KH. Hasyim Sirojuddin, Tokoh NU Jawa Barat yang Terlupakan

93

HASYIM SIROJJUDIN (1935 – 2016) adalah wakil ketua DPRD dari partai NU (1971) dan ketua GP Ansor (1980) Jawa Barat. Kiprahnya tidak banyak diketahui kecuali oleh segelintir orang, itu pun hanya fragmen-fragmen yang berserakkan, hanya potongan-potongan kisah perjuangan Beliau dalam mengembangkan NU di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Bandung.

Masa Muda
Beliau lahir pada tanggal 30 desember 1935. Buah hati dari pasangan Mama Haji Siraj dan Nyai Haji Tuhfah. Anak ke-8 dari 12 bersaudara. Guru ngaji pertama Beliau adalah ayahandanya sendiri mulai dari mengaji al-Quran sampai mengaji kitab kuning. Saat seumuran anak SD, Beliau telah tamat mengaji kitab-kitab kecil seperti kitab Safinah, Sullamut Taufiq, Sullamul Munajat (Fiqh), Tijanudharori (Tauhid), Jurumiyah (Nahwu), Kailani (shorof), Al-Mu’awanah (tasawuf).

Setelah tamat SD (dulu SR) Hasyim muda melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di jalan Wastukencana Bandung dan mengaji di Pesantren Menengah Pertama (PMP) NU di jalan Balonggede Bandung, beliau mengaji selama 2 tahun dan tidak dilanjutkan karena PMP tersebut bubar.

Namun petualangan Beliau dalam menggali ilmu agama tetap dilanjutkan dengan mengaji ke Ajengan Ansor di Sawahkurung, Ajengan Abdul Hamid di Astana Anyar dan Ajengan Bajuri untuk mengaji Alfiyah. Ketika usia beranjak dewasa beliau melanjutkan mengaji kepada Ajengan Jumhur di Kiangroke, Ajengan Afifuddin dan Ajengan Junaedi di Tegalcaang.

Kiprah Di NU bersama GP Ansor
Kiprah Beliau di NU dimulai pada sekitar tahun 1963 saat Soekarno mengambil sikap politik konfrontasi terhadap Malaysia dengan alasan bahwa rencana pembentukan Negara federasi Malaysia diyakini Soekarno sebagai proyek new-imprealisme/new kolonialisme Inggris yang dapat mengancam kepentingan politik Indonesia.

Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap kondisi internal masyarakat sebagai bangsa yang sedang bangkit dari keterpurukan ekonomi pasca merdeka dari kolonialisme Belanda, dan sebagai bangsa yang sedang mencari kiblat revolusi selanjutnya.

Dalam kondisi politik yang memanas ini Hasyim muda pun mulai terlibat dalam kegiatan organisasi NU. Atas paksaan KH Afifuddin dalam rapat pembetukan pengurus GP ANSOR anak cabang kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung Jawa Barat dan atas inisiatif Pengurus MWC NU kecamatan Banjaran Beliau pun menjadi ketua ANCAB GP ANSOR kecamatan Banjaran.

Bersaing dengan “Dog Band”
Tahun 1964 suhu perpolitikan di Indonesia semakin memanas. Tiga partai politik (NU, PNI, dan PKI) sangat gencar ingin merebut simpati massa. Acara peringatan Hari Kemerdekaan atau populer dengan sebutan “Agustusan” dijadikan momen oleh para aktivis dan simpatisan partai untuk “show of force”. Semua unjuk kekuatan dengan memperlihatkan banyaknya anggota .

Pawai Agustusan ramai luar biasa. Pemuda ANSOR dari tiap desa turun ke alun-alun untuk mengikuti pawai. GP ANSOR ranting Tarajusari Banjaran (Cireungit) dan Kiangroke pun meramaikan pawai dengan menggunakan drum band. Sedangkan Pemuda Marhaen (PNI) dan Pemuda Rakyat (PKI) meramaikan pawai dengan menggunakan dog-dog (alat pukul khas sunda). Anak-anak menyebutnya “DOG band.” Hasyim muda sebagai aktifis NU saat itu berhadapan langsung dengan kekuatan besar PNI yang mengakar di wilayah kabupaten Bandung khususnya kecamatan Banjaran.

Sosok ibu Inggit Garnasih yang masyarakat kenal sebagai istri bung Karno yang berasal dari desa Kamasan kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung yang menjadi penyebab kuatnya PNI di wilayah tersebut.

Masa Rebutan jadi “Orang NU”

Tahun 1965 meletuslah pemberontakan G-30-S PKI pada tanggal 30 september. PKI dapat ditumpas oleh ABRI terutama angkatan darat dengan didukung oleh partai yang menjadi saingan PKI yaitu NU dan GP ANSOR-nya terutama Barisan Ansor Serbaguna (BANSER).

