Ini Makna Bela Islam Menurut Kyai Said Agil Siradj

656

Jepara (ansorjabar online)
Salah satu tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama oleh para kiai pada tahun 1926 adalah untuk memperjuangkan agama Islam ahlus sunnah wal jamaah. Itulah yang disebut KH Said Aqil Siraj sebagai amanat NU.

Demikian pendahuluan isi pidato Ketua Umum PBNU tersebut dalam kesempatan Harlah NU ke 94 yang diselenggarakan oleh PCNU Kabupaten Jepara, di alun-alun 2 Jepara, Ahad (16/04/2017).

Amanat NU tersebut sangat mulia bagi umat Islam Indonesia. Karena itulah, kata Kiai Said, cara memperjuangkannya harus dengan jalan yang juga mulia.

Dalam acara yang dirangkai panitia dalam bentuk sepeda santai (diikuti 23.000 pembeli kupon hadiah), Kiai Said mengkritik cara membela Islam yang akhir-akhir ini keluar dari metode dakwah (manhaj) mulia.

“Karena Islam adalah agama yang suci, maka cara membelanya dengan cara yang terpuji,” tutur Kiai Said, “karena agama Islam adalah agama yang mulia, makanya cara membelanya harus dengan yang mulia, tidak main kotor atau kasar,” lanjutnya.

Cara membela Islam bukan dengan demontrasi, tapi dengan akhlaqul karimah. “itu namanya (baru) bela Islam,” simpul Kiai Said. Baginya, bela Islam tapi memusuhi non muslim, apalagi ada tendensi politik, sangat tidak suci dan tidak terpuji.

Kiai Said mengisahkan alasan pindahnya Rasulullah dari Makkah ke Yasrib (Madinah) yang berjarak 480 KM. Mengapa Rasulullah terkesan memaksa pindah ke kota yang jauh jaraknya itu, “ingin membangun masyarakat yang bermartabat,” begitu jawaban Kiai Said.

Praktik bermartabat yang diterapkan Rasulullah di Yasrib, tutur Kiai Said, adalah memperlakukan sama hak dan kewajiban masing-masing pendukuk, baik kaum pendatang maupun pribumi, muslim maupun non muslim.

“Muslim pribumi maupun pendatang, kafir atau musysrik, sama. Karena diperlakukan sama, maka disebut Madinah, dengan prinsip muwathanah (citisenship), “bukan kewarga-agamaan, bukan kewarga-sukuan,” terangnya.

Dan, untuk menjaga persamaan martabat di Madinah itu, setiap khutbah Jumat, Nabi Muhammad SAW selalu mengutip ayat wala udwaan illa ala al dhalimin/tidak boleh ada permusuhan, kecuali kepada mereka yang berbuat aniaya (dhalim).

Kiai Said melanjutkan keterangan makna dhalim dengan, salah satunya, memaksa orang lain untuk masuk Islam atau mengikuti pilihan pendapatnya. Tamsil yang diutarakan Kiai said adalah kernet bus yang menawarkan fasilitas mewah kepada penumpang.

Walaupun lengkap fasilitas busnya, ada AC, video, bahkan rumah makan sekalipun di dalamnya, namun jika cara menwarkan kepada penumpang dengan memaksa, misalnya, “ayo masuk busku, kalau tidak mau, saya hajar, kira-kira Anda mau tidak?” tanya kiai Said dijawab serentak “Tidaaaak”, oleh hadirin.

“Ayo iku Islam, ayo ikut NU, kalau tidak mau, saya sweeping, saya bom, saya teror!” Ajakan berislam begitu, imbuh Kiai Said, justru membuat semakin benci Islam. (Badri)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Comments

comments