Inilah Dua Pendiri NU Tasikmalaya

643

“Barudak, kaula tos kadongkapan Kangjeng Dalem ti Tasik. Saur anjeunna kiwari aya dua kumpulan anyar. Anu hiji ti kulon (AII atau Al-Ittihadijatoel Islamijah atau sekarang dikenal PUI), nu hiji deui ti wetan nyaeta NO atau Nahdlatul Oelama. Kula moal nitah moal nyarek. Tapi asana nu bakal lana mah nu ti wetan. Kieu we pamanggih kula mah mun rek asuk kadinya baca ‘Robbi adkhilni mudkhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin waj’al lii minladunka sulthoona nashiiro’. Baca tilu balik bari ramo leungeun katuhu dempet ku kelek kenca. Mun hate loyog, pek asup kadinya, mun heunteu loyog nyak ulah,” kata KH Aon (Penghulu Besar) dihadapan santri-santrinya di Mangunreja Singaparna Tasikmalaya tahun 1927.

Siapa pendiri Nahdlatul Ulama (NU) atau yang mengenalkan NU ke Tasikmalaya? Ada dua literatur yang dihimpun yakni KH Fadil asal Cikotok Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran (dulu Parigi tahun 1933/Al-Imtisal No 26 masuk Tasikmalaya, kemudian masuk wilayah Kabupaten Ciamis).

Namun menurut salah satu menantu KH Fadil, Hj Enar (85) bahwa KH Fadil berasal dari Plered Cirebon. Adapun ke Cikotok karena mengungsi ketika ada serangan Belanda ke Tasikmalaya tahun 1938.

KH Fadil ke Tasikmalaya karena mengikuti istrinya, Hj Masnuah yang menikah ketika sedang Ibadah Haji di Mekah. Dan satunya lagi menyebut KH Fadil serta KH Oenoeng Qolyubi asal Kampung Madewangi Kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya. KH Oenoeng merupakan sahabat dekat KH Fadil ketika sama-sama di Mekah yang dipertemukan kembali di Tasikmalaya.

Dua sumber menyatakan KH Fadil, yakni Penelitian Maman Abdul Malik Sya’roni dalam “Idhar Ulama Birokrat di Tasikmalaya” (IAIN Sunan Kalijaga 1993), dan Awal Berdirinya NU di Tasikmalaya yang disusun KH A. E Bunyamin, terbitan Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Kota Tasikmalaya Tahun 2014.

Kemudian yang menyatakan KH Fadil dan KH Oenoeng Qalyubi adalah keterangan dari Ringkasan Riwayat Hidup KH O. Qolyubi yang ditulis putranya KH Ahmad Thabibudin pada 27 November 1955. Dalam catatan tersebut, anggota DPR asal Garut, H. Zainal Abidin mengatakan pendiri NU Cabang Tasikmalaya adalah KH O. Qalyubi dan KH Fadil tahuh 1926.

Menarik memang, karena keterbatasan sumber literatur tentang siapa dan kapan pastinya NU Cabang berdiri di Tasikmalaya belum terjawab tuntas. Untuk tahun pendirian pun masih ada dua pendapat yakni tahun 1928 (Penelitian Amin Mudzakir dan KH AE Bunyamin), serta di tahuh 1926 atau bersamaan dengan berdirinya NU di Surabaya. Meski demikian, perbedaan bukan untuk diperdebatkan tapi akan saling melengkapi dikemudian hari.

Dalam catatan ringkas “Riwayat Ngadegna NU Cabang Tasikmalaya” yang ditulis KH Ahmad Thabibudin tahun 1955 dengan bahasa sunda. Diceritakan KH Fadil dan KH Oenoeng menemui para Kiai di Tasikmalaya. Untuk Kiai yang di kota hanya beberapa tempat, kecuali di Singaparna.

Saat NU akan ramai, Kolonial Belanda menakuti-nakuti sampai banyak pengurus dan anggota NU menyerahkan kembali kartu NU. Termasuk di Kampung Madewangi (tempat KH Oenoeng) dari 60 orang tinggal 35 orang. Namun ketika Ketua NU dipegang “Juragan” Ahmad Dasuki, anggota NU kembali banyak. Dan lagi-lagi terus dihalangi Belanda, kemudian banyak yang keluar lagi.

Kemudian KH Oenoeng dan KH Fadil menemui Sutisna Senjaya, guru HIS Pasundan dikediamannya Jalan Kebon Tiwu. Keduanya meminta agar Sutisna Senjaya bersedia jadi Ketua NU. Pertamanya ditolak karena merasa tidak banyak tahu tentang Ilmu Agama, tapi ketika diyakinkan akhirnya menerima. Diadakanlah pertemuan pertama di Masjid Madewangi mengenalkan Sutisna Senjaya ke warga NU Madewangi.

Setelah Sutisna Senjaya masuk, lalu ke Singaparna menemui KH Ruhiyat Cipasung, KH Dahlan Cicarulang serta KH Aon Mangunreja. Akan tetapi, KH Aon menolaknya, termasuk KH Sobandi Cilenga. Namun ketika tahu KH Ruhiyat masuk NU, KH Sobandi pun mengikuti.

Di wilayah Cibeureum, hanya KH Masduki Awipari dan KH Zabidi Nagarakasih yang masuk NU. Meski akhirnya satu persatu pesantren masuk juga.

Ketika NU diketuai Sutisna Senjaya, sempat diganti oleh “Juragan Adjat Sudrajat”, tapi sebentar dan diganti lagi oleh Sutisna Senjaya yang menjadi pelopor pertama dalam jurnalistik NU dengan membuat majalah Almawaidz tahun 1933.

Pasca Sutisna Senjaya, NU dipegangan KH Hulaimi, dan Syuriah oleh KH Ruhiyat Cipasung yang sebelumnya oleh KH Oenoeng Qalyubi. Sejak itu, NU mulai dipimpin anak muda.

Jika ada siapa pendiri atau yang pertama kali mengenalkan NU ke Tasikmalaya, tentu ada yang menjadi pimpinan pertama. Dalam buku Awal Berdirinya NU di Tasikmalaya yang ditulis KH AE Bunyamin, Ketua NU pertama adalah R. Ahmad Dasuki seorang Penghulu Besar Tasikmalaya. Penentuan Ketua NU pertama itu dilakukan dirumah KH Fadil atau rumahnya KH Dimyati di Nagarawangi. Diputuskan untuk Syuriah KH Fadil, Tanfidziyah R. Ahmad Dasuki. (Nurjani)

  • Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Nahdoh PCNU Kota Tasikmalaya Edisi Perdana Februari 2017

Comments

comments