Integrasi Naskah Kuno dan Kajian Sejarah Islam di Nusantara

737

Oleh: Heni Meliyanawati*)

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah!” ungkapan yang paling fenomenal dari sang proklamator bangsa, Bung Karno, sebab sejarah yang membawa kita ada pada masa sekarang, sudah sepantasnya rasa cinta dan hormat tumbuh pada jiwa kita yang diuntungkan dari perjuangan mereka. Cara untuk menumbuhkan kebanggaan sebagai anak bangsa terhadap para pendahulu, salah satunya adalah dengan mempelajari dan memahami berbagai jejak yang telah ditinggalkan, sebagai upaya untuk mewujudkan cita-cita luhur, yakni menjadikan kehidupan bangsa yang lebih baik dan tertata di masa kini dan masa yang akan datang. Totalitas pengalaman dimasa lampau yang penuh dengan suri tauladan bisa dijadikan acuan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi dewasa ini.

Dokumen kesejarahan yang memuat pengalaman-pengalaman penting manusia di masa lampau bukan hanya berasal dari masa kolonial saja, jauh dari itu, berbagai catatan telah ada dari masa pra-sejarah dan masa penyebaran agama Islam di Nusantara, yang termaktub dalam naskah-naskah kuno. Tiap naskah merupakan sebuah saksi dari suatu dunia berbudaya, suatu tradisi peradaban.

Berkaitan dengan naskah, hadir pula istilah teks yang diartikan secara umum berupa kandungan atau muatan suatu naskah yang bersifat abstrak dan hakiki atau kekal (Darsa, 2015:2). Cirebon yang muncul dipanggung sejarah sejak pertengahan abad ke-15 Masehi (lihat Hardjasaputra, 2011:3), pada tahun 1993, telah berhasil mendata sebanyak 200 naskah Cirebon yang menyebar hampir diseluruh daerah di Jawa Barat, sebagian isinya mengandung “nafas-nafas” Islam (Hardjasaputra, 2011:76).

Beberapa teks naskah yang meriwayatkan perjuangan tokoh penyebaran agama Islam di Nusantara, khususnya dari daerah Jawa Barat diperkirakan berlangsung dalam kurun waktu antara abad XVI-XVII yang melibatkan tokoh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), dan para wali lainnya yang termasuk ke dalam kelompok wali songo dan keturunannya (lihat Darsa, 2015:115).

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan tokoh Syeikh Syarif Hidayatullah, atau yang lebih dikenal dengan julukan Sunan Gunung Jati. Namanya yang diabadikan sebagai nama sebuah universitas Islam di Bandung, adalah satu-satunya wali songo yang berasal dari tanah Jawa Barat. Beliau merupakan tokoh sentral yang menjadikan Cirebon sebagai pusat penyebaran agama Islam, yang dalam perkembangannya ajaran Islam mampu mewarnai adat, tradisi, seni, dan corak di kalangan masyarakat secara luas.

Taktik politik dan strategi Sunan Gunung Jati dalam menjalankan pemerintahan sebagai raja sekaligus sebagai salah seorang wali dari wali songo, telah berhasil membawa Cirebon pada masa kejayaan. Kemampuannya menjadi seorang Pandita-ratu berlandaskan pada persyaratan yang dimiliki Sunan Gunung Jati, tertulis dalam naskah Babad Cirebon berdasarkan salah satu versi naskah koleksi Museum Sri Baduga Jawa Barat (lihat Darsa, 1986).

Selain karena kesalehan dan sikap keteladannya, Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam dengan cara yang disukai masyarakat. Dalam penyebarannya, beliau menggunakan berbagai warisan budaya Nusantara sebagai media dakwah, seperti pertunjukan wayang kulit, instrumen gamelan yang dimainkan untuk menarik masyarakat berkumpul saat menjelang waktu sholat Jumat, dan berbagai unsur budaya lain yang diakulturasikan dengan ajaran Islam. Itulah sebabnya Sunan Gunung Jati berhasil membuat agama Islam diterima dengan baik bahkan mampu mempengaruhi hampir segala segi kehidupan masyarakat pribumi, karena Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam dengan cara yang ramah dan benar-benar mencerminkan agama Islam sebagai rahmatan lil’alamin.

Banyaknya teks naskah yang meriwayatkan perjuangan tokoh penyebar agama Islam yang masih terpendam hingga kini, sudah sepatutnya mendapat perhatian lebih khusus dan kajian lebih lanjut melalui pendekatan ilmu pernaskahan. Hal tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk membuka tabir dan mengungkap makna yang terkandung dari masing-masing teks, serta menggairahkan kembali studi naskah Nusantara yang sudah lama “terlantar”.

*Mahasiswa Sastra Sunda dan Kader PMII Rayon Isa Koesoema Soemantri, FIB Unpad.

Bibliografi:
Darsa, Undang A. 1986. Skripsi: Satu Percobaan rekonstruksi Teks Babad Cirebon. Bandung: Program Sarjana Sastra Sunda, FIB Unpad.
______________. 2015. Kodikologi, Dinamika Identifikasi, Inventarisasi, dan Dokumentasi Tradisi Pernaskahan Sunda, Bandung: FIB Unpad.
Hardjasaputra, A. Sobana. Dkk. 2011. Cirebon dalam Lima Zaman (Abad ke-15 hingga Pertengahan Abad ke-20). Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

Comments

comments