pengikutnya telah terjebak melakukan politisasi agama. Mulai dari penggunaan aksesoris sampai dalil-dalil Islam yang disalahgunakan untuk kepentingan politik praktis. Apalagi sampai memobilisasi massa untuk melancarkan kebencian. Kemuliaan Islam dijadikan alat untuk menaruh kebencian dan dendam kesumat. Termasuk apalagi kalau terlibat provokasi hoaks kebangkitan PKI. Ini mengerikan sekali.

Aksi intoleran ini setara dengan kejahatan korupsi. Intoleransi membunuh kemanusiaan dan peradaban. Ulahnya mengoyak integrasi dan kebinekaan bangsa. HRS dan FPI harus kita ingatkan, bahwa dakwah Islam dan aksinya selama ini sangat membahayakan. Banyak yang–entah sadar atau tidak–bahwa HRS dan pengikutnya di FPI telah mencoreng wajah Islam itu sendiri. Pengikut FPI biasanya dihuni oleh mereka yang tidak punya pengalaman belajar di pesantren (sebagaimana pesantren yang ada di NU), orang-orang yang sedang dalam keadaan tobat (ingin mendalami Islam, hanya saja keliru mencari teladan), dan lain sebagainya.

Akhirnya, berita kepulangan HRS konon dikabarkan batal. Entah maunya apa dan bagaimana. Tetapi yang pasti, saya akan terus kritik HRS dan FPI agar ia dan pengikutnya gentle untuk mengikuti aturan hukum yang berlaku dan tak perlu ada perilaku ancam-mengancam. Dan asal tahu saja, corak dan ekspresi keislaman yang diajarkan HRS dan FPI tidak akan berumur panjang. Mereka telah menyalahi misi Islam yang rahmatan lil’amin menjadi laknatan lil’alamin. Saya juga menyarankan agar HRS dan FPI belajar kepada para ulama dan ormas NU dan Muhammadiyah.

Wallaahu a’lam

Mamang M Haerudin (Aa)
GP Ansor Kabupaten Cirebon

Pesantren Bersama Al-Insaaniyyah, 21 Februari 2018, 11.38 WIB

comments