Kang Said dan Ikhtiar Memaklumi Ketidakpahaman Bupati Lampung Selatan

42

Kang Said dan Ikhtiar Memaklumi Ketidakpahaman Bupati Lampung Selatan

Tak kenal maka tak paham. Itulah pepatah yang tepat untuk seorang Bupati Lampung yang video ketidakpahamannya viral di media sosial. Dia merajuk, sambil menyuruh warga Nahdliyin di Lampung Selatan untuk memprotes Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA–beliau Ketua Umum PBNU yang akrab disapa Kang Said. Tulisan ini hadir sebagai ikhtiar mengenalkan Kang Said kepada orang-orang yang gagal paham.

Kang Said masih menjadi Ketua Umum PBNU untuk priode kedua. Berikut sekilas profil Kang Said yang harus kembali saya beri tahu. Beliau adalah putra kedua dari Al-Maghfurlah KH. Aqil Siroj, pendiri Pesantren Kempek, Gempol, Cirebon. Setelah belajar di bawah bimbingan Ayahnya, Kang Said belajar di Pesantren Lirboyo dan kemudian Pesantren Krapyak, menempuh strata 1 di IAIN Sunan Kalijaga (Kini UIN Sunan Kalijaga), sampai kemudian lulus dengan mengagumkan strata S2 dan S3 di kampus ternama Arab Saudi.

Terakhir beliau meraih gelar Profesor dalam bidang Tawasuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Pasca studinya dari Arab Saudi, beliau dipanggil Al-Maghfurlah KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur untuk langsung aktif dalam jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, berikut jauh-jauh hari Gus Dur telah memprediksikan bahwa Kang Said akan menjadi Ketua Umum PBNU di masa depan. Kang Said itu–kata Gus Dir–perpustakaan berjalan; mampu menghafal banyak kitab kuning, hafal sanad keilmuan sampai Nabi Muhammad saw.

Setidaknya jejak keilmuan Kang Said harus kita ketahui. Berikutnya adalah tradisi atau kultur pesantren, termasuk tradisi bermauizhah hasanah para kiai dan dai Nahdlatul Ulama yang selalu dibumbui dengan guyon dan joke bernada satire. Bagi yang tidak mengenal NU dan tradisinya, maka dipastikan akan selalu gagal memahami keilmuan dan kepribadian Kang Said. Tidak aneh jika kemudian Kang Said, sering mendapat hinaan, cap liberal, nyeleneh, antek Syiah, antek Kristen dan fitnah.

Persis sebagai apa yang diungkapkan Bupati Lampung Selatan yang seolah-olah merasa benar–meskipun pada nyatanya konyol dan semakin menunjukkan ketidakpahamannya–bahwa Kang Said ada dalam posisi salah dan harus diprotes. Yakni berkenaan dengan guyon bernada satire Kang Said soal ‘semakin panjang jenggotnya maka semakin (maaf) goblok’, ‘gamis panjang, jidat hitam, celana cingkrang, jenggot panjang, Allahu Akbar’, ‘shaf shalat biar jangan terlalu rapat biar setan ikut shalat dan guyon bernada satire lain sejenisnya.’

Bagi yang tidak paham tradisi pesantren dan NU, pernyataan atau guyon bernada satire itu pasti akan dianggap sebagai pernyataan yang menghina. Padahal maksud Kang Said sebetulnya adalah begini: Berjenggot panjang itu sah-sah saja, yang berjenggot silakan, yang tidak juga silakan. Tapi jangan sampai Anda berjenggot hanya karena mau merasa benar sendiri, paling ‘nyunah’ sendiri, berbuat onar, berjenggot karena politik identitas (sepaket dengam jidat hitam, celana cingkrang, gamis/jubah, gaya bicara antum-akhi). Berjenggot itu silakan tapi diimbangi dengan akhlak dan sikap rendah hati.

Di pesantren dan NU sendiri tidak sedikit juga para kiai atau dai yang berjenggot, tetapi tidak sewot, jenggot yang oleh sebagian nahdliyin diperlihara itu semata-mata karena hanya pemantas saja, tidak dijadikan politik identitas. Nah penjelasan seperti ini yang tidak dipahami oleh orang-orang yang gagal paham semacam Bupati Lampung-Selatan. Apalagi dalam perspektif tasawuf memang demikian, sebagaimana pernah dijelaskan Kang Said dalam acara 1 Jam bersama Kang Said di TV One. Silakan talk shownya ditonton ulang di kanal Youtube.

Terakhir, menyikapi kegagal-pahaman Bupati Lampung Selatan dan orang awam keislaman lainnya tidak usah dengan kemarahan. Warga nahdliyin tidak usah kepancing emosi. Kita maklumi saja. NU dan pesantren ini besar, kita harus sabar menghadapi kebodohan sebagian umat yang lebih fokus pada simbol-simbol daripada substansi Islam sendiri.

Wallaahu a’lam

Mamang M Haerudin (Aa)
GP Ansor Kabupaten Cirebon

Pesantren Bersama Al-Insaaniyyah, 24 Oktober 2017, 10.21 WIB

Comments

comments