Ketua Ansor Jabar: Menjadi Jurnalis Tugas Kenabian, Sampaikan Informasi Dengan Cara Benar !!!

415

Majalengka, (Ansorjabar Online)

Seorang jurnalis pada dasarnya merupakan tugas kenabian. Perannya sangat penting dalam menyampaikan berbagai informasi ditengah masyarakat.

Hal tersebut disampaikan oleh Deni Ahmad Haidar dalam sambutan pembukaan Pesantren Jurnalistik Angkatan ke 2 PW Ansor Jawa Barat bekerjasama dengan PP LDNU di Pondok Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka, Minggu (12/03).

“Tugas jurnalistik adalah tugas nubuwah. Dalam al-Quran ada surat al-Naba. Para nabi atau Anbiya adalah orang yang mengabarkan”, kata Deni.

Sebagai kader Ulama, lanjut Deni, kedudukan jurnalistik menjadi hal yang penting, maka menjadi kewajiban bagi generasi muda NU untuk terampil dalam bidang ini.

“Karena kita kader ulama, maka wajib hukumnya menjadi kader muballigh. Nah, muballigh yang tabligh hari ini yang kurang di wilayah jurnalistik. Padahal untuk menentukan kualitas sanad yang tersambung dengan kanjeng nabi, kemudian untuk menentukan kualitas rowi yang berkualitas, jurnalisme itu sesuatu yang sangat penting”, terangnya.

Sampaikan Dengan Cara Benar

Deni menekankan kepada para peserta, bahwa sebagai jurnalis yang kader ulama, maka harus menyampaikan kebenaran dengan cara-cara yang benar pula.

“Kader kyai itu harus menyampaikan kebenaran dengan cara-cara yang benar”, ujarnya.

Ditengah melubernya informasi tanpa kendali, sambung Deni, saat ini banyak produksi infromasi yang mengabaikan kaidah dan etika jurnalistik. Deni mencontohkan yang dialami Ketua Umum PBNU yang sering dijadikan sasaran penyebaran informasi yang tidak benar.

“Makin kesini, orang makin males. Untuk menguji sebuah kualitas hadist, dalam mustholah hadist ada yang dinamakan jarh wa ta’dil. Kalau sekarang kan orang sudah males. Ketika kyai Said dijelek-jelekan orang gampang percaya, padahal kyai said nya masih ada, gak pernah mau nanya untuk tabayun (red: konfirmasi)”, jelasnya.

Padahal kata Deni, para perowi hadist itu untuk mencari satu orang sumber informasi hadist harus berjalan ratusan kilo meter.

“Untuk menentukan kualitas hadis itu betul atau tidak. Kualitasnya seperti apa. Mereka harus menempuh perjalanan 200-300 kilo meter. Hal ini, agar hadist tersebut bisa dipertanggungjawabkan”, imbuhnya.

Pesantren Jurnalistik angkatan ke 2 ini, PW Ansor Jabar kerjasama dengan Lembaga Dakwah PBNU (LDNU) dengan diikuti kurang lebih 200-an peserta dari perwakilan Banom NU (Fatayat NU, IPNU, PMII, PC Ansor), dan juga PMII se Jawa Barat. Selama satu hari penuh para peserta dibimbing oleh para narasumber ahli dari penerbit Kompas. (Edi)

Comments

comments