Pada masa-masa pasca G-30S PKI, GP ANSOR benar-benar menjadi magnet, desa-desa yang belum ada pengurus Ranting GP ANSOR-nya berbondong-bondong datang ke Pimpinan ANCAB GP ANSOR meminta untuk dilantik.

Partai Islam, Khususnya NU dan kaum muslimin umumnya ada “diatas angin” kehidupan beragama waktu itu sangat semarak. Ketika sholat Jumat mesjid-mesjid penuh. Majlis-majlis ta’lim penuh sesak dengan masyarakat yang mengaji. Sholat jamaah lima waktu pun ramai bagaikan sholat tarawih di bulan Ramadan. Semua pejabat dan tokoh masyarakat ingin diakui sebagai warga NU. Orang-orang berebut ingin dikatakan bahwa dirinya adalah orang NU.

Sebagai ketua ANCAB GP ANSOR kecamatan Banjaran ketika itu Hasyim muda apabila akan mengikuti rapat di Sukamiskin harus merogoh kantong sendiri. Pernah terjadi ketika akan mengikuti kongres IPNU di Surabaya ongkosnya mencari dulu dengan cara meminta kepada aghnia (orang kaya) dan simpatisan NU.

Tak jarang ketika akan mengadakan pelantikan GP ANSOR ANCAB kecamatan Banjaran, Hasyim muda membuat surat undangan sendiri dengan membeli 15 lembar kertas folio dari warung lalu dibagi dua, jadi setengah folio. Mesin ketiknya meminjam ke toko Tumbuh dan surat undangan diantar sendiri dengan berjalan kaki dengan jarak kiloan meter.

Menjadi Wakil Ketua DPRD Partai NU dan Ketua Ansor Jawa Barat
Tahun 1965 awal diadakan konferensi GP ANSOR cabang Kab. Bandung di Banjaran (PONPES MUBAROKULHUDA sekarang) hasyim muda pun terpilih menjadi ketua GP ANSOR Cabang Kabupaten Bandung menggantikan H.Thoha (Sukamiskin) dan pada tahun 1971 beliau terpilih menjadi anggota DPRD DT II Bandung menjadi wakil ketua DPRD dari partai NU.

Tahun 1975 diadakan konferensi GP ANSOR wilayah Jawa Barat. Beliau terpilih menjadi wakil ketua mendampingi Kang H Ali Ibrahim sebagai ketua. Tahun 1980 pada konferensi GP ANSOR JABAR Hasyim muda pun terpilih menjadi ketua umum GP ANSOR Jawa Barat.

Memperjuangkan Pendidikan
Setelah beliau tidak menjadi anggota DPRD dan masih menjadi ketua GP ANSOR wilayah Jabar, beliau kembali mengurus pesantren yaitu pesantren Mubarokulhuda. Sentuhan pendidikan umum dan organisasi mempengaruhi pola pikir beliau dalam memandang pendidikan. Oleh karenanya selain dunia pesantren beliau pun mulai merintis pendidikan umum tepatnya tahun 1984, SMP PEMUDA pun didirikan. Dan pada tahun 2002 beliau mendirikan SMA PEMUDA. Keduanya masih berdiri dan beraktifitas hingga kini.

Masa Senja
Di usia senja beliau masih dapat memberikan kontribusi pikirannya untuk umat salah satunya menjadi anggota komisi Fatwa MUI provinsi JABAR. Dan pada tanggal 6 Juni 2016/ 30 romadlon 1437 beliau pun menghebuskan nafas terakhir meninggalkan banyak jejak kebaikan dalam berjuang dalam agama. Beliau tidak mengenal rasa gengsi saat berceramah di gang di pemukiman kumuh walaupun beliau adalah mantan anggota dewan “yang terhormat” dan mantan ketua GP ANSOR tingkat provinsi.

Kedermawanan-nya dan perhatian-nya terhadap NU pun dikenang, di usia senja ketika ada kegiatan NU di sekitar Beliau sumbangan berupa materi pun selalu di berikan dari kantong pribadi beliau. Mesjid-mesjid yang Beliau ketahui sedang dibangun tak luput dari perhatian dan bantuan materi.

“NU bukan lahan untuk mencari makan. NU adalah alat untuk berjuang dan supaya NU besar memberi adalah salah satu jalannya”

Semoga jejak perjuangan Beliau dapat diikuti dan dilanjutkan oleh seluruh keturunan Beliau sebagai amal jariah seperti yang diterangkan hadits nabi. Dan menjadi cermin bagi siapapun bahwa keadaan ekonomi yang semerawut dan keadaan politik yang panas tidak menjadi halangan dalam berjuang dalam agama. “NU bukan lahan untuk mencari makan. NU adalah alat untuk berjuang dan supaya NU besar memberi adalah salah satu jalannya”, pesan yang pernah penulis terima.

Penulis,
Abu Al- Fatih Abu Dzar, S.Pd.
Pembantu at LTN NU JABAR, Teacher at Clever Learning Center and Student at PONPES LIRBOYO

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2

Comments

comments