Ketum PBNU Paparkan Tantangan Indonesia kepada Kader PMII

169
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyampaikan sambutan dalam penyelenggaraan Hari Lahir (Harlah) Ke-57 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan peresmian Graha Mahbub Djunaidi, Senin (17/4) di Kantor PB PMII Jalan Salemba Tengah Paseban Jakarta Pusat.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini menerangkan, di setiap zaman tidak akan terlepas oleh adanya tantangan dan hambatan. Memasuki era yang sangat menantang ini, merupakan agenda sebagai warga NU untuk menangkal radikalisme dan paham-paham yang berusaha merongrong Pancasila dan NKRI.
Kiai Said memaparkan, bangsa Indonesia saat ini berada di era yang sangat menantang dan liar, seperti gerakan radikal. Menurutnya, ini tidak kebetulan. ISIS punya agenda global dan ingin masuk ke berbagai belahan dunia.
“Menurut survei yang dirilis Kompas, simpatisan ISIS jumlahnya 4 persen, yang berarti kurang lebih 8 sampai 10 juta,” paparnya di hadapan para kader PMII yang memadati Graha Mahbub Djunaidi.
Guru Besar Ilmu Tasawuf ini berharap, dengan adanya tantangan yang dapat memecah belah NKRI, perlu ada penyatuan prinsip. Karena Indonesia salah satu tempat yang aman dan nyaman, serta mudah dimasuki paham-paham transnasional.
“Saya kurang yakin kalau bukan kiai-kiai pesantren yang membentengi negeri ini,” tegas Kiai Said.
Terdapat sisi positif dari para kiai-kiai pesantren yang dapat masyarakat ambil. Kiai mempunyai karakter yang kokoh prinsip dan sikap yang tegas, teguh berpendirian, dan berakhlakul karimah.
Di akhir pidatonya, Kiai Said menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam Ahlussunnah Wal Jamaah.
“Saya tidak pernah bergeser dari tawasuth (moderat) dan tasamuh (toleran),” paparnya menegaskan.
Selain itu, warga pergerakan harus mampu mengimbangi nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah dengan terwujudnya intelektual yang berkualitas.
“Prinsip tawasuth, tidak akan terwujud bila tidak dibarengi dengan intelektual. Tanpa kecerdasan tidak mungkin tawasuth. Warga NU harus berilmu dan cerdas,” tegas diakhir pidatonya.
Sedangkan prinsip tasamuh, tandasnya, warga NU harus toleran dibarengi dengan akhlakul karimah. “Saya yakin bila ber-NU akan bermanfaat,” tutupnya. (Robiatul Adawiyah/Fathoni)
Sumber : http://www.nu.or.id

Comments

comments