Kastrol Value

329

Oleh: Ibon

Saya belum menemukan arti Kastrol dalam kamus Bahasa Indonesia. Kastrol itu entah berasal dari bahasa mana. Yang jelas Kastrol adalah salah satu alat untuk masak nasi liwet. Kastrol lebih identik dengan santri. Walaupun masyarakat biasa juga kerap menggunakannya.

Santri terdahulu mungkin paham betul apa itu Kastrol. Sebab, saya kurang yakin santri kekinian masih menggunakan alat tradisional tersebut untuk masak nasi. Mengingat perkembangan zaman, maka mereka lebih memilih menggunakan alat yang lebih modern atau memilih beli nasi ke Bi Eli dibandingkan masak sendiri.

Santri dulu, kalau lapar dalam pikirannya hanya ada bayangan Kastrol. Bagi mereka, Kastrol adalah alat pembantu untuk menyambung hidup.

Kastrol juga punya kawan. Yakni tungku dan suluh (kayu bakar). Tampa bantuan kedua alat tersebut Kastol gak bisa berfungsi dan akan hilang nilai kekastrolannya.

Sorea hari, kadang malam, kadang siang juga Kastrol difungsikan. Para santri menyiapkan bahan-bahan untuk memasak nasi liwet dan lauk pauknya.

Setiap santri mengambil satu gelas berasnya masing-masing yang kemudian disatukan untuk dimasak bareng-bareng. Kemudian, patungan beli ikan asin, sambeleun (gak tau apa bahasa Indonesianya), lalapan, dan lain sebagainya. Semuanya diracik dengan diawali Bismillah. Berharap masakannya nikmat dan berkah.

Tapi, saya berani bertaruh, masakan liwet yang diracik sama santri gak pernah gagal. Selalu nikmat kendati dengan lauk pauk yang relatif sederhana.

Setiap hari seperti itu. Mereka tetap berwibawa, cerdas, dan asyik walaupun makanan yang mereka konsumsi sederhana. Sederhana hanya sekedar bahasa, yang jelas, karena itulah mereka bisa diandalkan untuk menciptakan bangsa ini lebih berwarna dan kokoh.

Kastrol punya value. Selain untuk memasak, Kastrol juga berfungsi untuk memukul maling atau anjing galak. Coba Kamu rasakan sendiri bagaimana rasanya dipukul pakai Kastrol. Pasti pakbelentrang dan mengakibatkan benjol yang cukup serius.

Kastrol saat ini masih banyak yang jual. Tapi mulai gak punya nilai jual. Nah loh kenapa? Ya jelas, santri saat ini lebih memilih yang instan-instan saja. Gak mau berjuang dulu, tinggal ‘am’ dan kemudian ngagoler (tidur).

Tapi yang jelas begini, bukan ansich soal budaya berkastrol, tapi budaya perjuangan santri kekinian. Santri saat ini, kebanyakan, gak semuanya sih, lebih memilih menjalani hidupnya secara instan. Lupa akan filosofis Kastrol yang sarat dengan value.

Budaya ngaliwet atau berkastrol sebenarnya dapat menumbuhkan rasa kebersamaan. Dengan makan bersama akan terasa suatu proses perjuangan. Gak masing-masing yang sama sekali gak ada nilai perjuanganya.

Kastrol simbol kekuatan, juga solidaritas. Dengan berkastrol kita kuat, kita mandiri, dan kita sadar bahwa perjuangan perlu alat keras. Alat keras yang banyak fungsinya.

Analoginya, dalam mencari ilmu kita perlu kepala yang keras. Bukan keras kepala. Keras menurut otak saya yaitu perlunya berpikir keras. Maka datanglah kecerdasan yang cadas tanpa batas dan berujunglah menjadi insan yang berkualitas dan berkelas. Gitu aja sementara. Cag.

comments