INDONESIA INI KENAPA SIH

299

Oleh : Fildzah Amalina Ahli Maysur

Kenapa isu sara lebih disorot ketimbang isu kemanusiaan?
Kenapa media banyak meliput aksi 411 maupun aksi 212 tapi tidak melirik sedikitpun aksi perjuangan masyarakat buruh dan petani yang ada di belahan Majalengka?

Tuhan tidak perlu dibela, Agama tuhan tidak akan hancur sekalipun ada yg berniat melakukannya, malah Agama akan hancur oleh perlakuan yang tidak sesuai oleh pemeluk agama itu sendiri.

Bukannya memanusiakan manusia jauh lebih mulia di mata Tuhan ya?
Andai aksi 212 adalah aksi Bela Rakyat Sukamulya yang saat ini sedang berjuang melawan pembangunan Bandara Internasional Majalengka, itu akan jauh lebih baik dan memanusiakan manusia.

Pembangunan seharusnya lebih mengedepankan kepentingan masyarakatnya, tapi kenapa justru pembangunan infrastruktur besar-besaran mengambil banyak sekali lahan produktif masyarakat?

Pembangunan Bandara Majalengka mengambil lahan masyarakat sebesar 5900 hektar dan itu adalah luas 11 desa yang ada di Majalengka. saat ini 10 desa sudah dieksekusi, sudah ‘dibeli’ dan diambil alih oleh pemerintah tapi masih ada ‘sisa-sisa sedikit’ dari tanah tersebut untuk tempat tinggal dan lahan bertaninya, namun tentu hasil pertanian yang didapatkan tidak sesejahtera dulu. Desa Kerta Sari malah ludes, rata tanah dan tidak tersisa sedikitpun. sekarang tinggal satu desa lagi, yaitu desa Sukamulya yang memiliki luas sekitar 750 hektar dengan 600 hektar diantaranya adalah lahan sawah yang sangat sangaaat produktif.

Bayangkan saja, sukamulya ini setiap tahunnya ‘nandur’ sebanyak tiga kali. dua kali nanam padi dan satu kali nanam palawija/cabai/timun. hasil yang didapatkannya pun begitu luaarr biasaa. satu hektarnya saja sudah menghasilkan 7 ton gabah kering atau sekitar 8,9 gabah basah, hmm apa masih tega mengusir dan melenyapkan mereka?

Sejak tahun 2013 sampai tahun 2015 Sukamulya sudah menjadi incaran untuk penggusuran ini, namun masyarakat tetap bertahan mempertahankan tanah emasnya itu.

Tiba sampai pada Bulan November 2016 tanggal 17 kemarin. Tanpa proses sosialisasi dan dialog sebelumnya, Sekitar 2400 aparat TNI dan polisi datang menyerbu sukamulya untuk agenda mengukur lahan di sukamulya. tentu polisi ini bukan hanya dari Majalengka, tapi dibantu oleh polisi dari Cirebon dan Sumedang. Masyarakat Sukamulya yang mayoritas adalah petani maka segera mengambil sikap dan melakukan negosiasi kepada aparat. Tapi sampai siang hari tiba, negosiasi gagal. kemudian terjadi bentrokan antara aparat dan warga sukamulya ini.

Totalitas untuk membela dan mempertahankan tanah sukamulya dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat yang ada disana. Sayang, aparat tidak berprikemanusiaan sedikitpun. banyak ibu-ibu yang maju ke depan dan melawan aparat, aksinya tergolong nekat karena mereka bahkan berani ‘bugil’ di depan aparat untuk mengamankan dan menahan aparat untuk beraksi.

Tapi apa yg kemudian dilakukan oleh aparat? mereka justru menembakkan dua kali gas air mata sebagai peringatan dan kemudian tembakan selanjutnya mereka langsung menembaki warga yang aksi, manusiawi? sangat tidak. Ibu-ibu yang tadi ‘beraksi di depan aparat’ malah pingsan karena tidak kuat dgn tembakan gas air mata yang mengganggu penglihatan dan pernafasannya.

Aksi 17 November menghasilkan 12 orang sampai luka-luka dan ada beberapa warga yang ditangkap dengan alasan dan sebab yang tidak jelas, karena alasannya masing-masing berbeda. Bagaimana dengan respon pemerintah atas aksi 1711 ini? Hmm, miris sih memang, karena bahkan tanggal 22 November Presiden Jokowi dengan tegas mengatakan bahwa “Saya tidak akan mundur dari pembangunan infrastruktur”.

Pembangunan infrastruktur memang tidak salah, sangat baik dan bermanfaat malah. Tapiiiii, coba kita lihat lagi, kenapa pembangunan tersebut harus didirikan di lahan yang sangat produktif? jika seperti ini ya tentu tidak akan ada lagi pembicaraan tentang ‘Ketahanan Pangan’ di Indonesia, lah wong lahannya habis ko. belum digusur lahannya saja sudah gila ko, sudah impor pangan dari vietnam sebanyak lima kali ko. kalo lahan di gusur? kita bisa apa lagi????

Ayo lah sahabat, kita lebih ‘melek’ dengan masalah yang ada di sekitar kita. lebih ‘peka dan peduli’ juga memanusiakan manusia yang ada disekeliling kita.

Mari bantu warga sukamulya yang saat ini sedang mengalami musibah dan efek yang tidak biasa. karena dengan tragedi 17 -11 kemarin, tidak sedikit warga di desa tersebut yang ‘trauma’ dengan aksi saat itu.

Mereka butuh kita, mereka butuh sahabat untuk berjuang, mereka tidak akan mungkin berjalan sendiri, mereka adalah bagian dari kita, mereka adalah keluarga kita, lalu apa kita masih tetap diam mengetahui semua ini?

Tanggal 11 desember nanti akan ada acara solidaritas dan bentuk pembelaan dan pertahanan di Sukamulya. saya sendiri ingin membuat sebuah gerakan 1211 (bulan 12 tanggal 11) yang bisa dinamakan sebagai gerakan R1 1 atau RI 1. wujud bela dan solidaritas tehadap sukamulya yang semoga menjadi panggilan untuk sahabat-sahabat agar bergerak dan segera melakukan langkah terbaik untuk sukamulya.

Sukamulya adalah Indonesia, Sukamulya adalah Kita.
Damai untuk Sukamulya, 11 Desember untuk RI 1.

*Wakil Ketua 2 Bidang Eksternal PMII Komisariat UNPAD
Penulis : Fildzah Amalina Ahli Maysur (Wakil Ketua 2 Bidang Eksternal PMII Komisariat UNPAD)

comments