Kader PMII Jangan Terbawa Arus, Harus Kritis Sikapi Menguatnya (Konflik) Politik Identitas

205

Cibiru, (ansorjabar online)

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai bagian dari masyarakat sipil harus memiliki sikap kritis ditengah menguatnya politik identitas akhir-akhir ini.

Pernyataan itu disampaikan oleh Sekretaris Majelis Pembina PKC PMII Jawa Barat Dr. Dudang Ghazali MA dalam acara diskusi rutin yang diselenggarakan PMII Komisariat UIN SGD Cabang Kabupaten Bandung, Rabu (05/04/2017) malam, di Sekber PMII, Jalan Manisi, Cibiru, Bandung.

Menurutnya, fenomena ini tidak dapat dipisahkan dari dimensi ekonomi politik global, dimana negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia menjadi target utama negara adidaya untuk diporak-porandakan.

“Siapa yang diuntungkan dari fenomena ini sesungguhnya tidak jelas. Namun, kondisi yang hadir dinegara kita saat ini senantiasa tidak terlepas dari dinamika ekonomi politik global yang berkembang. Karenanya, PMII sebagai elemen masyarakat sipil harus secara kritis menyikapinya”, kata Dudang.

Dalam hal ini, katanya, kader PMII jangan sampai terbawa arus dengan gelombang yang ada. Cara berpikir dan bertindak yang diambil harus tetap berpegang pada cara pandang yang dianut PMII, yakni manhaj Islam ahlussunnah waljamaah dengan segenap nilai-nilainya sebagaiamana yang diajarkan oleh para pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

“Jangan sampai energy kita terbawa gelombang pihak lain. Kita memiliki instrument pengetahuan tersendiri yakni Aswaja dengan nilai tasamuh,tawazun dan ta’adul itu”, ujarnya

Pembicara lainnya Edi Rusyandi mengemukakan, bahwa watak dasar daripada masyarakat Indonesia bukanlah konflik, tapi kehendak pada tatanan harmoni. Jika pun muncul konflik, masyarakat kita memiliki cara dan mekanismenya tersendiri untuk menyelesaikannya. Menurutnya, konflik ideologis-politik maupun agama bukanlah hal yang baru, karena hal demikian pula pernah terjadi dalam sejarah islam Nusantara silam, seperti era Kerajaan Aceh antara Kubu Hamzah Fansuri Vs Nuruddin Arraniri maupun kubu Keraton dan Walisongo dengan Syekh Siti Jenar.

“Semua ihwal konflik itu dapat diselesaikan dan dilokalisir dengan cara masyarakat kita sendiri. Karena karakter masyarakat kita pada dasarnya rukun dan harmoni, bukan perang dan konflik. Dan penyelesainnya tidak dengan pelibatan massa yang justru lebih memperuncing benturan sosial masyarakat”, ujar mantan Ketua PMII Jawa Barat ini.

Baginya, dalam konteks konflik (pemikiran) agama yang muncul saat ini banyak disebabkan oleh konflik (pemikiran) yang terjadi di Timur Tengah, yang imbasnya sampai ke Indonesia.(Rangga Julian Hadi)

Comments

comments